Oleh: Worksite Pelita Hati | Mei 20, 2010

SYEKH IBNU ATHO’ILLAH

Kelahiran dan keluarganya

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah
Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’
al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab.
Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang
berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab
al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini.
Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun
namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan
tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani
bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679
H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri
Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya
“Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap
Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan:
“Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku
ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar
dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama,
kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya.
Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah
seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada
masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena
Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits,
usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh
tasawwuf dan para
Auliyaâ Sholihin.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai
seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus
berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara
terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya
adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan
serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas
al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu
Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang,
al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama
dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada
Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai
Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada
mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak
akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”.
Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu
Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar.
Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai
bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi
menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa :

Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu
agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para
alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh
pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena
kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita:
“Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi,
yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa
yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim
adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat
menentangnya”.

Masa kedua

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu
kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya,
Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke
Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika
bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil
Thariqah langsung dari gurunya ini.
Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu
ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia
bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf.
Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?.
setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk
mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan
sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan
kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku
yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan
tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan
sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi
guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi
Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya
semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai
ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan
masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang
guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani
memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru
al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi,
dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat
aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau
mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya IbnuNaasyi’. Dulu
dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan
sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata :
“Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan
berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan
: “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di
tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu
juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku
beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama
sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai
Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar
semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan
alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam
hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang
dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo.
Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709
H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan IbnuAtho’illah dalam
ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah
menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan
makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol
dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap
dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan
khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan,
kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan
dengan selain Allah SWT.

Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang
tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia
sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk
masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak
ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H,
menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia
emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke
Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang
menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan
riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak
heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal
senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang
yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang
banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai
pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli
tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di
Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang
ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin
al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.

Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan
sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq,
falsafah sampai khitobah.

Karomah Ibn Athoillah

Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan:
“SyaikhKamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat
Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan
bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn
Athoillahdengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”.
Demi menyaksikan karomah agung seperti iniIbnu Humam berwasiat supaya
dimakamkan dekat dengan IbnuAtho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu
murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn
Athoillahsedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam
Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada
teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung
terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas
dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing
spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid
menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif
billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya
saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti
menjawabnya”.

Ibn Atho’illah wafat

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut
wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam
barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah
al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah
dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring
kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.


Responses

  1. saya senang dengan wacana tasawuf dan sedang menulis sesuatu tentangnya.. tks

    • terimakasih atas silaturahminya semoga bermanfaat bagi semua yang mencari cahaya dalam hatinya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: