Oleh: Worksite Pelita Hati | Agustus 9, 2009

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdru Rahman al-Banjari dilahirkan pada tanggal 15 Shafar 1122 H / 17 Maret 1710 M. di Kampung Lok Gobang, Martapura, Kalimantan. Semasa kecil, ia termasuk anak yang cerdas, tidak saja cepat menangkap ilmu agama yang diajarkan kepadanya, tapi ia juga pandai mengembangkan diri dengan mempelajari ilmu lainnya. Selain itu, ia juga memiliki bakat melukis. Ayahnya, Abdullah, dan ibunya adalah sepasang suami-istri yang hidup sebagai zuhud yang taat menjalankan ibadah agama.

Semenjak masih kecil, oleh kedua orang tuanya, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dididik dengan penuh perhatian dan dengan tekun mengajarkan agama Islam kepadanya. Setelah itu, ia dijadikan sebagai anak angkat oleh penguasa Kerajaan Banjar Sultan Tahmidullah, karena Sultan merasa bahwa Muhammad Arsyad adalah anak yang campin, cerdas dan memiliki bakat melukis. Ia pun hidup di lingkungan istana, segala keperluan dan pendidikannya di bawah pengawasan Sultan Tahmidullah secara langsung. Dengan didikan yang bagus, pengawasan yang ketat, Muhammad Arsyad pun tumbuh menjadi seorang santri yang cemerlang. Kemudian ia pun dikirim oleh Sultan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmu agama. Ia menempuh pendidikan selama tiga puluh tahun di Mekkah dan lima tahun di Madina. Di Mekkah dan Madina pernah berguru pada Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syeikh ‘Athaullah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Madani. Selain belajar kepada ulama-ulama bangsa Arab, juga belajar kepada ulama-ulama yang berasal dari dunia Melayus seperti; Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Muhammad ‘Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani.

Setelah menimba ilmu di Mekah dan di Madinah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pun kembali ke Kalimantan. Kemudian ia mulai sibuk mengajar dan mengatur berbagai dasar-dasar syariat Islam dengan mendirikan hukum-hukum syariat Islam yang ditangani langsung oleh Sultan Tahmidullah, serta membangun struktur organisasi keagamaan dengan mengangkat seorang mufti kerajaan yang membawahi beberapa orang qadhi. Berbeda dengan tradisi kebanyakan ulama, ketika mereka belajar dan mengajar di Mekah, sekaligus menulis kitab di Mekah juga. Akan tetapi, lain halnya dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, walaupun dipercayai bahwa ia juga pernah mengajar di Mekah, namun karya-karya yang telah dihasilkannya semua ditulis di Banjar. Ini menunjukkan bahwa ia betul-betul mencurahkan khidmat derma baktinya di tempat kelahirannya yang telah menjadi tanggungjawabnya.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari wafat dalam usia 105 tahun, pada 6 Syawal 1227 H. / 3 Oktober 1812 M. di Martapura Kalimantan Selatan dan dimakamkan di Kampung Kalampaian. Salah satu karya peninggalannya paling terkenal yaitu kitab fiqh Sabilal Muhtain yang masih dijadikan sebagai bahan rujukan hukum-hukum fiqh di Indonesia dan nama kitab itu diabadikan pada sebuah Mesjib besar di Banjarmasin bernama Mesjid Sabilal Muhtadin.

2. Karya-karya

Sebagai sosok ulama besar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah mengarang beberapa kitab dalam bahasa Melayu, yaitu:

1. Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu‘minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M.

2. Luqtah al-‘Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M.

3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H/1780 M. Dicap Quastantiniyah (Konstantinopel, Turki, Mekah dan Madinah.

4. Risalah Qaul al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.

5. Kitab Bab an-Nikah.

6. Bidayah al-Mubtadi wa ‘Umdah al-Auladi.

7. Kanzu al-Ma‘rifah.

8. Ushul ad-Din.

9. Kitab al-Faraid.

10. Hasyiyah Fat-h al-Wahhab.

11. Mushhaf al-Quran al-Karim.

12. Fath ar-Rahman.

13. Arkanu Ta‘lim as-Shibyan.

14. Bulugh al-Maram.

15. Fi Bayani Qadha‘ wa al-Qadar wa al-Waba‘.

16. Tuhfah al-Ahbab.

17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna. Kitab ini dikumpulkan semula oleh keturunannya, Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari, dicetak oleh Mathba‘ah Al-Ahmadiah, Singapura.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: