Oleh: Worksite Pelita Hati | Agustus 11, 2010

Puasa Menjinakkan Ego Personal Kita

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Ada pun alasan (‘illat) Allah mewajibkan puasa adalah untuk menyamakan si kaya dengan si fakir. Karena sesungguhnya si kaya tidak (pernah) merasakan nestapa lapar (sebagaimana yang dirasakan oleh si fakir), sehingga karenanya si kaya dapat mengasihi (yarham) si fakir. Karena setiap si kaya menginginkan sesuatu, maka dia dapat memenuhi keinginannya itu. Maka (dengan puasa) Allah ‘Azza wa Jalla hendak menempat­kan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya agar (turut) merasakan (an yadzîq) nestapanya lapar (al-ju’) dan kepedihan (al-alam), sehingga ia menaruh belas kasih (raqqa) kepada orang yang lemah dan mengasihi (yarham) orang yang lapar.” 1]

MERASAKAN NESTAPA LAPAR DAN KEPEDIHAN

Puasa mengajarkan kita untuk berempati, memproyeksikan perasaan kita pada satu objek lain; yaitu merasakan kepedihan rasa lapar dan pedihnya merasakan tak mempunyai satu pun yang dibutuhkan oleh kita. Di sinilah sensitifitas kita diasah.

Tanpa turut merasakan derita lapar hampir mustahil kita dapat merangsang munculnya empati kita pada mereka yang mengalami penderitaan. Dan saat kita merasakan betapa pedihnya nestapa lapar serta sengsaranya rasa haus, diharapkan kita dapat segera mengingat penderitaan orang lain. Dengan penderitaan lapar itulah, al-ghaniy 2] diharapkan dapat menekan ego personal mereka.

Bagaimana pun rasa sakit dan rasa pedih sering menyentakkan kesadaran kita, yang pada mulanya asyik dengan diri sendiri (ego sentris), yang kemudian melalui kesadaran seperti ini paling tidak sudut pandang kita berubah, dari egois menjadi peduli akan penderitaan orang lain.

Allah Swt ingin menyamakan si kaya dengan si miskin, atau dengan kata lain Dia ingin menyatukan tali kasih antara keduanya.

Leo Tolstoy mengatakan, “Secara lahiriah kita makhluk yang terpisah, tetapi secara spiritual kita berhubungan erat dengan semua makhluk hidup yang ada. Kita dapat merasakan sebagian getaran dunia spiritual ini; yang sebagian belum sampai kepada kita, namun getaran-getaran itu bergerak sebagaimana getaran sinar bintang-gemintang yang jauh sedang bergerak mengitari alam raya; bintang-bintang itu bergerak meskipun tidak terlihat oleh mata kita.” 3]

Dengan rasa lapar itu pun Allah swt berharap kita semakin menyadari makna sabda Rasululullah Saw, “Tidaklah beriman seseorang sehingga dia mencintai manusia sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dari hartanya (al-khayr).” 4]

Imam Ja’far al-Shadiq as juga mengatakan, “Seorang mu’min tidak akan menjadi sebenar-benar mu’min selamanya sampai dia menjadikan saudaranya seumpama jasad yang satu, jika dipukul satu uratnya maka seluruh urat tubuhnya turut merasakan sakit.” 5]

Ajaran Rasulullah saw dan Imam al-Shadiq as ini insya Allah menyadarkan kita bahwa kita dan saudara-saudara kita yang mengalami derita akibat bencana gempa di Bengkulu, Padang dan mereka yang menderita kelaparan serta kemiskinan adalah satu.

Kita adalah bagian dari mereka, sebagaimana mereka pun adalah bagian dari diri kita. Perasaan bahwa kita adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dari masyaraklat manusia lainnya ini mesti tumbuh setelah kita menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini.

Jika perasaan seperti ini tidak tumbuh juga di dalam kalbu setelah kita mengalami lapar dan haus dalam puasa kita maka bukan saja keberadaan iman kita diragukan namun yang lebih berbahaya lagi adalah jika hati kita telah mati. Perasaan kita tak lagi tergerak oleh erang sakit atau desah pilu orang-orag yang membutuhkan bantuan kita. Na’udzubillah…kita berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu.

Saya tertarik pada sebuah aforisma yang telah diucapkan Bunda Teresa. Dia mengatakan, “Saya katakan kepada kamu satu hal : Janganlah bosan untuk memberi, tetapi janganlah memberi dari sisa-sisamu. Berikanlah sehabis-habisnya, sampai kamu sendiri merasakan penderitaan itu!” 6]

Allah Swt sendiri juga berfirman dalam Al-Quran yang suci : “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu infakkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ai Imran [3] ayat 92)

Untuk melakukan kebajikan ini, tidak bisa tidak kita mesti berkorban dan melawan rasa cinta kita kepada harta. Ada yang kita tekan di dalam diri kita untuk melepaskan sebahagian harta yang kita miliki. Itulah ego kita! Itulah ego personal yang mesti kita jinakkan di dalam bulan Ramadhan ini, agar pada hari-hari berikutnya kita terbiasa menjadi manusia merdeka yang tak lagi terpenjara rasa cinta kita kepada harta. Semoga dengan begitu kita kan tersirami cahaya cinta dan kasih-sayang Tuhan.

Rasa cinta kita kepada saudara-saudara kita adalah cahaya,
rasa cinta kita kepada harta kekayaan kita adalah kegelapan,
mestinya cahya benderang mampu mengusir kegelapan!

Rumi bersyair :
Bila sakit karena cinta
menambah kerianganmu

biarlah bunga-bunga mawar dan lili

mengisi taman jiwamu.
7]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Catatan Kaki :

[1] Mizan al-Hikmah 5:465; – Bihar al-Anwar 96:371; – Ibid 6:97; – Man Laa Yahdhuruh al-Faqih 2:43.

[2] Kata al-ghaniy bermakna : orang yang tidak membutuhkan (belas kasih atau pertolongan) orang lain dalam hal materi.

[3] Leo Tolstoy, Kalender Kearifan, hal. 194, Bentang Budaya, 2003

[4] Kanz al-‘Ummal, hadits no. 95-96, 101.

[5] Mizan al-Hikmah 1:305;- Bihar al-Anwar 74:233.

[6] Jose Luis Gonzales Balado, Ungkapan Hati Ibu Teresa, hlm. 18, Penerbit Obor, Jakarta, 2002.

[7] Matsnawi II. 1379

sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: