Oleh: Worksite Pelita Hati | Mei 4, 2010

IBNU ‘ARABY

SYEIKHUL AKBAR DAN IMAM PARA FILSUF SUFI

Dunia Islam telah melahirkan para tokoh besar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan diantaranya tak bisa ditandingi oleh tokoh-tokoh cendekiawan dari dunia luar, baik ahli hukum, filsuf maupun para fisikawan dan astronom serta matematikawannya. Dunia Barat sungguh berutang budi pada dunia Islam, karena transfer pengetahuan abad pertengahan senantiasa melalui interpretasi cendekiawan Muslim.

Tokoh paling unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan seorang imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali, seorang ulama Islam yang jumlah karya-karyanya tak tertandingi oleh ulama Islam mana pun. Ia adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim, saudara Ady bin Hatim ath-Tha’y. Kemudian ia biasa dipanggil dengan Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu ‘Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Selain itu, ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, danSang Kibritul Ahmar. Walaupun lahir di Andalusia, namun bernasab Arab.

Ibnu ‘Araby lahir kedunia bertepatan tanggal 17 Ramadhan, hari Senen, tahun 560 H. Atau tanggal 29 Juli 1165 M. di kota Marsia, Ibu kota Andalusia Timur, sebuah kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama, cendekiawan dan penyair besar Islam. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan yang masing-masing membentuk ideologi kehidupan dan tingkah psikologis sehari-harinya. Kelak dari keluarga inilah lahir filsuf besar, dan imam para sufi agung yang belum tertandingi dalam dunia Islam.

Ibunya adalah Nurul Anshariyah. Sungguh ibunda agung ini, menyusui putranya dengan air susu taqwa, menyuapinya dengan suapan mahabbah, mendidikknya lahir dan batin, hingga mencapai karakter dimana jiwa ibunda telah berpisah dari kemanusiaan menuju karakter uluhiyah. Suatu ketika, sufi besar Fathimah dari Kordoba berkata kepadanya, “Wahai Nurul Anshariyah, anakmu ini, adalah “ayahmu”, didiklah dengan baik dan jangan kau batasi.” Ibunda Ibnu ‘Araby tidak terkejut dengan kata-kata itu, dan ia terima dengan penerimaan yang baik.

Pada tahun 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Maka di kota baru ini, terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu ‘Araby. kepribadian sufi, intelektualisme filosufis, fiqh dan sastra. Karena itu kelak, selain sebagai filsuf sufi, Ibnu ‘Araby juga dikenal sebagai ahli tafsir, hadist, fiqh, sastra dan filsafat, bahkan astrolog dan kosmolog.

Ibnu ‘Araby belajar al-Qur’an dengan qira’at sab’ah dari beberapa guru seperti: Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy; Abul Qasim asy-Syarrath dan dari Ahmad bin Abi Hamzah. Sementara untuk mendalami bidang fiqh dan hadist ia menekuni fiqh mazhab Ibnu Hazm adz-Dzahiry dan mazhab Imam Malik, pada beberapa guru seperti Ali bin Muhamamd ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun’im al-Khazrajy.

Dalam majelis-majelis lainnya, ia tak pernah ketinggalan menekuni suatu kitab kecuali membaca keseluruhan. “Aku mempelajari kitab-kitab antara lain, al-Imta’ wal-Mu’anasah karya Abu Hayyan at-Tauhidy, kitab Al-Mujalasah karya Dinawari, kitab Bahjatul Asrar, karya Imam Ibnu Jahadhah, kitab Al-Mubtada’ karya Ishaq bin Bisyr, kitab Dalailun Nubuwwah, karya Ibnu Nu’aim, kitab As-Sirah karya Ibnu Hisyam, kitab Shafwatus Shafwah karya Ibnul Jauzy, Musnad asy-Syihab karya Ibnu Salamah al-Qadha’y, Al-Musnad karya al-Azraqy, Al-Musnad, karya Ibnu Hanbal, As-Sunan, karya Sijistany, Shahih Muslim, al-Bukhari, dan At-Tirmidzy…”

Toh dari sekian Imam dan kitab itu, Ibnu ‘Araby tidak bertaklid sama sekali pada mereka. Ia termasuk tokoh yang (karena kapasitas ijtihadnya) menolak taklid. Bahkan ia membangun metodologi yang orisinal dalam menafsirkan al-Qur’an dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. “Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu. Dimana hati kami kosong dari kontemplasi pemikiran, dan kami bermajelis dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang pada kami dari-Nya, sehingga Al-Haqq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat…. dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua…” Demikian kata Ibnu ‘Araby.

THARIQAT KEPADA ALLAH SWT.

Pada akhirnya, Ibnu ‘Araby menempuh jalan halaqah sufi dari beberapa Syeikhnya. Sebagaimana diakuinya dalam kitabnya yang paling monumental Al-Futuhatul Makkiyah, ia mendalami dunia sufi dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual yang beragam. Ibnu ‘Araby pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, meninggalkan keinginan duniawi dan kenikmatannya. Ia menemui para tokoh yang benar-benar jujur menepati janji Allah, yang tidak dialpakan oleh bisnis dan jual beli, hingga lalai dzikir kepada Allah. Ibnu ‘Arabi berdzikir dan menghayati seluruh wirid mereka, hingga ruhnya meyangga ke atas derajat iluminasi dan emanasi yang kemudian melahirkan imajinasi yang dahsyat dalam dirinya, terurai dalam ratusan karyanya.

Usia 20 tahun, usia remaja penuh gejolak. Tapi Ibnu ‘Araby telah matang dalam kepribadian intelektual dan moralnya. Usia inilah Ibnu ‘Araby telah menjadi sufi. Ia berkata:

“Thariqat sufi ini dibangun di atas empat cabang: Bawa’its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa’i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq dan Hakikat-hakikat. Sedangkan pendorong itu ada tiga hak: hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Dan (terakhir) hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (thariqat) yang didalamnya kebahagiaan dan keselamatannya.”

Pada hak Allah (pertama) bisa dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu ‘Araby. Dimana tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, al-Qur’an sebagai akhlaknya. Kemudian naik ke tahap, dimana tak ada lagi selain al-Haqq (Allah swt.) Karakter Ibnu ‘Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur, rahasianya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haqq, rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya.

Ibnu ‘Araby menggunakan kendaraan mahabbah, bermazhab ma’rifah, dan berwushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Maha Kuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan. Raja tanpa tanding, Pencipta dan Pengatur, Maujud dengan Dzat-Nya tanpa butuh pada pewujud-Nya. Bahkan seluruh yang wujud membutuhkan-Nya. Seluruh alam semesta wujud karena Wujud-Nya, dan hanyalah Dia yang berhak disifati sebagai Wujud. Yaitu Wujud Mutlak dengan sendiri-Nya tanpa batas. Dia bukan inti atom, bukan jasad, bukan arah dan suci dari dimensi, arah dan wilayah. Namun bisa dilihat oleh hati dan mata hati.

Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah manakala terjadi lowong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haqq. Seluruh semesta ini bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya, dan semuanya merupakan limpahan dari organisasi Ilahi.

Sementara hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haqq, dan upaya penyucian dalam taman Dzat-Nya.

Semua ini tidak bisa ditempuh kecuali melalui bimbingan dan pendidikan dari para Syeikh yang kamil, dimana mereka mampu membukakan pintu-pintu cakrawala pencerahan yang luhur dalam perjalanan ruhaninya.

KONTROVERSI SEPUTAR KARYA-KARYANYA

Pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu ‘Araby dinilai oleh beberapa pihak, teruatama kaum fuqaha’ dan ahli hadist sangat kontroversial. Sebab, teorinya tentang Wahdatul Wujud dianggap condong pada pantheisme. Hal ini disebabkan seluruh karya-karya Ibnu ‘Araby, meggunakan bahasa simbolik, sehingga kalangan awam dan kaum tekstualis sangat kebingungan. Bahkan tidak sedikit yang mengganggap murtad dan kufur pada Ibnu ‘Araby. Tak kurang, misalnya Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah, dan pengikutnya. Tetapi pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu ‘Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu ‘Araby. “Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu ‘Araby yang tidak memahami makna sebenarnya,” kata Ibnu Taimiyah.

Ketersesatan memahami Ibnu ‘Araby juga berkembang di Jawa, ketika secara aliran kebatinan Jawa singkretik dengan Tasawuf Ibnu ‘Araby. Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu ‘Araby. Bahkan di jawa sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama Tuhan.

Untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu ‘Araby, haruslah disertai thariqat yang penuh, komprehensif dan iluminatif. Karena itu, harus pula membaca kitab-kitab tasawuf lainnya, dan kemudian syarah atas karya-karyanya. Dr. Su’ad al-Hakim mengkorkordansi sejumlah istilah filsafat tasawuf yang secara orisinal muncul dari Ibnu ‘Araby. Ada ratusan istilah baru yang diilhami oleh terminologi Qur’any dan Sunnah Nabawi. Dr. Abdullah Afifi, murid RA. Nicholson, membuat syarah yang berharga atas karyanya yang paling sulit, Fushushul Hikam. Dan Dr. Mahmud Mathrajy memberi pengantar panjang dan catatan kaki pada karya monumentalnya, Al-Futuhatul Makkiyah. Namun Mathrajy juga sedikit terjebak oleh pendapat orientalis, terutama penilainnya sebagai Pantheisme.

Karya-karya Ibnu ‘Araby masih asing di Indonesia, termasuk dunia pesantren belum memperkenalkan karya-karya sufi besar ini. Menurut peniltian para ulama dan juga orientalis, karya Ibnu Araby berjumlah sekitar 560 kitab lebih. Bahkan ada yang meniliti, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir terdiri 90 jilid. dan karya ensiklopediknya tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur adalah Futuhatul Makkiyah (8 jilid), dan disusul pula dengan Futuhatul Madaniyah. Selain itu, karya yang paling sulit dan penuh metaforal adalah Fushushul Hikam. Dan sesungguhnya untuk sekadar menghantar pemikiran Ibnu ‘Araby, membutuhkan satu juta halaman lebih, atas karya-karyanya. Subahanallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: