Oleh: Worksite Pelita Hati | Agustus 11, 2010

Puasa & Metamorfosa Spiritual

Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Rasa lapar laksana bumbu bagi orang-orang beriman, sarana penguat jiwa, makanan bagi kalbu dan penunjang bagi kesehatan.” 1]

Puasa bagi beberapa hewan atau serangga menjadi salah satu sarana untuk melakukan transformasi diri lewat metamorfosa biologis sehingga mereka dapat mengubah wujudnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Seperti seekor ulat yang “menjijikkan”, ketika ia ingin mengubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu yang indah, maka ia mesti melakukan puasa selama 40 hari 40 malam. Sang ulat akan ber-“khalwat” di dalam kepompong sampai hari terakhir, dimana akhirnya dia akan memiliki sepasang sayap indah dan ia pun dapat terbang dengan lincah. Ular pun mesti berpuasa jika ia ingin memperoleh kulit baru yang lebih indah.

Adapun manusia melakukan transformasi diri-nya lewat puasa lebih menitik beratkan pada metamorfosa ruhani ketimbang jasadi.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Nabi Musa as diharuskan berpuasa selama 40 hari sebelum ia menerima Kitab Taurat. Al-Quran yang mulia menyebutkan, “Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya 40 malam.” (QS al A’raaf [7] ayat 142)

Di dalam tafsir-tafsir mu’tabar seperti Futuhat al-Ila­hiyah, al-Khazin, dan al-Maraghi, dan Tafsir Singkat Ayatullah Makarim Syirazi, Allah menyuruh Musa as berpuasa dan berkhalwat di bukit Thursina.

Para Nabi as, termasuk Nabi Isa as pun melakukan puasa apabila beliau hendak melakukan hal-hal penting. Nabi Yunus as pun berpuasa selama 40 hari 40 malam di dalam perut ikan Nun.

Namun kita, umat Islam diwajibkan berpuasa cukup hanya 30 hari, dan itu pun hanya di siang hari. Namun demikian cukuplah memadai pada masa itu manusia melakukan transformasi ruhaninya yang tidak sekadar menahan lapar, haus dan nafsu seksual saja.

Rasulullah Saww bersabda, “Bisa saja orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan haus saja dari puasanya dan bisa juga orang yang shalat malam hanya mendapatkan keterjagaannya saja dari shalat malamnya.” 2]

Jika ulat dan ular sanggup berpuasa secara total selama 40 hari 40 malam, maka semestinya manusia sanggup melakukan lebih dari itu, namun Allah Swt hanya mewajibkan kaum Muslim untuk melakukan dengan cara yang lebih ringan, walaupun faktor ruhani tidak bisa diabaikan begitu saja.

Nabi Isa as bersabda, “Demi Allah! Adalah suatu yang tercela, apabila seseorang mencegah dirinya dari makan, namun ia memenuhi ruh-nya dengan kesombongan sambil memandang rendah kepada orang-orang yang tidak berpuasa dan menganggap dirinya lebih baik dari mereka!” 3]

Ada perbedaan kata yang digunakan al-Qur’an untuk peribadatan atau ‘íbadah. Salah satu derivasinya adalah kata ‘ubudiyyah, yang berarti ungkapan kerendahan hati atau pengakuan rasa bersalah. Namun kata ‘ibadah sendiri memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar kerendahan hati. Walau pun demikian kerendahan hati menjadi dasar segala perwujudan ‘ibadah. Jadi, konsep ‘ibadah di dalam Islam berimplikasi pada kerendahan hati. Implikasi ini merupakan bagian yang paling esensial dari ajaran akhlaq Islam. Oleh karena itu, sikap sombong, congkak dan angkuh bertentangan dengan peribadatan dan akhlak Islam.

Jadi jika kita beribadah namun justru melahirkan sikap arogan, congkak dan rasa bersih diri, maka ibadah seperti itu justru menjauhkan dari Yang Maha Pengasih dan sebaliknya mendatangkan murka-Nya.

TRANSFORMASI DIRI LEWAT PUASA KALBU

Jika seseorang berharap bisa mengubah jiwa dan ruhnya menjadi lebih baik dan lebih tercerahkan bak seekor ulat yang ingin mengubah dirinya menjadi kupu-kupu, seseorang tidak bisa hanya berpuasa dari nafsu perut dan seksnya. Ia juga mesti berpuasa dari pikiran-pikiran buruk.

Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Puasa kalbu dari pikiran-pikiran berdosa lebih utama ketimbang puasa perut dari makanan.” 4]

Puasa hati lebih baik dari puasa lisan, puasa lisan lebih baik dari puasa perut.” 5]

Puasa jiwa dari kelezatan-kelezatan duniawi adalah puasa yang paling bermanfaat.” 6]

Konon Nabi Isa as juga pernah mengatakan, “Kosongkanlah perutmu dan tanggalkanlah keinginan-keinginan jasadmu agar hatimu dapat melihat Allah.” 7]

Manusia modern lebih suka berpaling ke budaya Barat ketimbang budaya orang-orang shalih. Mereka sibuk memenuhi makanan bergizi bagi putra-putri mereka seraya mengabaikan gizi iman dan taqwa.

Sesungguhnya jika kita adakan penelitian dengan seksama, orang lebih banyak mati karena banyak ragamnya makanan yang masuk ke dalam perutnya ketimbang karena perut yang kosong karena kekurangan makanan.

Walaupun begitu ini bukan sebuah apologia bagi pembenaran atas tindakan kaum penindas, koruptor dan manipulator. Adalah berbeda orang yang mendidik diri dengan berlapar diri dengan orang-orang yang menderita kelaparan akibat tindakan kaum penindas yang merampas hak-hak orang miskin.

Imam Ja’far al-Shadiq as berujar, “Tak satupun yang lebih memudaratkan orang-orang mu’min ketimbang banyaknya makan, karena yang demikian itu mewariskan dua kejelekan : kesatnya hati dan bangkitnya syahwat.” 8]

Jangan berpura-pura menjadi lilin,
jadilah kupu-kupu.
akan kau hirup harum Kehidupan.
akan kau rangkul gagah pengabdian

~ Rumi 9]

Catatan Kaki :
[1] Imam Ja’far al-Shadiq, Misbah al-Syari’ah. Jami’ al-Ahadits
[2] Bihar al-Anwar 96:289
[3] Injil Barnabas, Pasal 107
[4] Mizan al-Hikmah 5:470
[5] Ibid hlm. 471
[6] Ibid.
[7] Jami’ al-Sa’adat 2:7
[8] Ibid 2:6
[9] Matsnawi : 414

sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: