Oleh: Worksite Pelita Hati | Agustus 18, 2009

Ramadhan Bulan Takhalli, Tahalli dan Tajalli

Abdul Hadi MW
Dosen Universitas Paramadina dan Pengajar Jakarta Islamic Culture Center
Mari kita menegok kembali pelajaran yang akan kita terima dari pendidikan Ramadhan, menahan hawa nafsu yang kini telah lama menjadi sesuatu yang asing bagi kebanyakan dari kita. Telah ada bagi sebagian kita yang karena nafsunya, menempatkan makan sebagai kegiatan yang begitu tinggi kedudukannya sehingga ia nyaris menyerupai berhala. Akhirnya nafsu makan itu bahkan melahap hampir keseluruhan hidup mereka. Begitu menyeluruh penguasaan itu, sehingga kelaparan itu tidak cuma menimpa perut sebagian kita, tapi juga perilaku kita sebagai manusia, sebagai bangsa

Jika kelaparan hanya menyangkut urusan perut, manusia tidak perlu membobol bank hingga trilyunan rupiah. Karena perut siapakah yang sanggup menjadi penadah duit yang begitu besarnya. Jikapun ada penadah yang sanggup menampungnya, wadah itu cuma satu saja namanya, yakni kerakusan. Tragedi kehidupan umat manusia lebih banyak dipengaruhi karena urusan perut. Tak jarang para pujangga mengajarkan pentingnya menjaga nafsu perut, melatih disiplin diri dan keprihatinan untuk mengurangi makan, mengurangi tidur dan membatasi tuntutan sukaria, sebab tanpa itu semua tidak akan pernah ada kewaspadaan terhadap batin.

Imam Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub menganggap bahwa melaparkan diri tidak hanya dapat membantu hati lebih sehat, namun juga mampu mengetuk pintu syurga. “Perut yang dibiasakan lapar itulah yang kelak mengetuk pintu surga,” kata imam besar ini.

Menjadikan Ramadhan sebagai bulan suci, disambut kedatangannya dengan sukaria, riang gembira oleh para penempuh jalan ilahi. Mereka sadar bahwa bulan yang mengandung kebajikan seribu bulan itu, didalamnya terdapat hamparan tajalliyat Sang Khaliq. Allah menanti hati sang hamba, bukan jasad dan bukan asesori lahiriahnya. Karena itu, pada saat yang sama, yang sebenarnya berpuasa adalah jasad dan bukan ruh. Ruh itu sendiri malah berpesta menyantap hidangan ruhaniyah dalam sebuah jamuan pesta yang bernama Ramadhan.

Berikut wawancara Cahaya Sufi dengan Abdul Hadi W.M., budayawan, sekaligus seorang akademisi, yang memiliki perhatian penuh pada dunia ruhani. “Sastra Sufi Sebuah Antologi” adalah satu dari puluhan karyanya, yang membuktikan perjalanan ruhani lelaki kelahiran Madura ini telah melampaui batas-batas Negara, bahasa dan budaya.

Apa arti bulan Ramadhan bagi para penempuh jalan ilahi?
Ramadhan ada pemaknaan lahiriah dan spiritual serta bukan sekedar upacara biasa. Dalam pemahaman spiritual, Ramadhan adalah waktu satu bulan untuk manusia melatih mengendalikan diri, bukan sekedar hawa nafsu tapi juga pemikirannya, emosinya, perasaan ilahiah yang ia serap selama ini. Bagi setiap salik bulan Ramadhan juga merupakan “kawah candradimuka” takhalli, tahalli dan tajalli.

Kepentingan salik lainya ?
Selalu menjaga dan memberikan kewaspadaan bahwa tidak selamanya manusia itu berada dijalan yang benar. Dia harus selalu mengoreksi diri dihadapan dan bersama Sang Khaliq. Dia harus menguji terus menerus menguji kwalitas ibadahnya dan kontemplasinya.

Bagaimana dengan janji limpahan rahmah disepuluh pertama Ramadhan, maghfirah disepuluh kedua dan ‘itqun minannaar (bebas dari api neraka) disepuluh ketiganya?
Itu semua akan diberikan Allah cuma kepada orang yang berpuasa plus beriman dan yang ihtisaab (terus melakukan koreksi diri) seperti yang saya katakan barusan. Disamping ucapan dan tindakannya yang terus menerus dikoreksi, imannya juga juga terus menerus diuji. Ingat ya, bicara tentang iman, harus pula bicara wa ‘amilush-shalihat (amal atau pekerjaan yang mendatangkan kemaslahatan bagi orang banyak) dan berbicara tentang wa ‘amilush-shalihat berarti berbicara kwalitas kerja profesi setiap sufi atau para penempuh jalan ilahi, bisa sebagai dokter, pengacara, guru, pelaku ekonomi, politisi dan lain sebagainya.

Jadi……(Budayawan dari pulau garam ini tak memberi kesempatan Cahaya Sufi melanjutkan pertanyaan)
Sufi itu sebutan dan bukan status sosial. Seorang sufi itu bisa seorang dokter, pengacara, pelaku ekonomi atau politisi. Sufi itu sebutan untuk kecenderungan seseorang kepada kehidupan ruhaniah. Orang yang berkecenderungan dalam dunia ilmiah, dunia hukum, dunia kedokteran, dunia sastra, dunia politik atau dunia seni bisa saja menjadi seorang sufi.

Jadi, apa arti rahmah yang akan Allah limpahkan untuk setiap orang yang berpuasa?
Rahmat yang Rasul maksudkan itu ya Rahmat dan kasih sayang. Sepanjang yang saya ketahui, dalam khazanah tasawuf, rahmat itu ada dua macam:
Pertama, rahmah dzaatiyyah, yaitu rahmat anugerah yang diberikan Allah kepada semua makhluk tanpa ada diskriminasi.
Kedua, ada rahmah khushushiyyah, yaitu rahmat yang wajib diberikan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Ketika seorang salik telah dianugerahi mukasyafah (keterbukaan dan penyingkapan) ia dapat menicum, merasa, menyentuh, mendengar bahkan melihat rahmah yang sudah mengelilinginya atau yang telah bersenyawa dalam wujud dirinya itu.

Dengan maghfirah yang Allah berikan disepuluh kedua Ramadhan, apa maksudnya?
Melalui rahmah yang tak terhingga itu tadi, Allah menutupi dan menyembunyikan kesalahan-kesalahan setiap penempuh jalan ilahi yang melakukan puasa dari dirinya sendiri dan dari mata orang lain. Tapi tetap proses ihtisab harus terus dilakukan.

Dengan ‘itqumminannaar (bebas dari api nerala) yang Allah berikan disepuluh ketiga Ramadhan, apa maksudnya ?
Maksudnya adalah bebas dari siksaan. Kalau ada sesuatu dirasakan “panas” oleh jiwa yang muthmainnah itu namannya siksaan. Mungkin sekali kita tidak merasakan adanya “siksaan”, karenanya, lagi-lagi, ihtisab atau perilaku berintrospeksi diri harus senantiasa dilakukan. Nah, Ramadhan adalah bulan melakukan introspeksi diri.

Nampaknya dibulan Ramadhan Allah sangat welcome sekali, sampai-sampai Nabi Saw memberitakan dua kegembiraan yang didapat orang berpuasa; yakni ketika berbuka dan ketika melihat Tuhannya. Bagaimana ini ?
O, iya. Ramadhan ini masa OPSPEK.

Maksudnya OPSPEK ?
Orientasi “Pekan” Study Pengenalan Eksistensi Keruhaniyan. Anda bisa rasakan saat anda berbuka puasa, betapa ruhani kita membasah saat kerongokongan basah oleh minuman pembuka yang membasahi kerongkongan dan disitu ada “kegembiraan” ruhaniyah. Coba anda bayangkan, pada bulan (Ramadhan) ini Allah turunkan al-Quran untuk manusia. Allah limpahkan juga lailatulqadr juga untuk manusia. Dan pahala setiap para pelaku puasa juga Allah sendiri yang turun langsung mengaturnya. Yang diminta Tuhan cuma satu, yaitu hati hamba-hamba Nya. “Jenis hati macam apa sich yang akan kalian perlihatkan pada-Ku ?,” Kata Tuhan. “Ini loch Tuhan, hatiku penuh dengan Asma, Af’al dan kerinduan akan-Mu,” jawab kita, dan lagi-lagi kita dapat merasakan kebahagiaan yang kedua.

Macam apa hati yang dimaui Tuhan pada hamba-Nya?
Seperti yang saya katakan barusan. Konkretnya, tak ubahnya seperti hati yang dimiliki Rabi’ah ‘Adawiyah. “Ibadah yang aku lakukan bukan karena aku takut akan neraka-Mu atau menginginkan limpahan nikmat taman surga loka-Mu. Ketahuilah Tuhan, yang kudamba adalah perjumpaan dengan-Mu,” kata Rabi’ah. Nah hati seperti ini yang dimaui Tuhan bukan cuma untuk kaum sufi saja tapi juga kepada setiap mukmin secara keseluruhan.

Lantas ?
Dari saking sayangnya, Tuhan mempersempit rintangan spiritualitas pada manusia. Kalau pada hari-hari diluar Ramadhan kebanyakan manusia disibukkan dengan makan ini itu, kerja ini itu yang bersifat materiil dan duniawiyah, di bulan Ramadhan godaan-godaan kearah sana Allah perkecil. Dengan kita berpuasa dibulan Ramadhan, bersama syarat rukunnya ilmu syari’at dan ilmu tasawuf, batin dapat memberi kesaksian perjumpaan kepada Tuhan.

Bukankah buat penempuh jalan ilahi setiap hari, baik didalam maupun diluar Ramadhan, juga adalah hari-hari Ramadhan?
Ya, benar ! bagi setiap penempuh jalan ilahi setiap hari adalah hari-hari Ramadhan dan setiap hari juga merupakan hari raya idul fitri bersama Allah.
Masihkah harus dijalankan puasa Ramadhan bagi setiap pelaku dunia ruhani?
Itu pasti ! Buat setiap salik, Ramadhan malah menjadi kebutuhan yang senantiasa dirindukan. Mereka tidak sekedar rindu Ramadhan, lebih dari itu mereka rindu Allah. Kegembiraan mereka atas datangnya bulan Ramadhan itu lebih didorong karena dibulan suci ini peluang ruhani untuk berjumpa dengan Tuhan sangat luas sekali. Andai saja raga ini tak mendapat titah untuk membungkus ruh para salik, mereka ingin keluar saja dari raga untuk menjumpai Tuhan yang amat sangat mereka rindukan.

Milik siapakah sebenarnya raga dan ruh itu ?
(Cahaya Sufi memperhatikan, budayawan gaek ini memilin-milin pelastik pembungkus roti yang masih menyimpan butiran-butiran keju. Diusapkan pilinan pelastik berisi keju itu ke sepasang sandal sepatu miliknya yang sudah terlihat kusam, lalu menjawab datar tanpa ekspresi:) Kalau sudah mati, raga ini menjadi milik cacing-cacing dan hewan-hewan tanah lainnya. Dan ruh, hanya milik Allah dan kembali kepada Allah.

Antara jasad dan ruh, siapakah diantara keduanya yang melakukan puasa?
Disaat kita berpuasa, sesungguhnya yang berpuasa itu jasad, tidak demikian halnya dengan ruh. Ruh malah berpesta menyantap hidangan-hidangan langit pada sebuah perjamuan yang bernama Ramadhan. Karenanya, mari kita jalani puasa Ramadhan penuh dengan iman dan ihtisaab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: