Oleh: Worksite Pelita Hati | Juli 5, 2011

Wara’ & Tawadhu

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Thariqat  ini bukanlah jalan kependetaan, tidak makan gandum  dan kurma  atau  makanan  yang direbus. Tetapi  thariqat  ini  adalah kesabaran, keyakinan dan hidayah. Allah Swt. berfirman:
“Kami  jadikan mereka para pemimpin yang memberi petunjuk  dengan perintah  Kami, ketika mereka bersabar, dan mereka  yakin  dengan ayat-ayat  Kami.  Sesungguhnya Tuhanmu  adalah  yang  memisahkan antara mereka di hari kiamat atas apa yang mereka perselisihkan.”

Inilah benteng yang mulia, bagi seorang yang mulia yang  memiliki lima karakter: kesabaran, ketaqwaan, wara’, yakin dan ma’rifat.
Sabar ketika disakiti; takwa ketika tidak disakiti, wara’ terhadap  apa  yang keluar dan masuk dari sini  (mulutnya),  sementara dalam  hati tidak bergejolak kecuali gejolak cinta  kepada  Allah dan Rasul-Nya; yakin dalam rizki dan ma’rifat terhadap Allah Swt, dimana  ma’rifat  itu tak akan  menggelicirkan makhluk  manapun.

“Bersabarlah karena akibat baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan janganlah kamu gelisah atas (tindakan) mereka, dan jangan pula kamu  merasa sumpek atas cobaan Allah, sesungguhnya  Allah bersama-sama orang-orang  yang  bertaqwa  dan  orang-orang  yang berbuat baik.”

Wara’ adalah adalah jalan terbaik bagi mereka yang ingin  memetik warisannya  dan menginginkan pahalanya. Wara’ bagi mereka  terlah berpangkal  kepada  upaya  meraih dari Allah  dan  kepada  Allah, berucap bersama Allah dan beramal bagi dan demi Allah, atas  dasar kejelasan  bukti dan ketajaman mata hati yang baik. Mereka  pada seluruh waktunya dan seluruh kondisi ruhaninya tidak ikut  campur, mengatur dan memilih, mereka tidak berkehendak dan tidak  berfikir, tidak melihat dan tidak berbicara, tidak memukul, tidak berjalan dan tidak bergerak kecuali bersama Allah dan bagi Allah.
Hanya  saja  mereka tidak tahu, ilmu telah mengusir  mereka  dari persoalan  yang  sebenarnya.  Mereka  berkumpul dalam  integrasi nyata, dimana mereka tidak membeda-bedakan mana yang lebih tinggi, lebih rendah dan lebih rendah lagi.”

Tawadhu’
Sebutlah sebagai suatu  “kebahagiaan” pada seseorang yang mengenal  Allah dan bertawadhu’ kepada Ahlullah, walaupun ia tidak mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan Ahlullah. Dan sebutlah sebagai “bencana”, pada orang yang mengingkari Allah dan bertakabur pada Ahlullah, walaupun ia melakukan sebagaimana tindakan Ahlullah.

Aku  pernah pergi menuju taman dengan para muridku di kota  Tunisia.  Kemudian aku kembali ke kota itu dengan  menaiki  kendaraan himar. ketika kami mendekati kota, mereka turun dan mereka merasa lesu. Mereka katakan, “Tuanku, turun saja di sini.” Aku bertanya, “Mengapa?” Mereka menjawab, “Inilah kota, kami malu memasuki kota ini hanya dengan naik himar.” Lalu kujejakkan kaki, dengan maksud mengikuti  saja apa kehendak mereka. Tiba-tiba muncul suara  pada diriku. “Sesungguhnya  Allah tidak menyiksa orang  yang  mencari keringanan yang  disertai tawadhu’. Tetapi Allah  menyiksa  pada orang yang mencari keringanan yang disertai kesombongan.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: