Oleh: Worksite Pelita Hati | Oktober 12, 2011

Ihsan, Tasawuf, dan Psikoterapi

DR. Nurcholis Madjid

Dalam kaitannya dengan pendidikan akhlaq mulia kita melihat hubungan ihsan dengan ajaran kesufian atau tasawuf. Menurut K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, dengan mengutip Kitab Futuhat al-Ilahiyyah, ada delapan syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang akan menjalankan thariqat:

Qashd shahih, artinya, dalam menjalani thariqat itu ia harus mempunyai tujuan yang benar, yaitu niat menjalaninya sebagai ubudiyyah, yakni penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Benar (al-Haqq), dan berniat memenuhi haqq al-rubbiyyah, yakni hak Ketuhanan Allah Ta’ala, bukan untuk meraih keramat atau pangkat, juga bukan untuk memperoleh hasil yang bersifat nafsu seperti ingin dipuji orang lain dan seterusnya;

Shidq sharif, artinya kejujuran yang tegas, yaitu bahwa murid harus membenarkan dan memandang gurunya sebagai memiliki rahasia keistimewaan (sir al-khushushiyyah) yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi atau hadlrat al-Ilahiyyah;

Adab mardliyyah, artinya, tatakrama yang diridhai, yaitu bahwa orang yang mengikuti thariqat harus menjalankan tatakrama yang dibenarkan ajaran agama, seperti sikap kasih sayang kepada orang yang lebih rendah, menghormati orang lain sesamanya dan yang lebih tinggi, sikap jujur, adil dan lurus terhadap diri sendiri, dan tidak memberi pertolongan kepada orang lain hanya karena kepentingan diri sendiri;

Ahwal zakiyyah artinya, tingkah laku yang bersih, yaitu bahwa orang masuk thariqat tersebut tingkah lakunya dan ucapan-ucapannya harus sejalan dengan syari’at Nabi Muhammad Saw.;
Hifz al-hurmah, artinya, menjaga kehormatan, yaitu bahwa orang yang mengikuti thariqat harus menghormati gurunya, hadir atau gaib, hidup atau pun mati, dan menghormati sesama saudara pemeluk Islam, tabah atas sikap-sikap permusuhan saudara, dengan menghormati orang yang lebih tinggi dan cinta kasih kepada orang yang lebih rendah;

Husn al-khidmah, artinya, orang yang masuk thariqat harus mempertinggi mutu pelayanannya kepada guru, pada sesama saudara pemeluk Islam, dan kepada Allah Swt. Dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya al-shiddiq-un dan itulah al-maqshud al-a’dzham (tujuan agung)mengikuti thariqat;

Raf’ al-himmah, artinya, mempertinggi mutu tekad hati, yaitu bahwa orang masuk thariqat tidak karena tujuan-tujuan dunia dan akhirat tapi karena hendak mencapai ma’rifat khashshah (ma’rifat atau pengetahuan khusus atau istimewa) tentang Allah Swt.;

Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: Worksite Pelita Hati | Oktober 12, 2011

Iman, Islam Dan Ihsan

Pada saat Malaikat Jibril bertanya tentang konsep Iman, Islam dan Ihsan, Rasulullah SAW menjawab :”Bahwa Iman ialah hendaklah Engkau mengimankan Allah, Malaikat Allah, Kitab kitab Allah, para Uusan Allah, Hari Qiyamat, dan mengimankan Taqdir, baik dan buruknya adalah ketentuan Allah. Islam ialah hendaklah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah, dan nabi Muhammad adalah UtusaNYA, mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, berpuasa Ramadhan, dan berangkat Haji bila telah mampu. Sedangkan Ihsan yaitu hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihatNYA, apabila tidak bias demikian ,maka sesungguhnya Allah melihat engkau”.

Melihat makna Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari diatas, Iman berarti kepercayaan hati dibarengi dengan membenarkan segala apa yang disampaikan Rasulullah. Islam berarti kepatuhan dan penyeragan lahiriyah dengan mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ihsan berarti, kejernihan dan keihlasan hati beribadah karena Allah dengan sungguh sungguh. Antara ketiga kekuatan itu saling kerja sama dan saling membutuhkan dalam mencapai puncak kerelaan Allah.

Iman sebagai landasan Islam dan Ihsan, Islam sebagai bentuk manifestasi Iman dan Ihsan, sedangkan Ihsan mengusahakan agar keimanan dan keislaman yang sempurna. Secara lahiriyah orang tidak dapat dikatakan Islam manakala tidak mengucapkan syahadat, ibadah shalat, zakat berpuasa ramadhan, dan menunaikan haji yang merupakan pelaksanaan Ihsan secara lahiriyah, atau kesempurnaan Islam itu sama sekali tidak berarti, jika tidak dilandasi Iman ( Tashdiq ) dan Islam ( membaca syahadat ). Ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan lain lain akan menjadi berarti manakala ada Iman dan Islam, karena syarat Ihsan secara lahiriyah harus dengan Iman dan Islam, meskipun sahnya Iman dan Islam itu tidak harus dengan Ihsan.

Memang Iman dan Islam itu otonom jika dilihat dari keabsahanya, karena Iman dan Islam sudah merupakan jaminan keselamatan dunia dan ahirat. Iman yang benar dapat menyelamatkan dari keabadian siksa Neraka, sedangkan Islam dapat menjaga hak hidup lahiriyah yang berhubungan dengan agama dan Mu’amalah, Munakahat, Waris mewaris dan lain sebagainya. Tetapi kemungkinan Iman dan Islam itu akan menjadi kering kerontang, bahkan musnah sama sekali dari lubuk hati, manakala tidak mengakui atas segala dosa dosa yang telah dilakukanya, karena suatu dosa lambat laun akan menyeret pelakunya pada kekufuran, jika tidak lekas di taubati.  Oleh sebab itu sebagai Mukmin yang baik disamping beriman dan berislam, hendaklah melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah SWT, secara sadar, agar memperoleh Ihsan yang sebenarnya.

  Baca Lanjutannya…

Oleh: Worksite Pelita Hati | Agustus 22, 2011

Puasa Membentuk Pribadi Bersyukur

Jika kita renungkan ayat yang mengandung perintah berpuasa Ramadhan, maka akan kita temukan pula bahwa salah satu tujuan berpuasa adalah agar kaum mukminin menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Di manakah hal itu termaktub? Tidak jauh-jauh dari ayat paling populer di bulan Ramadhan (Qs. Al Baqarah : 183), ia berada di Qs. Al Baqarah ayat 185.Sebenarnya ayat ini juga menjadi landasan pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan, namun ia kalah tenar dengan ayat sebelumnya. Jika di ujung ayat 183 Allah menyuruh kaum mukminin berpuasa agar menjadi bertaqwa (la’allakum tattaqun), maka di ujung ayat 185 Allah menjadikan puasa Ramadhan dimana Al Qur’an diturunkan di dalamnya agar kaum mukminin menjadi bersyukur (la’allakum tasykurun). “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dalam al Qur’an terdapat tidak kurang dari 49 ayat yang berkenaan dengan kata syukur. Hal ini menunjukkan bahwa masalah syukur harus mendapat perhatian penting dari kaum mukminin.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Worksite Pelita Hati | Juli 7, 2011

Tanda-Tanda Ikhlas

Fit-Thariq Ilallah: An-Niyyah wal-Ikhlas, Dari. Yusuf al-Qaradhawi

Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan tanda-tanda yang banyak sekali, contohnya dalam kehidupan orang yang mukhlis; dalam tindak-tanduknya, dalam pandangan terhadap dirinya dan juga orang lain. Di antaranya adalah:
Pertama: Takut Kemasyhuran

Takut kemasyhuran dan menyebarnya kemasyhuran ke atas dirinya, lebih-lebih lagi jika dia termasuk orang yang mempunyai pangkat tertentu. Dia perlu yakin bahawa penerimaan amal di sisi Allah hanya dgn cara sembunyi-sembunyi, tidak secara terang-terangan dan didedahkan. Sebab andaikata kemasyhuran seseorang memenuhi seluruh angkasa, lalu ada niat tidak baik yang masuk ke dalam dirinya, maka sedikit pun manusia tidak memerlukan kemasyhuran itu di sisi Allah.

Maka dari itu zuhud dalam masalah kedudukan, ke

masyhuran, penampilan dan hal-hal yang serba gemerlap lebih besar darip zuhud dalam masalah harta, syahwat perut dan kemaluan. Al-Imam Ibn Syihab az-Zuhri berkata: “Kami tidak melihat zuhud dalam hal tertentu yang lebih sedikit darip zuhud dalam kedudukan. Engkau melihat seseorang berzuhud dalam masalah makanan, minuman dan harta. Namun jika kami membahagi-bahagikan kedudukan, tentu mereka akan berebut dan meminta lebih banyak lagi.”

Inilah yang membuat para ulama salaf dan orang-orang shaleh antara mereka mengkhuatirkan dan menyangsikan hatinya dari ujian kemasyhuran, penipuan dan kedudukan. Oleh kerana itu mereka memperingatkan hal ini kepada murid-muridnya. Para pengarang buku telah meriwayatkan dalam pelbagai gambaran tentang tingkah laku ini, seperti Abu Qasim a-Qusyairi dalam ar-Risalah, Abu Thalib al-Makky dalam Qutul-Qulub, dan al-Ghazali di dalam al-Ihya’.

Begitu pula yang dikatakan seorang zuhud yang terkenal, Ibrahim bin Adham, “Allah tidak membenarkan orang yang suka kemasyhuran.”

Beliau juga berkata, “Tidak sehari pun aku berasa gembira di dunia kecuali hanya sekali. Pada suatu mlm aku berada di dalam masjid salah satu desa di Syam, dan ketika itu aku sdg sakit perut. Lalu muazzin dtg dan menyeret kakiku hingga keluar dari masjid.”

Beliau berasa senang kerana muazzin tersebut tidak mengenalinya. Maka dari itu beliau diperlakukan secara kasar, kakinya diseret seperti seorang pesakit. Beliau meninggalkan kedudukan dan kekayaannya kerana Allah. Sebenarnya ketika itu beliau tidak ingin keluar jika tidak sakit.

Seorang zuhud yang terkenal, Bisyr al-Hafy berkata, “Saya tidak mengenal orang yang suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina.”

Beliau juga berkata, “Tidak akan merasakan manisnya kehidupan akhirat orang yang suka terkenal di tengah manusia.”

Seseorang pernah menyertai perjalanan Ibn Muhairiz. Ketika hendak berpisah, orang itu berkata, “Berilah aku nasihat.”

Ibn Muhairiz berkata, “Jika boleh hendaklah engkau mengenal tetapi tidak dikenal, berjalanlah sendiri dan jangan mahu diikuti, bertanyalah dan jangan ditanya. Lakukanlah hal ini.”

Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Seseorang tidak berniat secara benar kerana Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukannya.”

Khalid bin Mi’dan adalah seorang ahli ibadah yang dipercayai. Jika semakin ramai orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya, maka beliau pun beranjak pergi krg takut dirinya menjadi terkenal.

Salim bin Handzalah menceritakan, “Ketika kami berjalan secara beramai-ramai di blkg Ubay bin Ka’ab, tiba-tiba Umar melihatnya lalu melemparkan susu ke arahnya.”

Ubay bin Ka’ab lalu bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah yang telah engkau lakukan?”

Jawab Umar, “Sesungguhnya kejadian ini merupakan kehinaan bagi yang mengikuti dan ujian bagi yang diikuti.”

Ini merupakan perhatian Umar bin al-Khattab secara psikologi terhadap fenomena yang pada permulaannya boleh menimbulkan kesan dan pengaruh yang jauh terhadap kejiwaan orang-orang yang mengikuti dan sekaligus orang yang diikuti.

Diriwayatkan dari al-Hasan, beliau berkata, “Pada suatu hari Ibn Mas’ud keluar dari rumahnya, lalu diikuti beberapa orang. Maka beliau berpaling ke arah mereka dan berkata: “Ada apa kamu mengikutiku? Demi Allah, andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dpt mengikutiku.”
Baca Lanjutannya…

Oleh: Worksite Pelita Hati | Juli 5, 2011

Wara’ & Tawadhu

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Thariqat  ini bukanlah jalan kependetaan, tidak makan gandum  dan kurma  atau  makanan  yang direbus. Tetapi  thariqat  ini  adalah kesabaran, keyakinan dan hidayah. Allah Swt. berfirman:
“Kami  jadikan mereka para pemimpin yang memberi petunjuk  dengan perintah  Kami, ketika mereka bersabar, dan mereka  yakin  dengan ayat-ayat  Kami.  Sesungguhnya Tuhanmu  adalah  yang  memisahkan antara mereka di hari kiamat atas apa yang mereka perselisihkan.”

Inilah benteng yang mulia, bagi seorang yang mulia yang  memiliki lima karakter: kesabaran, ketaqwaan, wara’, yakin dan ma’rifat.
Sabar ketika disakiti; takwa ketika tidak disakiti, wara’ terhadap  apa  yang keluar dan masuk dari sini  (mulutnya),  sementara dalam  hati tidak bergejolak kecuali gejolak cinta  kepada  Allah dan Rasul-Nya; yakin dalam rizki dan ma’rifat terhadap Allah Swt, dimana  ma’rifat  itu tak akan  menggelicirkan makhluk  manapun.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Worksite Pelita Hati | Juli 5, 2011

Tasawuf dan Cara Pandang Interdisipliner

Dr. KH. Said Aqil Siraj
Saat ini, agaknya dirasakan baik dalam teoritis maupun praktis, membuncahnya pola pemikiran yang cenderung bersifat sporadis, hiperspesialis, sektarian, dan skismatis.

Akibatnya, kenyataan yang terpampang terlihat “miris” dan tak rentan dari bentuk-bentuk sikap dan perilaku yang afinitatif dan bahkan konfliktual. Tentu saja, ini amat jauh dari kerinduan abadi (gharizah) bagi setiap individu untuk mencitakan kehidupan yang harmonis, rukun-sejahtera, dan penuh dengan cinta kasih.

Kondisi skismatis tersebut rasanya sudah merata dari hulu ke hilir. Dalam dunia akademis pun, dirasakan belum terwujudnya suatu kerangka pikir yang integratif-holistik. Betapa pun, banyak disiplin ilmu di dunia akademis yang diajarkan, ternyata belum mampu membawa para terdidiknya untuk bisa memahami indahnya berhubungan secara lintas disiplin ilmu (interdisipliner). Yang terpampang adalah kenyataan saling merasa superior (istihqar) dengan disiplin ilmunya.

Para filsuf muslim seperti al-Kindi, Ibnu Sina, al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajjah atau Ibnu Thufail adalah para ‘generalis’ yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Mereka tekun dan berdedikasi tinggi terhadap ilmu dan praksis kemasyarakatan. Pola pemikiran yang mereka bangun bersifat integral dengan menyatukan berbagai ilmu. Usaha yang mereka lakukan itu akhirnya membuahkan kesadaran bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah kemanusiaan dan ketuhanan.

Pada sisi lain, dalam soal perkembangannya, iptek dewasa ini telah memunculkan berbagai reaksi keilmuan dengan ikhtiar melakukan upaya integralisme. Ilmu pengetahuan dipandang telah berjalan sendiri-sendiri. Munculnya gerakan Holisme yang dieksponeni oleh Fritjof Capra misalnya membuktikan kenyataan saling silang antarilmu. Gerakan ini malah memasukkan unsur-unsur pemikiran Timur dan hikmah kaum sufi dalam formulasi ilmu pengetahuan.

Berkaca Pada Kaum Sufi

Kaum sufi telah mengungkapkan suatu pola pikir, sikap, dan perilaku yang amat konstruktif bagi penataan dan pengembangan aspek kemanusiaan dan keilahiaan. Kaum sufi senantiasa melakukan formulasi kedirian melalui wilayah privat yang kemudian mampu memberikan dampak eksternal yang luar biasa pada wilayah publik. Kehadiran tasawuf di tengah-tengah kehidupan sosial dan kultural masyarakat senantiasa menampilkan sebagai suatu kekuatan bagi “revolusi spiritual” (tsaurah al-ruhiyah). Suatu kekuatan yang sangat eksplosif dalam meretas segala bentuk penyimpangan moral dan sosial, sekaligus sebagai pemicu bagi ghirah kebangkitan pengetahuan.

Dalam tasawuf, pengolahan pengetahuan dihampiri secara esoteris (bathini). Sebab, pengetahuan esoteris ini dipandang sebagai basis bagi pengembangan keilmuan yang eksoteris (dzahiri). Dalam merengkuh pengetahuan diperlukan suatu kejernihan batin, sehingga akan memancarkan cahaya bening dalam menangkap berbagai pernik kenyataan. Apa yang diberikan dalam tasawuf seperti latihan fisik (riyadhah) dan latihan batin (mujahadah) sesungguhnya merupakan perangkat bagi pengembangan kedirian yang punya kebertautan dengan aspek penataan moral dan pengembangan pengetahuan.

Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori