Oleh: Worksite Pelita Hati | September 22, 2009

MEMAHAMI MAKNA ZUHUD

Zuhud sering diartikan oleh banyak orang sebagai ungkapan atau refleksi sikap yang anti dunia bahkan menjauh dari dunia itu sendiri, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan bahwa seseorang yang sedang belajar untuk mempunyai sikap zuhud ini harus mengosongkan diri dari segala hal yang berbau keduniawian, kesan selanjutnya bahwa ia harus menjadi seorang yang miskin, berpakaian lusuh, compang-camping, penuh tambalan dan sebagainya.

Pandangan semacam ini barangkali ada benarnya namun tidak seluruhnya, masih dalam tanda koma belum titik, mengingat banyaknya ayat-ayat Al Qur?an dan Hadits-hadits Nabi yang mengingatkan bahayanya dunia dalam kehidupan manusia jika tidak disikapi dengan sebuah pandangan bahwa dunia seisinya ini adalah sekedar sarana belaka untuk mencari bekal kehidupan abadi kelak di akherat ?Addunya mazra?atul akhirah? dunia adalah ladangnya akherat.

Di dalam Al Qur?an Alloh SWT menisbatkan zuhud ini pada ulama yaitu suatu penghormatan bagi sifat ini, sepertimana dalam surat Al Qashas ayat 80 disebutkan:
? Dan berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ?Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh ?.

Sebetulnya ayat ini masih berkaitan dengan kisah Qarun (seorang yang digambarkan Al-Qur’an sebagai orang yang amat kaya raya dan amat mencintai hartanya), Sedangkan cinta yang berlebihan pada dunia dinisbatkan oleh Al Qur?an pada  sifat orang kafir yang ingkar kepada Tuhan, dalam Surat Ibrahim ayat 3 disebutkan:
?(Yaitu) orang-orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari kehidupan akherat dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok ?.

Dalam kisah perjalanan Isra? Mi?raj-nya Rasululloh SAW, diriwayatkan bahwasanya Beliau diperlihatkan oleh Alloh SWT akan seorang perempuan yang sudah tua renta dan keriput wajahnya namun berdandan menor dan mencolok sekali bagaikan gadis remaja belasan tahun yang lagi mekar-mekarnya sehingga kelihatan sangat kontras sekali.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril AS yang menemani beliau ketika itu: ?Siapakah orang tua itu wahai Jibril?,
oleh Jibril dijawab: ?Itulah gambaran dunia ini, umur dunia ini sudah sedemikian lamanya sehingga tinggal menunggu masa berakhirnya saja, walaupun begitu masih banyak manusia yang tertipu oleh penampilannya yang mengundang perhatian mereka yang menyukai keindahan dhahir”.

Lalu… benarkah konsep zuhud yang diajarkan oleh para sufi itu adalah zuhud dengan pengertian demikian yaitu konsep yang identik dengan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan yang berujung pada suatu keyakinan bahwa dunia itu adalah musuh bagi manusia, menghalangi manusia dari Tuhannya sehingga harus ditinggalkan demi mencapai kepuasan batin serta bisa mendekatkan diri padaNya tanpa ada penghalang yang merintangi jarak antara dia denganNya ???.

Logika awam yang normal dan sehat tentu akan menjawab “tidak”.

Bukankah Alloh SWT sewaktu pertama kali menciptakan manusia adalah ditujukan untuk menjadi khalifah pengatur didunia ini? Dan untuk menjadi seorang khalifah yang dapat mengatur dunia seisinya ini dengan baik tentu diperlukan teori-teori dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. tidak cukup dengan teori-teori yang tertulis dalam teks kitab suci, namun lebih dari itu diperlukan langkah kongrit untuk mengaplikasikan apa yang tercantum dalam teks kitab suci itu ke dalam kehidupan nyata yang membumi bukan sekedar doktrin normatif yang kaku.

Bukankah Alquran sendiri dalam surat Al A?raaf ayat 32 dengan tegas mengatakan: ?Katakanlah:Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah Swt. yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?”.

Dan dalam surat Al Maidah ayat 87 dikatakan :
?Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah Swt. halalkan bagi kamu”.

Konsep zuhud dengan pengertian harus terputus dari segala hal-hal keduniawian semata, jelas bertentangan dengan konsep Al Qur?an itu sendiri walaupun disana ada beberapa ayat lain yang menerangkan kadar bahaya dari dunia tatkala tidak disikapi dengan perasaan sekedar sebagai ajang mediator untuk mencari bekal pada kehidupan abadi di akhirat nanti.

Al-Imam Ghazali menerangkan di dalam Ihya bahwa hakekat zuhud bukanlah meninggalkan harta benda dan mengorbankannya pada jalur sosial untuk menarik perhatian manusia, itu menurut beliau hakekatnya hanyalah sebagian dari perhiasan adat, namun sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai ibadah, karena hal ini biasanya dimulai dengan niat mengharapkan ganti yang lebih atau karena tendensi ingin dikenal dalam suatu komunitas sosial, juga karena ingin pujian supaya dikenal sebagai seorang darmawan dan sebagainya.

Namun orang yang zuhud itu adalah orang yang mempunyai harta benda akan tetapi dia menyikapinya dengan lapang dada walaupun dia mampu untuk menikmati hartanya itu tanpa suatu kekurangan apapun, namun dia lebih memilih bersikap waspada, hatinya tidak ikut condong ke harta, hatinya tidak terlalu terikat dengan harta, karena dia khawatir sikap condongnya itu akan membawanya cinta kepada selain Alloh Swt., dan mencintai selain dari Alloh SWT, karena dengan begitu, berarti dia telah membuat sekutu dalam cintanya itu.

Atau bisa juga dia meninggalkan dunia karena mengharap akan pahala akhirat, dia meninggalkan kenikamatan dunia karena lebih mengharap kenikmatan di Surga, makanya dia lebih memilih apa yang dijanjikan di surga dengan perasaan lapang tanpa sedikitpun merasa khawatir akan kenikmatan dunia.

Kawan… Mudah-mudahan hati kita termasuk golongan orang-orang yang zuhud akan dunia dan sifat-sifat keduniawian, amien Allohumma Ya Robbal Alamien….

wallohu a’lam bish-shawab,-

Hakikat Perilaku Zuhud
Perawi hadis Ibnu Majah mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai oleh Allah dan juga oleh manusia.”
Rasulullah menjawab, ”Berlaku zuhud-lah kamu terhadap kenikmatan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan berlaku zuhud-lah kamu di tengah manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” Hadis di atas mengisyaratkan suatu perilaku yang dapat mengantarkan seseorang meraih cinta Allah SWT dan manusia. Perilaku itu adalah zuhud. Secara etimologi, zuhud adalah menjauhkan diri dari sesuatu karena menganggap hina dan tidak bernilai. Bagi para sufi, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup walaupun sudah jelas kehalalannya.
Berlaku zuhud tidak berarti berdiam diri dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki yang halal. Zuhud bukan sikap malas. Seorang zahid (orang yang zuhud) sama sekali tidak identik dengan orang fakir yang tidak mempunyai harta apa pun. Seorang zahid adalah orang yang mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Ia tidak diperbudak dunia dengan segala kenikmatannya, dan mampu menahan diri untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah.
Zuhud adalah perbuatan hati (af’al al-qulub). Seorang zahid, dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa apa yang ada dalam genggaman Allah lebih bernilai daripada yang ada dalam genggaman manusia. Ia yakin Allah adalah al-razzaq, penjamin rezeki semua makhluk. Imam Husain bin Ali berkata, ”Salah satu ciri lemahnya iman seseorang adalah menganggap bahwa yang ada pada manusia lebih bernilai daripada yang ada pada Allah.”
Perilaku zuhud juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Zuhud dalam bermasyarakat adalah dengan menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan sosial yang dapat merusak keharmonisan hidup bermasyarakat seperti menggunjing, mengadu domba, berjudi, dan mengonsumsi narkotika, psikotropika, dan barang terlarang lainnya.
Dalam bermasyarakat, seorang zahid mampu menahan diri untuk tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara yang dilarang oleh agama. Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2: 188).
Seorang zahid tidak akan dengki terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Ia sadar, perbedaan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia adalah ujian bagi ketaatannya kepada Allah. Rasulullah SAW memerintahkan setiap Muslim untuk menjauhi sifat dengki karena dapat menghapus semua pahala kebaikan seperti api melalap kayu bakar. (HR Abu Daud).
Setiap Muslim hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam hidupnya agar mampu menyikapi kenikmatan dunia searif mungkin dan mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.
Salah Mengartikan Zuhud adalah Miskin
Sewaktu kecil sering guru ngaji ‘terkesan’ menekankan keutamaan orang miskin. Digambarkan bahwa orang kaya nanti akan paling akhir diperhitungkan karena hartanya dihitung satu demi satu. Memangnya pakai komputer Pentium 4, sehingga menghitungnya lama?
Setelah besar saya menyadari bahwa ajaran tersebut salah besar. Ternyata telah dicontohkan sejarah bahwa para Nabi itu kaya. Kabarnya Ibrahim berkurban seratus onta, yang menunjukkan bahwa dia orang kaya. Sulaiman jelas terkaya di dunia hingga akhir jaman. Ayyub juga kaya. Demikian juga Rasulullah Muhammad saw. Sangat kaya. Kesimpulan : kaya dan miskin bukan ukuran kesempurnaan.
Justru saya semakin menyadari bahwa esensi kaya adalah merdeka. Bila karena miskin Anda berpotensi menjadi kafir, maka Anda wajib merdeka menjadi kaya. Sama juga, bila Anda kaya harta lalu berpotensi menjadi kafir, maka Anda wajib merdeka dengan segera mendermakan harta kekayaan itu.
Satu sikap yang sering ditekankan guru ngaji adalah zuhud. Digambarkan orang yang zuhud adalah orang yang berpakaian sederhana, hidup sederhana, dan seterusnya. Zuhud bahkan dikesankan berlepas diri dari kenikmatan dunia.
Itu dulu, sampai saya membaca buku karya HAMKA berjudul Tasawuf Modern. Barulah saya mendapat pencerahan bahwa zuhud sejatinya adalah ‘berlepas diri dari keterikatan pada dunia’. Perhatikan, bukan berlepas diri kepada ‘kenikmatan’, namun kepada ‘keterikatan’.
Dua tokoh yang paling mengesankan dari contoh ketidakterikatan pada dunia adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub. Ini adalah contoh dua orang kaya yang zuhud, artinya mereka berlepas diri terhadap keterikatan pada harta. Mereka siap kehilangan hartanya, kapan pun kalau Allah menghendaki. Inilah wujud zuhud yang sejati, menikmati karunia Tuhan, namun berlepas diri pada keterikatan terhadap sumber nikmat tersebut.
Sulaiman dan juga Daud, ayahnya, adalah dua raja paling kaya. Namun mereka sadar bahwa kekayaan itu adalah ujian bagi ketaatan mereka kepada Tuhan. Sulaiman bahkan mempunyai ilmu memahami perkataan makhluk lain, termasuk jin dan binatang. Namun dia senantiasa sadar bahwa semua itu adalah ujian ketaatan.
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; maka dia tersenyum dengan tertawa karena perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (An Naml 18-19)
Sulaiman tidak diuji dengan menjadi miskin. Nabi Ayyub lah contoh zuhud yang lebih dahsyat.
Ayyub adalah orang kaya dengan banyak harta, banyak istri, dan banyak anak. Kemudian diuji Allah dengan kemalangan. Hartanya ludes terbakar, anak-anaknya mati terkena musibah. Istri-istrinya minta cerai sehingga tinggal satu orang. Dan kemudian dia menderita penyakit kudis hingga kurang lebih 17 tahun lamanya. namun Ayyub tetap bersabar dan bersyukur. Kemudian beliau disembuhkan Allah dan dikembalikan kekayaan serta keluarganya berkali lipat.
dan Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al Anbiyaa’ 83-84)
Inilah contoh bagaimana menjadi zuhud. Menjadi zuhud berarti tetap menikmati kenikmatan karunia Allah, namun pada saat yang sama juga berlepas dari keterikatan terhadap nikmat tersebut.
AKU TAHU RIZKIKU TAK MUNGKIN DIAMBIL ORANG LAIN, KARENANYA HATIKU SELALU TENANG
AKU TAHU AMAL-AMALKU TAK MUNGKIN DILAKUKAN ORANG LAIN MAKA AKU SIBUKAN DIRIKU UNTUK SELALU BERAMAL
AKU TAHU ALLAH SELALU MELIHATKU
KARENANYA AKU MALU BILA ALLAH
MENDAPATIKU BERBUAT MAKSIAT
AKU TAHU KEMATIAN MENDEKATIKU
MAKA KUPERSIAPKAN BEKAL UNTUK BERJUMPA DENGAN RABKU
(Hasan Basri)

Responses

  1. amin…………….semoga kita memahami makna zuhud yang semestinya..banyak sedekah dan beramal sholeh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: