Oleh: Worksite Pelita Hati | Maret 9, 2010

Riya’

Allah swt. berfirman:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’….”(Q.s. Al-Maa’uun: 4-6)

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap keridhaan Allah, kami tidak menghendaki ‘ balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”  (Q.s. Al-Insan:9)
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.s. Al-Kahfi: 110).

Dimaksud ayat tersebut adalah: Ikhlas.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya sesuatu yang paling kutakutkan dari kamu sekalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.”

Rasul saw juga bersabda, “Kelak pada hari Kiamat, ketika Allah memberi balasan amal ibadat hamba-Nya, Dia berfirman, ‘Pergilah kamu kepada orang yang kamu perlihatkan (riya’) amalmu, apakah mereka dapat memberikan balasan kepadamu’?”
Sabda beliau pula,
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari Jubbul Hazn!” Sahabat bertanya, “Apa Jubbul Hazn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu suatu jurang di neraka Jahannam yang dipersiapkan bagi ahli qiraat (qurra’) yang riya’.”

Padahal Allah swt. berfirman (Hadis Qudsi), “Siapa yang beramal untuk-Ku dengan suatu amal, yang masih disertai pujian selain Aku, maka amal itu semuanya baginya, dan Aku bebas dari amal tersebut. Dan Aku adalah Maha Kaya (tidak butuh) dari segala kemusyrikan.” Sabda Rasulullah saw, “Riya’ minimal, adalah syirik.”

Isa as. berkata, “Apabila di antara kalian menepati waktu puasa, hendaknya kalian melumas rambut dengan minyak, begitupun jenggot. Hendaknya pula membasahi bibirnya, agar orang-orang tidak melihatnya sebagai orang yang berpuasa. Jika ia memberi dengan tangan kanannya, hendaklah menyembunyikan dari tangan kirinya. Jika salat hendaknya menurunkan tirai pintunya. Sebab Allah membagi pujian seperti membagi rezeki. “

Dalam kaitan ini Umar r.a. berkata kepada orang yang menundukkan tengkuknya, “Hai orang yang punya tengkuk, angkatlah tengkukmu. Khusyu’ itu bukan di tengkuk. Khusyu’ itu di dalam hati.”
Rasul saw bersabda, “Orang-orang riya’ kelak dipanggil pada hari Kiamat dengan empat nama panggilan, ‘Wahai orang riya’!; Wahai pendusta!; Wahai penyeleweng! dan, Wahai orang rugi!’ Pergi sana! Ambillah upah amalmu dari orang yang engkau beramal baginya. Kamu tidak
punya pahala di sisi Kami’.”

Qatadah r.a. berkata, “Apabila seorang hamba berbuat riya’, Allah langsung berfirman, ‘Lihatlah semua, bagaimana hamba itu menghinaKu’!”
Al-Hasan r.a. berkata, “Aku pernah berkawan dengan berbagai golongan, apabila salah seorang di antara mereka diperlihatkan suatu hikmah, jika diucapkan akan berguna bagi dirinya dan pengikut-pengikutnya. Tidak ada yang mencegahnya kecuali kemasyhuran.”

Hakikat Riya’
Riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan cara melakukan ibadat dan amal-amal kebajikan. Dilihat dari segi bentuknya, maka riya’ dapat dibagi menjadi enam bagian:

  1. Riya’ lewat anggota badan, yaitu dengan cara menampakkan kurus kerempengnya badan, agar disangka orang kurang tidur (selalu bangun malam) dan banyak berpuasa, atau menampakkan rasa sedih dan iba agar disangka sangat peduli terhadap urusan agama; menampakkan kusutnya rambut agar disangka betul-betul tenggelam dalam urusan agama; menampakkan keringnya bibir dan rendahnya suara agar disangka betul-betul aktif berpuasa dan tekun berjuang.
  2. Riya’ lewat gaya penampilan, yaitu dengan cara mencukur kumis, menundukkan kepala saat berjalan, sangat berhati-hati dalam setiap gerak-geriknya, sengaja membiarkan bekas sujud dalam salat, dan memejamkan mata saat berbicara agar orang menilai bahwa dirinya betul-betul memiliki kasyaf dan wawasan pengetahuannya dalam.
  3. Riya’ lewat pakaian, yaitu dengan mengenakan baju wol dan baju kasar yang menjulur ke betis; memakai baju compang-camping dan lusuh agar orang mengira bahwa dirinya tidak sedikit pun berpaling dari mengingat Allah; mengenakan sorban dan membawa serta sajadah sebagaimana seorang tasawuf; mengenakan baju takwa agar disangka orang alim; membuat penutup di atas sorban dengan kain; memakai kaus kaki agar disangka meninggalkan hidup duniawi karena begitu kuatnya wara’, agar terhindar dari debu jalanan. Di antara mereka ada yang mencari tempat di hati orang-orang saleh. Kemudian memakai pakaian sopan, andaipun harus memakai pakaian baru, baginya seperti disembelih, karena takut orang-orang mengatakan, dirinya telah lepas dari zuhud.

    Ada juga yang ingin dekat di hati para penguasa dan pengusaha, jika la berpakaian yang indah, nanti dipuji, namun jika memakai pakaian yang kharismatik mereka tidak yakin akan zuhudnya. Lalu dia mencari pakaian bermotif warna-warni dan kain tipis, atau kain wol yang tinggi, sehingga pakaiannya cukup style dan indah seperti pakaian orang-orang kaya, namun warnanya seperti warna pakaian orang saleh. Kalau la dipaksa memakai kain usang, tentu ia sangat tersiksa, khawatir wibawanya jatuh di mata orang kaya. Kalau dipaksa memakai pakaian tenun bulu yang lengket dan pakaian biasa, yang harganya sedikit di bawah harga pakaian orang-orang kaya, la malah khawatir kedudukannya jatuh di mata orang-orang saleh. Karena mereka mengatakan, “Ia telah lepas dari zuhud.”

  4. Riya’ lewat kata-kata, seperti riya’ seorang mubaligh dan pakar. yaitu, dengan cara berkata-kata indah yang memikat; berucap dengan lagak bijak; mengutip hadis, dan kata-kata ulama salaf, dengan suara yang lembut, dan menampakkan rasa sedih dan iba, padahal dalam hatinya kosong dari nilai-nilai keikhlasan dan kejujuran. Mengaku ahli hadis, berteman para syeikh, dengan cepat-cepat menyela pembicaraan -bahwa itu benar dan tidak- agar disangka ahli ilmu pengetahuan.
    Kadang-kadang la gerakkan kedua bibirnya agar dikira ahli dzikir; amar ma’ruf di hadapan banyak orang, sementara hatinya sunyi dari usaha menjauhi maksiat. Begitu juga ketika la menampakkan amarah atas kemungkaran, merasa sedih atas kemaksiatan yang merajalela, padahal hatinya tidak demikian.
  5. Riya’ melalui amal, seperti melambatkan berdiri dan memanjangkan bacaan salat, memperbagus cara ruku’ dan sujud, tidak menoleh kanan-kiri, banyak bersedekah, puasa, berkali-kali menunaikan ibadat haji, berjalan khusyu’, padahal Allah swt. Maha Tahu batinnya, kalau la dalam keadaan sendiri tidak bergaya seperti itu semua. Bahkan jika tidak dilihat orang, la berjalan cepat, dan meremehkan salat. Jika merasa ada yang melihat, la kembali tenang agar disangka khusyu’.
  6. Riya’ karena banyak murid, dan menyebut banyak syeikh agar disangka bahwa dia betul-betul banyak berteman para syeikh. Seperti orang yang senang bila dikunjungi oleh para penguasa dan ulama, agar dia disebut-sebut banyak berkatnya.

Semua yang kami sebutkan di atas adalah jenis jenis riya’ dalam agama, bahkan tergolong dosa besar dan tentunya haram, jika berkedokkan agama dalam mewujudkan ambisi pribadi. Tetapi, bila menyangkut masalah duniawi dan tidak memperalat agama untuk mencapai maksudnya, maka bukanlah tergolong riya’ yang dilarang, sepanjang tidak mengandung unsur penipuan. Seperti perilaku budak dunia yang mencari pengaruh dengan memperbanyak harta, anak, pakaian-pakaian mahal, menjaga pemeliharaan rambut, mempelajari ilmu kedokteran, ilmu hisab, gramatikal dan lain-lain. Semuanya itu tidak dilarang oleh agama, sepanjang tidak dilakukan secara takabur atau dengan cara-cara tercela lainnya.

sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: