Oleh: Worksite Pelita Hati | September 1, 2009

CERMIN RUBUBIYYAH

Kyai Muhammad Zuhri

Dalam surat Al-Hasr ayat 21 s/d 24 Allah berfirman:

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung,pasti kamu akan melihat (gunung itu) tunduk terpecah belah disebabkantakut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”
“Dia-lah Allah tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Ar Rahman (Yang Maha Pemurah), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang).”
“Dia-lah Allah tiada Tuhan selain Dia, Al-Malik(Yang Maha Memiliki), Al-Quddus(Yang Maha Suci), As-Salam (Yang Memberikan Keselamatan), Al-Mukmin (Yang Memberikan Keamanan), Al-Muhaimin (Yang Maha Mengawasi), Al-’Aziz (Yang Maha Perkasa), Al-Jabbar (Yang Maha Memulihkan), Al-Mutakabbir (Yang Sadar akan Kebesaran Diri), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Membebaskan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Hasr: 22-24)

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa membaca ayat-ayat tersebut di waktu pagi hari, maka sebanyak 70.000 malaikat akan bershalawat untuknya sampai sore hari, dan barangsiapa membaca ayat tersebut di waktu sore hari, maka sebanyak 70.000 malaikat akan bershalawat untuknya sampai pagi hari.”

Mengapa empat ayat terakhir dalam surat Al-Hasr demikian dahsyat bila di-wirid-kan pada waktu pagi dan sore hari? Pada awal pernyataan-Nya, Allah membuat sebuah perumpamaan: bila Al- Our’an diturunkan di atas sebuah gunung, maka gunung tersebut tidak sanggup menanggungnya (pecah, hancur). Ilustrasi tersebut tidak jauh berbeda dengan peristiwa yang terjadi tatkala Allah bertajalli di atas Sinai, menjawab keinginan Musa a.s. yang berkehendak melihat wajah Tuhan. Bukit Sinai pun menyala dan Musa a.s. jatuh pingsan.

Setelah ayat tersebut di atas, Allah menerangkan sifat-sifat manajerial-Nya (sifat-sifat kepengurusan-Nya, kepengasuhan-Nya) terhadap alam semesta. Diterangkan bahwa kepelayanan Tuhan berturut-turut meliputi sifat: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al Mukmin, Al-Muhaiminu, Al-’Aziz, Al-Jabbar, Al Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’u, Al-Musyawwiru.

“Dia-lah Allah tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata (syahadat), Dia-lah Ar-Rahman (dan) Ar-Rahim” (QS. Al-Hasr: 22)

Dapat dipahami bahwa sifat Ar-Rahman menjelaskan tentang kegaiban Tuhan, sedangkan sifat Ar-Rahim menjelaskan tentang syahadat-Nya. Alam realita (mulai dari partikel-partikel sampai galaksi-galaksi, alam nabati, alam hewani dan alam insani) yang tercipta melewati sifat Ar-Rahman, keberadaan mereka menjelaskan tentang kegaiban Tuhan. Adapun orang-orang beriman yang sangggup melakukan peran dirinya dalam Rahimiah Allah (Ar-Rahim), mereka berkondisi menjelaskan adanya Tuhan (bersyahadat).

Bagaimana Allah memanifestasikan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim?
Ada 8 sifat Tuhan yang terdiri dari 4 pasang sifat manajerial ketika Dia memanifestasikan sifat Ar-Rahman, yaitu:
1).Al-Malikul-Quddus,
2).As-Salamul-Mukmin,
3).Al-Muhaiminul-’Aziz dan
4).Al-Jabbarul-Mutakabbir.

Selanjutnya, dalam mengaktualisasikan sifat Ar-Rahim, Allah menurunkan 3 sifat manajerial-Nya yang masing-masing sifat tersebut berdiri sendiri, yaitu:
1).Al-Khaliq
2).Al-Bari’u
3).Al-Musyawwiru

AR-RAHMAN, MENJELASKAN KEGAIBAN TUHAN

Pada awalnya, sebelum segala sesuatu ada, yang ada hanya Allah dan ketiadaan. Dari ketiadaan menjadi ada, hanya atas kemurahan Tuhan (yang lahir dari sifat Ar-Rahman). Sifat Ar Rahman dimanifestasikan melalui 4 tingkat sifat manajerial, maka ada 4 tingkat wujud di alam realita. Empat tingkat sifat manajerial Tuhan beserta empat tingkat wujud ciptaan-Nya itu adalah sebagai berikut:

1). Al-Malikul-Quddus
Ada sesuatu yang melatarbelakangi setiap wujud di alam realita. Dia merupakan substansi dari segala sesuatu yang mewujud. Tidak ada satu pun kekuatan di alam realita kecuali ditopang dirinya. Semua benda (materi) tersusun olehnya. Dia bersifat suci (tidak teronar oleh siapa pun dan menyerah total untuk apa pun), Wujud yang menjadi milik setiap wujud di alam realita dan bersifat suci itulah yang disebut ‘partikel’. Partikel merupakan unsur anorganik, menjadi bahan dasar penciptaan alam semesta. Al-Qur’an mengatakan bahwa wujud awal itu sebagai dukhon (asap yang menggulung di semesta luas tak terbatas). Partikel dan unsur-unsur yang ada di alam anorganik menjadi medan bekerjanya sifat manajerial Allah Al-Malikul-Quddus (Yang Merajai dan Suci).

2). As-Salamul-Mukmin
Selanjutnya Allah menciptakan satu tingkat wujud yang lebih tinggi dari wujud di alam anorganik. Ada proses kehidupan pada tingkat wujud itu. Ada kesadaran untuk tumbuh ’selamat’ dan ‘aman’ hingga bisa berkembang biak. As-Salamul-Mukmin (selamat, aman) menandakan satu tingkat sifat manajerial Tuhan yang beroperasi pada alam nabati (alam tumbuh-tumbuhan).

3). Al-Muhaiminul-’Aziz
Setelah sekian milyar tahun kehidupan nabati memenuhi kulit bumi, Allah menciptakan tingkat kehidupan yang lebih tinggi dari kehidupan nabati. Ada potensi lebih yang tidak dimiliki oleh tingkat wujud di alam anorganik maupun di alam nabati, yaitu kemampuan mengawasi dan
mempertahankan diri. Dia makhluk yang sadar ruang. Al-Muhaiminul-’Aziz (Yang Mengawasi dan Yang Perkasa) dimanifestasikan-Nya dengan mewujudkan alam hewani.

4). Al-Jabbarul-Mutakabbir
Tingkat kehidupan selanjutnya yang tercipta adalah tingkat kehidupan yang tertinggi. Di samping sadar ruang, dia sadar waktu. Dia diberi akal sehingga memiliki daya pikir (kreativitas). Dia diberi hati sehingga memiliki rasa, kesadaran akan kebesaran dirinya, kesadaran bertanggung jawab sebagai makhluk yang paling berkuasa di muka bumi. Al-Jabbarul-Mutakabbir (Yang Memulihkan dan Yang Sadar akan Kebesaran DiriNya) dimanifestasikan-Nya dengan menciptakan alam insani.

Demikianlah empat level wujud di alam nyata diciptakan Tuhan melewati sifat-sifat manajerial-Nya yang berpasang-pasangan;
l).Al-Malikul-Quddus(yang menciptakan potensi sehingga mewujud alam anorganik)
2).As-Salamul-Mukmin (yang menciptakan potensi untuk tumbuh dan berkembang biak, mewujud alam nabati)
3).Al-Muhaiminul-’Aziz (yang menciptakan potensi untuk bisa mengawasi dan mempertahankan diri, mewujud alam hewani) dan
4).Al-Jabbarul-Mutakabbir (yang menciptakan potensi pikir dan rasa, mewujud alam insani).

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”(QS. Adz-Dzaariyat: 49)

AR-RAHIM, MENJELASKAN TENTANG SYAHADAT-NYA

Empat tingkat kehidupan di alam nyata yang lahir dari sifat Ar-Rahman justru menjelaskan kegaiban Tuhan. ‘Yang nyata’ menyembunyikan sesuatu ‘Yang Gaib’. Maka kehadiran ‘yang nyata’ hendaknya berorientasi pada tindakan nyata (bersyahadat). Hadir dalam Rahimiah Tuhan (bersifat Ar-Rahim, bersyahadat) bukan berarti hadir secara nyata fisiknya. Bukan hadir secara nyata tubuhnya yang bisa tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh-tumbuhan. Bukan pula hadir nafsu hewan yang ada di dalam dirinya sehingga ia mampu lari, mempertahankan diri dan menyerang. Bahkan bukan tentang hadirnya otak dan hati manusia. Yang hadir adalah sesuatu yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu kehadiran mengungkapkan diri merealisasi kemauan Tuhan.

Sejak manusia diciptakan, kehendak Tuhan selanjutnya melewati ciptaan-Nya itu. Tuhan tidak menciptakan semesta budaya. Tuhan menciptakan alam realita mulai dari alam anorganik sampai kehidupan insani. Setelah itu, kehendak Tuhan dititipkan kepada manusia (yang telah memadai mewakili-Nya di muka bumi).

“Dan tidak ada yang mereka kehendaki kecuali telah dikehendaki oleh Allah Rabbul-’Alamin.”
(QS. At-Takwir: 29)

Demikianlah apa yang dikehendaki manusia, lebih dahulu telah dikehendaki Allah. Maka ketika seorang beriman melihat kenyataan-kenyataan sehingga membuat hatinya ‘kecewa’; ana lara sing durung bisa ditambani, ana mlarat sing durung bisa disugihke, ana bodho sing durung bisa
dipinterhe, ana wong kang ora ketulungan selawas-lawase (ada penyakit yang belum bisa disembuhkan, ada kemelaratan yang belum bisa dibuat kaya, ada kebodohan yang belum bisa dibuat pintar, ada orang yang tak tertolong selama-lamanya), ia akan berpikir menciptakan gagasan-gagasan dalam mengatasi problema kehidupan sosialnya. Terciptanya gagasan (ide-ide) inilah manifestasi dari sifat manajerial Al-Khaliq (Yang Menciptakan) yang beroperasi pada diri manusia. Allah telah menitipkan ide-ide-Nya kepada manusia yang dinilai-Nya telah memadai untuk bias mengungkapkan kehendak-kehendak-Nya.

Selanjutnya, supaya ide-ide manusia tidak hanya terpenjara di angan-angan (di alam khayalannya), pemilik ide harus ‘membebaskan’ ide-ide yang diciptakannya itu sehingga ia memiliki gambaran dalam bentuk apa ide itu akan dilahirkan. Misalnya, ketika seseorang telah menciptakan ide agar perekonomian tidak hanya dikuasai oleh sekelompok orang, ide tersebut kemudian di-planing-kan (direncanakan, disusun) dalam sebuah loka karya, seminar, sehingga akan jelas tindakan apa yang hendak dilakukan. Saat itulah manusia sedang dalam medan operasional sifat Allah Al-Bari’u (Yang Membebaskan – ide-ide dari penjara alam imajinasinya).

Setelah tergambar jelas rencana aksinya, planing tersebut mulai diaplikasikan. Sifat manajerial Tuhan Al-Musyawwiru (Yang Membentuk Rupa) selanjutnya bekerja pada diri manusia sehingga ide-ide Tuhan menjadi sebuah realita baru dalam dimensi budaya (cultural dimension).

MANUSIA = MICRO COSMOS

Empat pasang sifat manajerial Tuhan: Al-Malikul-Quddus, As-Salamul-Mukmin, Al-Muhaiminul ‘Aziz, Al-Jabbarul-Mutakabbir memanifestasi pada empat tingkat wujud ciptaan Tuhan di alam realita. Peran masing-masing pasangan sifat manajerial Tuhan itu dapat kita illustrasikan sebagai berikut:

– Ketika Al-Malikul-Quddus sedang beroperasi pada penciptaan alam anorganik, pada saat itu jutaan malaikat (malaikat sufliah) yang mengurus hal-hal yang bersifat materi, bekerja menyangga ‘Ars Tuhan di alam anorganik, sehingga terciptalah alam anorganik.

– Ketika As-Salamul-Mukmin sedang beroperasi pada penciptaan alam nabati, pada saat itu jutaan malaikat bertugas mengurus sistem yang memungkinkan suatu wujud memiliki potensi untuk bisa tumbuh dan berkembang biak, sehingga terciptalah alam nabati. Pada saat yang sama, malaikat yang bekerja pada ‘Ars Tuhan di alam anorganik (Al-Malikul-Quddus) juga ikut menopang kehidupan di alam nabati, sebab setiap wujud di alam nabati juga terdiri atas partikel-partikel (bagian terkecil dari wujud alam anorganik). Dengan demikian ada dua pasang kekuatan (malaikat) yang menopang keberlangsungan kehidupan di alam nabati; Al-Malikul-Quddus dan As-Salamul-Mukmin.

– Ketika Al-Muhaiminul-’Aziz sedang beroperasi pada penciptaan alam hewani, pada saat itu jutaan malaikat bertugas mengurus sistem yang memungkinkan suatu wujud memiliki potensi untuk bisa mengawasi, berpindah ruang, menyerang dan mempertahankan diri, sehingga terciptalah kehidupan di alam hewani. Pada saat yang sama, dua pasang kekuatan (malaikat) yang bekerja pada ‘Ars Tuhan di alam nabati, juga menopang kehidupan di alam hewani, sebab setiap wujud di alam hewani juga bersifat seperti wujud di alam nabati, yaitu tumbuh dan berkembang biak. Dengan demikian ada tiga pasang kekuatan (malaikat) yang menopang keberlangsungan kehidupan di alam hewani, yaitu Al-Malikul-Quddus, As-Salamul-Mukmin dan Al-Muhaiminul-’Aziz.

– Ketika Al-Jabbarul-Mutakabbir sedang beroperasi pada penciptaan alam insani, pada saat itu jutaan malaikat bertugas mengurus sistem yang memungkinkan suatu wujud memiliki daya pikir dan rasa, maka terciptalah alam insani. Pada saat yang sama, tiga pasang kekuatan (malaikat) yang menyangga ‘Ars Tuhan di alam hewani juga menopang kehidupan di alam insani, sebab setiap wujud insan juga memiliki wujud sebagaimana wujud hewan yang mampu berpindah ruang dan menyerang. Dengan demikian ada empat pasang kekuatan (malaikat) yang menopang keberlangsungan kehidupan di alam insani, yaitu Al-Malikul-Quddus, As-Salamul-Mukmin. Al-Muhaiminul-’Aziz dan Al-Jabbarul-Mutakabbir.

Jadi, keempat pasang malaikat penyangga ‘Ars Tuhan yang bekerja di alam semesta temyata ada di dalam diri manusia. Al-Malikul-Quddus (malaikat penyanga ‘Ars Tuhan yang bekerja di alam anorganik; mulai dari partikel-partikel sampai galaksi-galaksi), ada di dalam diri manusia. As-Salamul-Mukmin (malaikat penyangga ‘Ars Tuhan yang bekei]-a di alam nabati), ada di dalam diri manusia. Al-Muhaiminul-’Aziz (malaikat penyangga ‘Ars Tuhan yang bekerja di alam hewani) juga ada di dalam diri manusia. Al-Jabbarul-Mutakabbir (malaikat penyangga ‘Ars Tuhan yang bekerja pada potensi akal dan rasa) dimiliki oleh manusia. Dengan demikian semua kekuatan (malaikat) penyangga ‘Ars Tuhan yang bekerja di alam semesta ini ternyata dimiliki manusia. Dalam hal ini manusia disebut ‘Micro Cosmos’ (Jagat raya dalam bentuknya yang kecil).

Mengenal tuntas kekuatan yang menyusun pada diri manusia, berarti mengenal tuntas kekuatan yang menyusun pada alam semesta. Semua kekuatan (malaikat) yang ada di alam semesta, ternyata ada di dalam diri manusia. Jadi, segala kepandaian dan skill sebenarnya kita miliki. Adapun kekuatan-kekuatan tersebut tidak bisa terungkap, misalnya kekuatan Jibril tidak bisa mengilhami kita, hal itu disebabkan oleh kesalahan kita yang tidak mau berusaha menjadikan diri kita sebagai medan terungkapnya kekuatan Jibril. Mengapa kita tidak berlatih mengungkapkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam diri kita?

Ruang lingkup medan operasional Tuhan harus kita ketahui agar kita bias hadir melakukan peran di muka bumi ini secara optimal. Hadir melakukan peran yang terbaik adalah hadir menjadi ‘umat yang seimbang’ (Ummatan Wasathan).

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu ‘umat yang seimbang’, agar kamu menjadi saksi (pengawas) atas manusia dan agar Rasul (Wakil Tuhan) menjadi saksi (pengawas) atas dirimu.”
(QS. Al-Baqarah: 143)

Kata ’seimbang’ menunjukkan suatu keberadaan di tengah-tengah. Kita berada di antara semesta alam dan Allah. Sebagai ’saksi’ (yang mengawasi) dan ‘yang disaksikan’ (yang diawasi). Mengawasi semesta alam dan diawasi Tuhan. Menghadap ke bawah dan dihadapi oleh Yang di Atas. Maka, bila kita menghadap ke bawah (manusia, semesta alam), hendaklah ingat ke atas (Allah). Sebaliknya, bila kita menghadap ke atas (Allah) ingatlah ke bawah (manusia).

Menghadap ke atas (Allah) tetapi ingat ke bawah (manusia) berarti membawa pesan-pesan atau harapan-harapan manusia tatkala menghadap kepada Allah. Harapan-harapan itu adalah: memperoleh kesejahteraan, hidayah dan ampunan. Sebaliknya, bila menghadap ke bawah (manusia, semesta alam), ingatlah pesan-pesan Tuhan.

Ada empat wujud ketika kita menghadap ke bawah, yang keempatnya harus kita hadapi menurut pesan-pesan Tuhan. Pertama, ketika berhadapan dengan alam anorganik (sebagai fisikawan), sanggupkah kita menyeimbangkan diri; mengelola, mendayagunakan potensinya untuk kepentingan seluruh umat manusia? Kedua. ketika berhadapan dengan alam nabati (sebagai ahli botani), sanggupkah kita menyeimbangkan diri; memanfaatkan dan menjaga kelestariannya? Ketiga, ketika berhadapan dengan alam hewani (sebagai ahli zoologi), sanggupkah kita menyeimbangkan diri; mendayagunakan potensi alam hewan dengan tetap menjaga ekosistemnya? Keempat ketika berhadapan dengan sesama manusia (sebagai seorang humanis), sanggupkah kita menyeimbangkan diri; menjadi partner dialog mereka?

Menyeimbangkan diri dengan orang lain berarti menyeimbangkan antara kepentingan sendiri dengan kebutuhan orang lain. Menyeimbangkan diri juga berarti menjadi sebuah jawaban. Misalnya, dalam ruang lingkup keluarga, seorang anak meminta ayahnya untuk mengatasi kesulitannya dalam mengerjakan PR. Mula-mula sang ayah melayani permintaan anaknya itu dengan lemah lembut; membimbing, mengarahkan agar sang anak bias mengerjakan PR. Tetapi lama-kelamaan sang ayah mulai hilang kesabarannya, sebab sang anak tidak memahami keterangan-keterangan yang diberikan. Dialog antara ayah dan anak pun berakhir ketika sang ayah marah-marah sehingga anaknya menangis. Kehendak sang ayah untuk menjadikan anaknya pintar tanpa memahami kondisi anaknya, menunjukkan posisi dirinya tidak mengimbangi anaknya sebagai partner dialognya. Karena sang ayah mau menang sendiri, justru ia menjadi rugi. Hubungannya dengan sang anak menjadi retak. Anaknya menjadi sakit hatinya. “Ayah kejam. Ayah tidak sanggup menolong saya.”

Hal-hal yang demikian terjadi pada ruang lingkup yang kecil (keluarga) hingga ruang lingkup yang besar (masyarakat, negara, dunia). Maka, bila dua orang bertemu, yang satu dengan yang lain tidak saling mengimbangi (tidak saling memberikan jawaban terhadap kebutuhan masing-masing), benturan-benturan antara keduanya senantiasa akan terjadi. Kesabaran, pengorbanan, keihlasan dan keteladanan itulah kunci untuk menjadi umat yang seimbang, menjadi partner dialog bagi orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu ‘menolong Allah’, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

‘Menolong Allah’ (membantu Dia yang gaib menjadi ‘nyata’, berkondisi syahadat) harus kita hidupkan sebagai upaya mengembangkan mekanisme spiritual kita. Caranya ialah dengan melakukan amaliah, peduli terhadap yang lemah, sanggup melatih diri untuk meninggalkan (mengorbankan) segala sesuatu. Setiap manusia memiliki kekuatan dahsyat yang paling azali yaitu kemampuan untuk meninggalkan segala sesuatu. Bukan meninggalkan segala sesuatu tanpa makna, melainkan kemampuan untuk me-manage segala sesuatu. Sebagaimana sifat Allah yang tidak butuh semesta alam, namun Dia tetap me-manage semesta alam.

Semesta alam ini tidak ada nilainya bagi Allah. Tidak menambah kemuliaan-Nya, ketinggian-Nya atau keagungan-Nya. Namun denukian semesta alam ini tetap dikelola-Nya. Maka, kemampuan untuk meninggalkan segala sesuatu harus kita tumbuhkan. “Aku tidak butuh dunia. Tetapi dunia tetap aku dekati. Bukan untuk diriku, tetapi untuk seluruh umat manusia.” Itulah kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain selain manusia, sehingga bukit-bukit pun tidak sanggup menanggungnya.

EVOLUSI SPIRITUAL

Dengan beroperasinya 4 pasang sifat Tuhan pada diri manusia – sehingga manusia merupakan satu-satunya tingkat wujud makhluk yang memiliki potensi pikir dan rasa – maka selesailah evolusi fisikal ciptaan Tuhan. Pengembangan wujud ciptaan Tuhan menuju kesempumaan fisik dimulai dengan penciptaan partikel, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan hingga hadirnya otak manusia di dalam tubuh manusia. Setelah itu Tuhan tidak lagi mengembangkan (menyempurnakan) fisik atau sisi dzahir manusia, misalnya dengan menambah tanduk atau menumbuhkan sayap. Cara Tuhan selanjutnya dalam mengembangkan manusia ialah dengan menyempurnakan secara evolutif sisi batinnya.

Sejak manusia diciptakan Tuhan sebagai karya kebanggaan-Nya, manusia dipuji-puji oleh Penciptanya itu dan juga oleh para malaikat. Allah memuji-muji kita sebelum kita memuji-muji Dia.

“Dia-lah (Allah) yang memuji-muji kamu dan seluruh malaikat-Nya untuk mengeluarkanmu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.” (Al-Ahzab: 34)

Allah mengentaskan kita dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan cara mengevolusi sisi batin kita. Berbeda tatkala mengembangkan sisi dzahir, ketika itu Allah menopang dengan sifat-sifat-Nya yang berpasang-pasangan, Tuhan mengembangkan secara evolutif sisi batin manusia dengan sifat-sifat manajerial-Nya yang tunggal.

1) Al-Khaliq (Maha Pencipta)
Sifat Allah Yang Maha Pencipta melatarbelakangi diri kita sehingga kita memiliki kemampuan mencipta. Tuhan tidak menciptakan semesta budaya, misalnya menciptakan listrik, mobil atau pesawat eksplorasi. Sifat Al-Khaliq yang dititipkan pada diri manusia berperan mewakili Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu yang berdimensi budaya (cultural dimension). Maka ketika seseorang berkehendak menciptakan sesuatu, Allah lebih dahulu telah menghendakinya.

“Dan tidak ada yang mereka kehendaki kecuali telah dikehendaki oleh Allah Rabbul-Alamin.” (QS. At-Takwir: 29)

Sifat penciptaan telah diamanatkan kepada manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi. Pengetahuan tersebut untuk yang pertama kali dipelopori oleh Rasulullah Musa a.s.. Dialah yang pertama kali mendapatkan pengetahuan tentang ke-DIA-an Allah. Di sisi lain wujud kita, ada sesuatu yang berdiri di balik eksistensi kita. DIA-lah Allah Al-Hayyu Al-Qoyyum (Yang Hidup dan Berdiri Sendiri) – ketika belum menciptakan segala sesuatu. Setelah segala sesuatu ada, Dia tidak hanya ‘Yang Hidup dan Berdiri Sendiri’. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan segala sesuatu (Yuhyi wa-Yumiit).

Jadi, semula Allah yang bersifat Al-Qoyyum (Yang Berdiri Sendiri), kini menj’adi Al-Qo’imu ‘Ala Kulli Nafsin-Bimaa Kasabat (Yang Berdiri di Balik Setiap Individu di dalam apa yang ia kreasikan)- sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Ra’d: 33). Dengan demikian kita tidak berhak mengatakan, “Akulah yang bisa menciptakan barang baru” sebab Allah-lah yang berada di balik diri kita (dalam berkreasi). Bila sifat Al-Khaliq tidak dipinjamkan kepada kita, Allah tidak melatarbelakangi kehidupan kita, maka kita pun tidak bisa berbuat apa-apa sebagaimana halnya binatang atau tumbuh-tumbuhan di mana sifat Al-Khaliq tidak menumpang di dalam eksistensi mereka.

Pengikut-pengikut Musa a.s. ialah orang-orang yang pertama kali yang sanggup mengungkapkan pengetahuan (ilmu) bahwa di balik segala sesuatu (materi) ada energi. Merekalah yang mula-mula sanggup mengungkapkan sumber daya alam. Tetapi, kesadaran terhadap keterbatasan sumber daya alam menyebabkan mereka berebut untuk mendapatkannya. Sadar bahwa bumi ini tidak semakin bertambah besar dan tidak beranak, sedangkan pemakainya (manusia) semakin bertambah banyak, maka mereka pun berebut untuk menguasainya. Akibatnya terjadilah peperangan, kolonialisasi dan imperialisasi.

2) Al-Bari’ (Yang Membebaskan)
Ilmu yang dikembangkan para pengikut Musa a.s. menyebabkan manusia sejahtera (karena sanggup mengungkapkan sumber daya alam). Tetapi, di sisi lain mereka juga dihantui kekhawatiran tidak memperoleh bagian dari sumber daya alam itu, sehingga timbul kolonialisasi dan imperialisasi. Sadar ingin menjalani kehidupan yang lebih baik, manusia berusaha menemukan pijakan lain. Isa a.s. muncul mendapatkan sesuatu yang baru membebaskan manusia dari peperangan, kolonialisasi dan imperialisasi. Isa a.s. tidak hanya hadir di dalam pengetahuan (ilmu) tentang pengungkapan sumber daya alam. Dia hadir mengutuhkan dirinya (berintegrasi) dengan semesta alam. Sumber daya alam yang didapatkannya diangkat menjadi nilai. Orientasi dalam beraktivitas bukan lagi pada ‘ilmu’ melainkan pada ‘nilai’.

Ketika sumber daya alam hanya untuk diperebutkan, artinya sumber daya alam itu hanya memiliki ‘manfaat’ bagi orang-orang yang memperebutkan. Pada tahap selanjutnya sumber daya alam ditranformasi menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar ‘manfaat’, yaitu menjadi ‘nilai’, karena sanggup memberi makna kehadiran bagi pemiliknya di depan orang lain. Manakala seseorang memiliki kelebihan sumber daya alam (harta benda), kemudian ia memberikannya kepada yang kekurangan, maka sumber daya alam itu naik derajatnya, tidak hanya ‘bermanfaat bagi pemiliknya’ melainkan sanggup mengantarkan pemiliknya memiliki ‘nilai di depan orang lain’. Misalnya, orang kaya memiliki nilai di depan orang miskin karena kedermawanannya kepada orang miskin. Nilai orang pintar adalah di depan orang bodoh ketika ia mau mengajar orang bodoh. Nilai orang kuat adalah di depan orang yang lemah tatkala ia melindungi yang lemah.

Nilai manusia ditentukan oleh seberapa besar kesanggupannya mentransformasi manfaat sumber daya alam menjadi bernilai di depan orang lain. Tindakan yang dilakukan bersifat meringankan hidup orang lain atau mengembangkan pihak lain. Isa a.s. adalah pioneer-nya. Ia tokoh yang sanggup berkorban untuk semuanya, mengintegrasikan dirinya menjadi seluas semesta alam. Apa pun yang diminta darinya dan siapa pun yang meminta, ia senantiasa memberikan. “Kalau dalam diriku ada daging, makanlah dagingku sampai habis. Kalau dalam diriku ada darah, minumlah darahku sampai tandas,” Demikian ikhlasnya dalam memberikan segala sesuatu kepada setiap orang yang membutuhkan, Allah menganugerahkan gelar kepada Isa a.s. Rohullah (Roh Allah); sifat-sifat Allah ada di dalam dirinya. Itulah sifat integratif yang berorientasi pada nilai. Rasulullah Isa a.s. adalah orang yang pertama kali mengenal ke-AKU-an
Tuhan.

3) Al-Musyawwir (Yang Membentuk Rupa)
Setelah ada dua titik pijak manusia; pertama adalah perolehan ilmu tentang sumber daya alam yang menyebabkan manusia menimbun harta (pengikut-pengikut Musa a.s.), kedua adalah perolehan nilai-nilai kemanusiaan dengan mengorbankan semua sumber daya alam yang dimilikinya (pengikut-pengikut Isa a.s.), maka ada dua lingkungan umat manusia yang saling bertentangan. Yang satu berorientasi pada dunia (dunia milik) dan yang satu lagi berorientasi pada akhirat (dunia diri). Yang satu menghadap ke Adz-Dzohiru dan yang satu lagi menghadap ke Al-Batinu. Dua umat yang saling bertentangan filosofinya itu akhirnya saling membantai.

Muhammad s.a.w. datang menyatukan kedua-duanya. “Kita kuasai dunia dan kita kuasai akhirat.” Mencari dunia tetapi bukan untuk berdunia. Dunia kita jadikan sebagai anak tangga dalam menggapai akhirat. Karena yang akhir (akhirat) lebih penting, maka yang awal hendaknya jangan dilupakan. Sebab bila yang awal dilupakan, tidak mungkin kita akan sampai pada yang akhir.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (harta, ilmu, kekuasaan) negeri akhirat (ridla Tuhan), dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (berbuat ihsan), dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Qashas: 77)

Dua ilmu dari para rasul pendahulunya (Musa a.s. dan Isa a.s.) dipakai oleh Muhammad s.a.w. “Meskipun akhirat lebih penting, tetapi dunia jangan kau lupakan.” (Jangan berikan semua milikmu. Sisakan sebagai asset agar kelak engkau bisa memberi yang lebih banyak kepada orang lain

Pada tahap ini hadirlah sifat yang lebih tinggi dari Al-Khaliq (Yang Mencipta) dan Al-Bari’ (Yang Membebaskan), yakni Al-Musyawwir (Yang Membentuk Rupa atau Menjadikan Wujud Baru); tumbuh kreativitas untuk men-dzahir-kan Tuhan dengan melakukan tindakan nyata. Berbuat Ihsan (melakukan kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik) berarti melakukan tindakan-tindakan Tuhan yang dititipkan kepada manusia. Misalnya, bila ada yang berdo’a meminta makan, engkaulah orang yang memberi makan; bila ada yang berdo’a meminta ilmu, engkaulah orang yang mengajarkan ilmu; bila ada yang berdo’a meminta petunjuk, engkaulah yang menunjukinya; dan bila ada yang berdo’a ingin dilindungi, engkaulah yang memberikan perlindungan. Dengan demikian engkau telah menjadi ‘orangnya Tuhan’ (mewakili Tuhan dalam manajerial-Nya). Inilah tahap spiritual ketika manusia menemukan ke-ENGKAU-an Tuhan; Allah yang tunggal menyatakan diri-Nya dengan sebutan KAMI, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk berperan serta dalam manajerial-Nya.

1. Perihal ke-Dia-an Ilahi dalam risalah Musa a.s.

Tentang nash Qur’an yang mendukung figur Musa as. sebagai pengungkap ke-Dia-an Allah terdapat dalam Surat al-A’rof: 143. Di situ Musa as. dinyatakan hanya berdialog dengan suara yang tidak berwujud (ghaib/dia). Bahkan ketika Musa as. memohon agar Allah menampilkan Diri sebagai figur engkau, yang nyata hadir dalam dialog, tidak dikabulkan. Sebagai gantinya dia diperintah untuk memandang bukit Sinai. Dan bukit itu pun tidak berhasil dilihat oleh Musa as. karena ia jatuh pingsan oleh cahaya yang menyilaukan matanya. Kandungan ayat itu menyatakan bahwa kemampuan Musa as berdialog dengan Allah hanya dengan Kediaan-Nya/yang Ghaib.

Kemudian ketika Musa as. bertemu dengan Khidir, seorang hamba Allah yang dikaruniai ilmu dari sisi-Nya, dia gagal menangkapnya sebagai teman dialog (tidak komunikatif). Pada hal peran Khidir di situ sebagai pembawa Amr Allah yang hadir secara langsung di depannya. Karena Musa tidak menangkap adanya Amr Allah pada diri Khidir, akhimya Khidir sendiri yang mengungkapkannya secara lisan kepada Musa as. seraya berkata: ‘Dan tidaklah aku melakukannya atas amrku sendiri (melainkan atas Amr Allah). Itulah ta’wil dari apa yang engkau tidak sabar menghadapinya’ (Al-Kahfi: 82). Itu menandakan kehadiran Allah sebagai Engkau dalam diri Khidir, tidak tertangkap oleh Musa as. Dia baru memahaminya setelah Amr Allah tersebut diceritakan (di-diakan) oleh Khidir (pihak kedua). Maka jelas kesadaran Musa as. hanya mampu menangkap Kediaan Allah. Dan ini berarti kemampuan tertinggi ummat manusia pada waktu itu baru sebatas dapat mentransformir fenomena alam menjadi struktur yang bersifat konstruktif yang disebut ILMU. Hasilnya adalah sebuah kesadaran akan wujud sumberdaya alam. Penyimpangannya adalah penyihir-penyihir Fir’aun.

2. Perihal ke-Aku-an llahi dalam risalah Isa as.

Adapun kehadiran Isa as. yang menyalahi aturan alam (mekanisme dan prosedumya) menyatakan penampilan Kekuasaan Allah (Emanasi-Nya) dalam wujud eksistensial. Al-Qur’an sendiri mengakui kequddusan Isa as, kemampuan adi-kudratinya yang dapat menghidupkan orang mati, dan iradah-robbaniyahnya yang rela hancur (berkorban) untuk ke-selamatan ummatnya, dengan menyebutnya sebagai Al-Masih, dan menyebut pengikutnya sebagai kaum Nashara (penolong). Itulah puncak capaian evolusi individu yang telah berhasil ditempuh dalam hidupnya sehingga mendapatkan iradah Allah di dalam dirinya (ke-Aku-an Tuhan).

Tampaknya di sini bahwa apa yang dicapai Isa as. adalah sebuah maqam yang setingkat lebih tinggi dari maqam Musa as. la telah mampu mentransformir perolehan Musa as. yang berupa ‘daya’ menjadi ‘nilai’ yang bersifat integratif, yang lazim disebut MA’RIFAT. Hasilnya adalah kesadaran sosial yang tinggi. Kedua perolehan yang tinggi itu (daya dan nilai/ilmu dan ma’rifat) bila dipisahkan satu dengan yang lain akan menjadi dua kutub yang saling bertentangan. Yang satu merupakan kondisi ‘tahu’ tetapi tidak ‘mau’ (cinta milik = penyalahgunaan = maghdlub = Yahudi = Kediaan) dan yang lain merupakan kondisi ‘mau’ tetapi tidak ‘tahu’ (cinta diri = kebodohan = dloollin = Nasrani = Keakuan).

3. Perihal ke-Engkau’an llahi dalam Risalah Muhammad saw.

Muhammad saw. datang untuk merangkum keduanya, dengan berdiri di tengah (mengambil sintesa) antara ke-Dia-an dan ke-Aku-an dan menemukan pijakan pada ke-Engkau-an Tuhan (Khairul umur ausatuha; Ummatan wasathan litakunu syuhada-a ‘alannasi, wa yakunar rasulu ‘alaikum syahida = sebaik-baik urusan adalah sintesanya/jalan tengah; Ummat yang seimbang, agar dapat menjadi saksi pengawas atas manusia, dan menjadikan rasul (bagi Muhammad saw. adalah Allah) sebagai saksi pengawas atasmu). Disinilah ketinggian Muhammad saw. dari kedua rasul pendahulunya, karena ia berhasil menempati maqam yang di atas keduanya, hingga mampu mentransformir ‘nilai’ (perolehan (Isa as.) menjadi ‘citra’ yang bersifat ‘kreatif’ yang lazim disebut HIKMAH, sebagaimana pernah diberikan kepada Ibrahim as. (wa yu’alli-muhumul kitaba wal hikmah).

Aktualisasi dari esensi yang demikian adalah kreatifitas yang positif (amal shalih) yang merupakan eksistensi manusia menurut ajaran Islam. ‘Siapa berhasrat bertemu Tuhannya supaya beramal shalih (me-ngembangkan) dan tidak merusak (mensyarekatkan) ibadah kepada Tuhannya itu dengan sesuatu yang lain’ (al-Kahfi: 110). Amal-shalih adalah pertemuan dengan Allah, maka di dalam amal-shalihlah letak ‘transendensi’ ummat Islam (pengikut Muhammad saw.), bukan pada meditasi dan bertapa sebagaimana terdapat pada agama-agama di kurun zaman pencarian wujud Tuhan (nabi-nabi terdahulu). Dengan demikian di dalam diri para muhsinin-lah Tuhan beremanasi dan bukan di dalam diri para rahib, yogi dan medium yang memisahkan diri dari manusia dan dunianya. Inilah hakekat shalat yang kita kerjakan, yang ber-Engkau kepada Allah atas nama seluruh manusia, yang sedang kita tawarkan. ‘Wahai hambaku, Aku lapar! Mengapa kamu tidak memberi-Ku makanan?’ ‘Maha Suci Engkau ya Allah! Bagaimana aku bisa memberi-Mu makan-an, sedang Engkau Robbul alamin!’ jawab hamba. ‘Lihat, tetanggamu ada yang lapar! Bawakan untuknya makanan! Di sana kamu bertemu dengan Aku!’ jawab Tuhan. ‘Wahai hambaku, Aku sakit!…’ dan se-terusnya adalah hadits qudsi yang mendukung kesufian kita ini.

4. Perihal kedudukan Nabi Ibrahim as.

Adapun Ibrahim as. merupakan prototipe dari wujud Muhammad saw. yang lahir mendahului zaman, sehingga bertepuk sebelah tangan dengan lingkung ummat yang masih berada jauh di bawahnya. Tetapi memang demikian tradisi Allah yang selalu menginformasikan wujud ide terlebih dahulu sebelum menjelmakannya ke dalam kenyataan, supaya shalawat yang kita tujukan kepada Muhammad saw sudah tergambar jelas bentuknya, yaitu sebagaimana pernah dikaruniakan kepada Ibrahim as individu yang telah berhasil menampilkan kekhalifahan-Nya di dunia. Dengan demikian napak tilas perjalanan Ibrahim as. menjadi puncak pembentukan individu dalam Islam (Hijjul bait).

Di sini proses evolusi fisikal terwakili oleh tahapan tertingginya yaitu umat manusia. Kemudian tahap evolusi spiritual terdiri atas tahap nabi Musa, nabi Isa, dan nabi Muhammad.
Tahap umat manusia berada di dalam Alam Atsar/Khawas, kemudian tahap nabi Musa berada dalam Alam Akal, tahap nabi Isa berada dalam Alam Walayah, dan tahap nabi Muhammad berada dalam Alam Nubuwwah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: