Oleh: Worksite Pelita Hati | Juni 30, 2009

RISALAH SINGKAT TAREKAT SYATHTHARIYAH

RISALAH SINGKAT  TENTANG  ILMU  SYATHTHARIYAH

( KEBANYAKAN  ORANG  MENYEBUTNYA  DENGAN

TAREKAT  SYATHTHARIYAH )

I.              PENDAHULUAN.

Dengan Berkah dan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, apa yang kami sampaikan dalam risalah singkat ini, adalah jawaban terhadap bagaimana seharusnya kita menyikapi berbagai hal serta beraneka macamnya kepentingan, yang apabila tidak tepat dan “tidak pener” justru akan menjadikan kita terlempar, terpuruk dan sia-sia.

Seperti halnya keadaan umat Islam, sebenarnya sudah lama sekali telah “pangling” pada keasliannya Islam sebagai Agama Tauhid.

Sebagai ilmu yang paling mendasar tentang satu-satunya aqidah yang benar dan dibenarkan, maka kajian terhadap Ilmu Tauhid  seharusnya dapat tuntas dan menyeluruh. Sehingga pengenalan terhadap Ke-Esaan DiriNya Zat Yang Mutlak WujudNya, sejiwa dengan kehendak Allah bagi keimanan hambaNya kepada Al-Ghaib, isim yang mufrad dan ma’rifah. Yaitu tentang Satu-satuNya  Zat Yang Gaib yang tidak akan pernah menampakkan Diri di muka bumi (tidak akan pernah ngejawantah), namun jelas. Jelas dekat sekali Keberadaan-Nya. Jelas, terang, gamblang serta sangat mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati apabila secara benar ditanyakan kepada yang ahli akan hal ini. Maka peran dan pendalaman Ilmu Syaththariyah yang oleh kebanyakan orang disebut dengan tarekat Syaththariyah, sangat menentukan sekali. Sehingga apabila dengan benar dihayati dan diamalkan, akan menjadi “nyawa” dalam hidupnya. Akan dapat merasuk indah dalam rasa jiwa. Membentuk akhlak sebagaimana yang dikehendaki oleh Nabi-Nya. Membentuk watak dan kepribadian yang akan dapat selalu sabar dan tawakkal supaya dapat mencapai tingkat dan martabat rasa. Yaitu secara nyata, lahir dan batinnya, dalam menyembah kepadaNya, karena saking ikhlasnya, hingga sama sekali “tidak merasa” bahwa dirinya sedang berkorban dan berbakti. Maka jadilah hamba yang dalam segala tingkah laku dan perbuatannya, gerak dan gerik lahir dan batinnya, sama sekali sekali tidak karena diperintah oleh nafsunya. Akan tetapi semata-mata karena “katut siliring Qudratullah”. Dan hamba demikian, segala perbuatan yang dikerjakannya, pasti berfaedah bagi lain orang (masyarakat).

Diri Ilahi Yang Al-Ghaib, Innani Ana Allah, yang amat sangat dekat sekali dalam rasa hati, sebenarnya memang berada dalam “satu titik temu” dengan “inti manusia” yang sebenarnya juga selalu mencahaya dalam rasa jiwa dengan dzikr sirrun  ma’nawiyun yang diperoleh dari yang berhak dan sah menunjuki. Sehingga dari sini, akan dapat menghayati betap indahnya misal yang menggambarkan bahwa mengenali keberadaan Diri-Nya dengan ilmu tauhid secara tuntas dan menyeluruh, terasa bagaikan hidupnya ikan dalam samodra luas yang tiada batas.

Sebenarnyalah, bahwa manusia dan juga segala makhluk isinya  jagad raya serta jagad raya itu sendiri, dengan Tuhannya Yang Al-Ghaib dan Wajib WujudNya itu, bagaikan ikan dalam samodra. Yang hidupnya, bernafasnya, makannya, tidurnya, berjaganya, bergeraknya, daya dan kuatnya, juga matinya, tetap berada dalam samodra. Tidak ada bagian dari sel sekecil apapun yang tidak diliputi  oleh air samodra.

Oleh karena itu, apabila dicermati dengan hati yang bening dan pikiran yang jernih, betapa kuatnya Kemauan Allah Swt dalam Menonjolkan Keberadaan Diri-Nya Yang segala-galanya itu, Satu tetapi Menyeluruh. Dalam dzikr sirrun ma’nawi yang terhayati dalam rasa hati sebagai butiran iman yang gedenya sak mrica jinumput, tapi bila digelar “ngemplok jagad“.

Karena itu sekali lagi, betapa kuat sebenarnya Kemauan Allah Swt agar Keberadaan Diri-Nya diketahui dan dikenali oleh hambaNya yang namanya manusia ini. Dibeber lengkap dengan KalamNya yang 30 juz itu supaya selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati serta dijadikan tujuan hidup untuk didekati sehingga sampai (bertemu dengan-Nya lagi). Oleh karena itu, bagi siapa saja (asal Islam agamanya) yang secara dengan benar telah memperoleh Ilmu  Syaththariyah  dari  yang  berhak  dan  sah  menunjuki,   lalu   dihayati    dan  diamalkan pula secara benar dan ikhlas, maka dia akan menjadi hamba yang sadar sesadarnya bahwa adanya ditempatkan oleh Tuhan dalam hidup dan kehidupan dunia serta diwujudkannya dengan bentuk berjiwa raga, disadari sebagai tempat ujian baginya. Agar ditempat ujian ini, dapat hidup bersama hidayahNya dalam mengelola garapan dunia untuk dijadikan pemrosesan diri, menjadi pancatan yang kokoh guna mencapai tujuan dan cita-cita pulang kembali  bertemu dengan DiriNya lagi, disertai dengan hati yang selalu mengingat-ingat dan menghayati yang hendak dituju untuk dapat dicapai, yakni DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib ini. Dengan begitu maka akan menghadirkan fadhal dan rahmatNya, yang menariknya untuk dapat meniadakan hijab (kandungan makna kalimah nafi: Laailaaha) sehingga mata hatinya dengan jelasnya menyaksikan Keberadaan DiriNya yang selalu ditetapkan Ada dan WujudNya dalam hati (kandungan makna kalimat itsbat: illallah).

Hanya saja, di tempat dimana dunia dan wujudnya jiwaraga dipandang nyata oleh mata kepala serta mengira bahwa betapa indah dan nikmatnya sekiranya dapat memenuhi selera dari berbagai kepentingan hawa nafsu dan sahwatnya, tekad dan kerja keras manusia ternyata hanya memburu uceng tetapi kelangan deleg.

Uceng adalah misal daripada nikmat pemberianNya yang dikejar dan diburu setiap waktu dengan pengerahan segala tenaga, pikiran, biaya dan segala daya upaya bagaimana supaya dapat memperolehnya. Tetapi kepada deleg, gambaran dari simbol Sang Pemberi, yaitu Diri-Nya llahi Yang Al-Ghaib serta Wajib WujudNya ini, sama sekali tidak peduli.

Padahal, betapa kerasnya Allah Swt dalam firmanNya (QS. Yunus : 7, 8 dan 11) mengancam mereka yang dihidupkan olehNya dengan kehidupan dunia dan menjadikannya tidak berkehendak untuk bertemu dengan-Nya, ditetapkan olehNya sebagai ahli neraka dan dibiarkan hidupnya selalu bergelimang dengan kesesatannya. Mata hatinya lalu dijadikan buta olehNya. Buta sama sekali tidak mengetahui dan tidak mengenali DiriNya Yang meskipun Al-Ghaib, sangat dekat sekali. Bahkan lebih dekat Dia meski dibandingkan dengan urat nadi yang ada dilehernya sendiri. Berarti lebih dekat Dia meskipun dibandingkan dengan keluar masuknya nafas dalam dadanya.

Maka firmanNya-lah yang memutusi. Bahwa barangsiapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia), buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan Diri Tuhannya yang dekat sekali dan Wajib WujudNya), maka kelak di akherat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalan. Yakni ketika mati tidak pulang keasalnya. Tidak selamat bertemu dengan DiriNya Illahi. Tidak akan dapat merasakan betapa indah dan nikmatnya mati yang sebenarnya adalah sebagai “pintu gerbang” pulang kembali kepada Tuhan.

II.             ILMU SYATHTHARIYAH

Disebut ilmu karena memang ada obyek yang dikaji, untuk dapat dimengerti, didalami, bahkan dihayati lalu diamalkan. Kemudian ada ahlinya. Ahli yang secara benar menguasai supaya menjadi ikutan. Lalu ada kelompok pemraktek yang istilah Islaminya : jamaah.

Kemudian ada (dan bahkan kebanyakan orang) menyebut dengan Tarekat Syaththariyyah, sebenarnya juga tidak ada salahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa arti tarekat adalah jalan atau cara. Yaitu jalan atau cara bagaimana agar dalam mengamalkan ilmu Syaththariyah itu benar-benar dapat mencapai tujuan hingga dapat dengan selamat dan bahagia bertemu dengan Tuhan. (Akan dijelaskan pada bab tersendiri).

Kembali kepada – Ilmu Syaththariyah.

Ilmu Syaththariyah adalah ilmu yang menunjukkan “pintunya mati“. Agar saat mengalami mati yang hanya sekali saja merasakannya, dapat selamat.

Mati yang selamat adalah sebagaimana yang dikehendaki oleh firman Allah dalam QS. Asy Syu’ara ayat 87 s/d 89. Yaitu dijadikan hamba yang telah dapat sampai kepada Allah dengan hati yang selamat ketika harta benda dan anak-anak laki-laki tiada berguna di hari para hamba Allah dibangkitkan. Sehingga tidak dijadikan hamba yang dihinakan oleh Allah.

Oleh karena itu Ilmu Syaththariyah ini adalah juga ilmu yang menunjukkan tentang Keberadaan Diri Tuhan Zat Yang Al-Ghaib, Allah AsmaNya, supaya mata hati (yaitu hati nurani, bukan hati sanubari) dapat menangkap dengan yakin dan jelas atas keberadaan DiriNya Tuhan itu, hingga dengan mudah dapat selalu diingat-ingat dalam segala tingkah laku dan perbuatan, dimana saja, kapan saja serta dalam keadaan yang bagaimana saja.

Karena itu, sebenarnyalah, bahwa minta petunjuk Ilmu Syaththariyah kepada yang mempunyai hak dan sah menunjuki, hukumnya  fardu ‘ain.  Suatu kewajiban yang tidak bisa dihindari, bagi yang mengaku Islam agamanya, tidak pandang bulu, dari mana saja asal-usulnya, asal sudah mukallaf (sudah dapat menerima pengertian dan sudah bisa menyimpan rahasia). Bahkan lebih wajib meskipun dibandingkan dengan kewajiban-kewajiban yang lain, termasuk dengan kewajiban salat. Sebab, amanat Allah: Waaqimishshalaata lidhikri. Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-ingat Aku supaya ketika shalat tidak sahun (yang justru yang diancam dengan fawailun).

Aku  Zat  Al-Ghaib Yang Allah Asma-Ku, sama sekali tidak bisa digambarkan, tidak bisa dipikirkan, tidak bisa dibayangkan, tidak ada sesuatupun yang menyamaiNya, namun akan sangat mudah diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati apabila secara benar ditanyakan kepada ahlinya. Yaitu ahli dhikr.

Ahli dhikr adalah sebagai ungkapan kata ahli kubur. Orang yang telah mati karena itu dia selalu bertempat tinggal dalam kubur.

Demikian halnya ahli dhikr. Dia adalah hamba yang dibentuk oleh Allah berdasar ilmu yang diterima dari gurunya, dibentuk mempunyai hati nurani, roh dan rasa yang selalu maqam (bertempat tinggal) dalam dhikr. Bertempat tinggal dalam rasa hati yang senantiasa mengingat-ingat dan menghayati Ada dan Wujud DiriNya Zat Al-Ghaib yang dirasakan olehnya sangat dekat sekali.

Meminta petunjuk ilmu tentang pintunya mati supaya apabila sewaktu-waktu mati yang pasti akan ditemui dan hanya sekali saja dirasakan, supaya dijadikan hamba yang “Wujuhun yauma idzin naadziroh, ilaa Rabbiha naadziroh“. Dijadikan hamba yang dihari matinya itu saking bahagianya karena dapat selamat, hingga wajahnya (rasa jiwanya) berseri-seri (bercahaya), karena kepada Tuhannya melihat (kandungan makna QS. Al-Qiyamah 22-23), adalah memenuhi perintah Nabi Muhammad Saw: “Muutu qabla antamuutuu“.

Sebab mati yang benar itu: jasad busuk, hati ‘adam, roh sirna. Dan hanya tinggal sirr (rasa) yang kembali ke akherat.

Jadi  perlu diketahui bahwa manusia ini tersusun dari empat unsur kejadian.

Yang pertama, jasad. Keberadaannya di dunia dibatasi dengan umur. Wujud nafsu manusia tidak lain adalah wujudnya jasad yang dijadikan Allah, sengaja hendak diuji. Karena wujud jasad ini sebagai ujian, maka oleh Allah diberi hati (hati sanubari) yang wataknya persis seperti iblis, yakni abaa wastakbara. Ana khairun minhu. Enggan, acuh, tidak peduli pada kebenaran Al-HaqNya. Sombong dan takabur. Wataknya melampaui batas karena memandang dirinya serba cukup. Jadi sejiwa dengan nafsu yang perbuatannya yajri ilassu’i. Selalu mengajak kepada yang jelek dan salah. Yaitu semua hal yang sama sekali tidak sekehendak dengan Tuhan. Sifatnya laa ya’rifullah. Tidak mengetahui Allah. Sama sekali tidak mengerti dengan kehendakNya. Zatnya yamna’u minallah. Membantah Allah.

Itulah sebabnya harus terus menerus diperangi (jihadul akbar) hingga benar-benar kalah lalu mau patuh dan tunduk dijadikan kendaraannya hatinurani, roh dan rasa mendekat hingga sampai dengan selamat kepada-Nya.

Bukti bahwa jasad ini mau dijadikan tunggangannya hatinurani, roh dan rasa mendekat hingga selamat sampai kepadaNya adalah bersiap diri melaksanakan kewajiban syareat yang tiangnya shalat dengan khusyuk.

Shalat wajib dan juga memperbanyak salat-salat sunat (utamanya qiyamul-lail) adalah satu-satunya alat untuk mengembalikan terjadinya jasad yang terdiri dari kumpulnya tanah, angin, api dan air, supaya tidak akan menjadi hijabnya mata hati untuk dapat melihat Diri-nya Ilahi.

Karena itu, manusia, selama masih merasa mempunyai jasad, sama sekali tidak bisa meninggalkan salat.

Unsur kejadian manusia yang kedua adalah hatinurani. Letaknya tepat ditengah-tengah dada. Tandanya deg-deg. Disebut juga dengan hati jantung. Hati ini adalah wujud lembut yang dibangsakan Al-Ghaib karena sama sama tidak bisa dilihat oleh mata kepala, tetapi bukan Al-Ghaib. Bukan DiriNya Tuhan Zat Yang Gaib.

Sedang dalam QS. Al Ahzab 4 Allah telah berfirman bahwa Dia sama sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga dadanya.

Karena itu apabila dalam dada ini yang berfungsi hatisanubari (letaknya dibawah susu kiri kira-kira dua jari, serupa daging sak kiwir dengan bentuk daun semanggi dibelah dua), markas besarnya nafsu lawwamah. Bila ini yang berfungsi, maka hati nuraninya dengan sendirinya lalu tidak akan berfungsi sama sekali.

Dan apabila hati sanubari ini yang berfungsi, dapat dimisalkan bagai Raja yang hangkara murka yang dengan kekuasaannya itu ia akan menjadikan akal pikiran sebagai Perdana Menteri yang selalu siap membela dan membantunya.

Kemudian supaya hatinurani, hati yang dijadikan Allah dari cahaya, wataknya seperti para MalaikatNya yang rela patuh dan tunduk diperintah untuk sujud kepada wakilNya (memberlakukan diri kal mayyiti baina yadi al-ghasili), maka ia harus diisi dengan ilmu yang menjadikannya terbuka supaya dapat tembus langsung pada Keberadaan DiriNya, DiriNya Zat Yang Al-Ghaib yang sangat dekat sekali dalam rasa hati.

Karena itu, hatinurani ini kewajibannya melaksanakan kewajiban tarekat.

Tarekat adalah jalan. Jalan menuju kepada Tuhan. Dan oleh karena yang dituju Tuhan, maka hati ini harus mengetahui DiriNya Tuhan Zat Yang Al-Ghaib itu (yang secara benar ditanyakan kepada ahlinya), lalu berusaha terus menerus  mengingat-ingatNya serta dengan sungguh-sungguh memerangi nafsunya agar mau patuh dan tunduk memenuhi petunjuk dan perintahnya guru yang menunjuki ilmunya itu. Memenuhi amanah  Allah dalam QS. Lukman 15: “Wattabi’ sabiila man anaaba ilaiyya“. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Sejalan dengan ungkapan Al-Ghazali pada Ihya Ulumuddinnya: “Begitulah halnya seseorang yang berkehendak bertemu Tuhannya (murid) membutuhkan seorang syeh atau guru sang penunjuk yang membimbingnya pada shirathal mustaqiem. Sebab jalan keagamaan ternyata begitu samar-samar, dan jalan syaitan begitu beraneka. Barangsiapa yang tidak mempunyai sang penunjuk yang menjadi panutannya, dia akan dibimbing syaitan ke arah jalannya.

Dan hendaklah ia berpegang teguh pada gurunya itu bagaikan pegangan seorang buta di pinggir sungai, dimana dia menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang guru pembimbingnya, serta tidak berselisih pendapat dengannya”.

Hatinurani ini af’alnya (perbuatannya) selalu mengajak kepada kebajikan. Sifatnya ya’rifullaha. Zatnya muqabilatun ilallah. Selalu siap sedia memenuhi perintahNya Allah meski betapapun beratnya resiko yang harus dipikulnya.

Mati yang benar, artinya dapat selamat merasakan betapa bahagianya bertemu dengan Diri-Nya Tuhan, hati ini ‘adam. Yaitu membuktikan kebenaran yang dikandung oleh kalimah tauhid: Laailaaha illallah.

Laailaaha ini kalimah nafi. Maksudnya, membuktikan bahwa semua saja, seperti akon-akon dunia dan juga wujud jiwa raganya, zat sifat dan af’alnya hamba, semua telah nafi. Semuanya tiada.

Itulah sebabnya pada kalangan ahli Syaththariyah ada istilah: harus punya keberanian memperbanyak lakon dan pitukon.

Lakon adalah keberanian berjuang, berkorban dan berbakti, memenuhi kewajiban syareat dan tekad membentuk akhlak yang mulia yang kesemuanya itu guna memproses penafian wujudnya jiwa raga.

Pitukon adalah kerelaannya mengorbankan harta benda guna memproses penafian akon-akon dunia yang biasanya kental dengan nafsu sebab dikira itu adalah miliknya.

Sebab wujudnya jiwa raga dan kumantilnya dengan akon-akon dunia, semua itu adalah hijab yang menggelapi dan menutup mata hati hingga karenanya maka tidak bisa melihat kepada DiriNya Ilahi Zat Yang Al-Ghaib ini.

Illallah adalah kalimah itsbat (yang ditetapkan dalam hati). Yaitu Ada dan Wujud Diri-Nya Ilahi yang meski Al-Ghaib nyata sekali mudah diingat-ingat dan dihayati.

Sebab hakekatnya, Yang Ada dan Yang Wujud itu hanyalah satu saja. Yaitu DiriNya Ilahi. Dia tidak nampak oleh mata hati karena terdinding oleh wujudnya jiwaraga dan akon-akon dunia ini.

“Kullu man ‘alaiha faanin, wayabqa wajhu Rabbika dzul jalaali wal ikram”.

Maksudnya: Tiap-tiap manusia (dan apa saja yang lengket) padanya, fana. Dan Yang Langgeng (Kekal) hanyalah Zat Tuhanmu Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan. (QS. Ar Rahman 26-27).

Unsur kejadian manusia yang ketiga adalah roh. Letaknya di dalam hatinurani. Adalah wujud yang lebih lembut dibandingkan dengan hatinurani, juga dibangsakan Al-Ghaib karena sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala. Tetapi bukan Al-Ghaib. Bukan Tuhan. Dia adalah Daya dan Kekuatan Tuhan yang di masukkan kedalam jasad manusia lalu menandai dengan keluar dan masuknya nafas, menjadi hidup seperti kita di dunia sekarang.

Roh ini kewajibannya ngambah hakekat.

Seandainya sebuah pohon, hakekat itu yang tumbuh dari amal perbuatan syareat yang selalu dibarengi dengan tarekat.

Bila dimisalkan, hakekat ini adalah minyak yang diperoleh dari santan kelapa yang direbus hingga beberapa ratus derajad selsius. Dan tarekat adalah misal air santan yang diperoleh dari dagingnya kelapa yang diperas setelah memecah kelapa yang sudah tua. Dan syareat misal dari pada kulitnya kelapa.

Sehingga bisa dibayangkan, betapa seharusnya agar dapat memenuhi kewajiban tarekat apalagi hingga hakekat. Harus mempunyai keberanian memecah kelapa dari kelapa yang sudah tua. Artinya, harus ada tekad kuat dalam memerangi nafsu. Yakni wani rekasa, wani lara-lapa, wani mlarat. Bahkan juga harus berani mati.

Mati yang benar, roh ini sirna. Sebab roh yang dimasukkan ke dalam jasad manusia ini sebenarnya adalah Ruh Ilahi. Daya dan KekuatanNya Allah Swt yang biasanya dengan kuatnya di-aku oleh nafsu manusia. Bisanya diaku. Kuatnya diaku. Harta benda hasil kerja kerasnya, diaku. Pintarnya diaku. Jasadnya diaku. Amal-amalnya diaku. Semua saja yang pantas bagi kehormatan dirinya, diaku.

Supaya apabila mati roh ini dapat sirna (fana’fillah = meniadakan aku karena hanya merasakan AdaNya Sang Maha Aku), maka setelah memperoleh ilmu dari ijinnya guru yang hak dan sah menunjuki, bagaimana agar roh ini diberdayakan untuk ngambah hakekat. Yaitu rasa dan pandangan hati yang sepenuhnya menyadari bahwa hakekatnya (bahwa sebenarnya) Yang Wujud dan Yang Ada, Yang Bisa, Yang Kuat, Yang Empunya segala, Yang obah osik  dan Yang bergerak, Yang tandang (Yang Berbuat), adalah DiriNya Tuhan. Manusia ini sebenarnya adalah bagaikan daun asam yang berada di atas gelombang samodra. Bukan daun asam yang bergerak, tetapi karena ia katut ombaknya samodra. Dengan begitu maka, bagi hamba yang telah sampai pada tingkat demikian, yang paling ditakuti tidak lain adalah sekiranya Tuhan ini menjauh sehingga hatinya sangat mudah melupai DiriNya Ilahi yang dekat sekali dalam rasa hati.

Dan ternyata, meski telah memperoleh ijin dari guru yang berhak dan sah menunjuki tentang ilmu untuk mengingat-ingat DiriNya Yang Al-Ghaib ini, lupa itu ternyata tiba-tiba saja. Sebab itulah maka, taubatan nasuhanya tidak pernah lepas dari kesadarannya.

Kemudian tinggal sirr (rasa) yang kembali ke akherat.

Rasa adalah dasar manusia. Rasa yang kini ketika berada di dunia telah terbiasa diperalat nafsu. Rasa yang kini untuk merasakan berbagai hal dan segala macam. Seperti untuk merasakan asin, pahit, getir, padang, gelap, enak dan tidak enak, sakit, bungah dan susah, jibeg, sakit hati, frustasi, emosi dan semua hal tentang lahir batin manusia. Semua dirasakan oleh rasa ini.

Padahal rasa ini sebenarnya mempunyai tugas yang asli dan murni. Luhur dan suci. Yaitu supaya merasakan betapa nikmatnya, betapa indahnya, betapa bahagianya merasakan kehidupan akherat dengan Tuhannya, yang pintu gerbangnya adalah mati. Sehingga dan sebenarnya mati ini bisa menjadi puncak merasakan kesengsaraan dan pergetunan (rasa kecewa) selama-lamanya karena sesat (tidak pulang kembali menemui Tuhannya di akherat). Dan bisa menjadi puncak kebahagiaan karena selamat dapat merasakan betapa girangnya merasakan kembali bertemu Tuhan lagi.

Itulah sebabnya bahwa, ilmu Syaththariyah itu adalah ilmu yang ada di dalam rasa. Karena itu apabila tidak masuk sendiri-sendiri tidak mungkin akan dapat merasakan. Baru asinnya garam yang setiap saat kita makan, orang tidak bisa mengatakan betapa rasa asin itu. Apalagi ini tentang Al-Ghaibullah. Tentang GaibNya Zat Yang AsmaNya Allah.

Maka, perlu diketahui pula bahwa, akherat itu, pintunya ada di dalam dadanya sendiri-sendiri. Dengan begitu maka, meyakini (merasakan) betapa kehidupan akherat dengan rasa bahagia bertemu denganNya, bisa dihayati sejak masih berada hidup di dunia sekarang.

III.            CARA MEMPEROLEH ILMU SYATHTHARIYAH.

Disamping harus ada ijin dari guru yang hak dan sah menunjuki, bagi yang bersangkutan (yang berkehendak memperoleh ilmu), harus ada niatan yang kuat dan madep mantep.

Perlu diketahui bahwa ilmu ini adalah ilmu tentang Tuhan. Ilmu untuk mengenal DiriNya Zat Yang Al-Ghaib, Wajib WujudNya, dekat sekali dalamn rasa hati, Allah AsmaNya. Adalah ilmu yang menjadi pingitannya Allah Swt. Sebagaimana firmanNya dalam QS. Al Jin 26-27 bahwa hanya Dialah yang mengetahui Al-Ghaib itu, maka Dia sama sekali tidak memperlihatkan (dalam mata hati) tentang keberadaan DiriNya Yang Al-Ghaib itu kepada seorang pun. Kecuali bagi yang Dia ridhai (yang hanya dapat diperoleh ilmu tentang Al-GhaibNya itu) dari Rasul………..

Perlu diketahui pula bahwa keberadaan rasulNya Allah dalam kalangan ahli Syaththariyah, tidak terputus ketika Nabi Muhammad Saw wafat. Sebab yang wafat hanyalah jasadnya saja. Sedang nurnya (Nur Muhammad) Cahaya TerpujiNya Zat Yang Wajib WujudNya, dimana antara Cahaya dan ZatNya bagaikan sifat dan mausuf, bagaikan kertas dan putihnya, tetap menyatu dan menjadi satu, tidak ikut mati. Nur yang selalu mencahaya dalam dada Nabi Muhammad Saw ini juga harus terus mengalir terus kedalam dada hamba yang diridhai olehNya hingga sampai dengan kiyamat. Dan yang ditugasi Allah mengalirkan Cahaya TerpujiNya Zat Yang Wajib WujudNya ini adalah utusanNya.

Maka berimanlah kamu semua kepada Allah dan rasulNya dan kepada Nur yang telah Kami turunkan“. (QS. 64:8).

Nur yang dimaksud adalah Nur Muhammad. Cahaya TerpujiNya Zat Yang Wajib WujudNya. Cahaya yang dengan ZatNya selalu menyatu menjadi satu. Jadi Nur disini adalah juga Al-Ghaib itu sendiri.

Sedang lain-lain yang banyak sekali yang sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala, namanya al-ghuyuub. Beberapa hal yang dibangsakan gaib tetapi bukan Al-Ghaib. Bukan DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib.

Sebab Al-Ghaib adalah Satu-satuNya Zat Yang tidak akan pernah menampakkan diri di muka bumi dan ma’rifah. Jelas, seandainya barang, ini barangnya. Sebab seharusnya, memang harus dapat dengan mudah diingat-ingat dan dihayati keberadaanNya, apabila secara benar ditanyakan kepada ahlinya. (QS. 21:7).

Zat Tuhan Yang Allah AsmaNya (Al-Ghaib) karena tidak akan pernah ngejawantah, sedang keberadaan DiriNya Yang Al-Ghaib itu seharusnya (atas kehendakNya) supaya dapat dikenali dengan

yakin agar hambaNya tidak masuk ke jurang dosa yang tidak ada ampun dihadapanNya (dosa syirik), maka dalam QS. Ali Imran 179 jelas sekali, bahwa karena Dia sama sekali tidak akan mengajari kamu semua perihal AL-GhaibNya lalu Dia memilih utusan yaitu orang yang dikehendakiNya untuk mengajari perihal keberadaan DiriNya Yang Al-Ghaib itu. Hingga sarat menjadi muttaqien (supaya menjadi hamba yang mendapat hidayahNya), terpenuhi. (QS. 2:3)

Disamping itu agar tidak menjadi hamba yang bernasib seperti jin. Dimana iblis adalah golongannya jin (QS. Al Kahfi 50).

Tahulah mereka (jin-jin itu) sekiranya mereka mengetahui Al-Ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan“. (QS. Saba’ 14).

Juga supaya tidak mendapat kecaman dari Allah bagi mereka yang tidak memunyai ilmu (tentang) Al-Ghaib, lalu merasa dan mengaku mengetahui. (QS. An Najm 35).

Atau apakah mereka mempunyai Al-Ghaib lalu mereka (berani) menulis ?” (QS. Al Qalam  ayat 47).

Bahkan agar tidak akan menjadi hamba yang diancam dengan kerasnya azab karena ungkapan katanya yang: “Kami beriman kepada Allah”, bagaimana mereka dapat mencapai keimanan dari tempat yang jauh?”. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu dan mereka hanya menduga-duga saja terhadap (Ada dan Wujud DiriNya Yang) Al-Ghaib dari tempat yang jauh. (QS. Saba’ 52-53).

Kemudian bagi yang berkehendak kuat memperoleh ilmu harus mengetahui dan menyadari bahwa, Allah itu adalah AsmaNya Zat Yang Wajib WujudNya tetapi AL-Ghaib. Sebagaimana halnya nama dengan sendirinya tidak bisa apa-apa. Yang bisa berbuat apa-apa dan segala-galanya adalah ZatNya Yang Al-Ghaib itu.

Seperti halnya  apabila seseorang menikah, apakah akan puas dan menerima kalau hanya menikah dengan namanya saja, tetapi tidak dengan orangnya.

Karena itu perlu diketahui pula bahwa firman Allah: “Wamaa huwa ‘ala Al-Ghaibi bidhanin” (QS. Taqwir 24), tidak hanya berlaku pada masa Nabi Muhammad Saw masih hidup. Ini berlaku hingga kiyamat. Sebab Al Quran berlaku bagi umat Islam hingga kiyamat. (Meski ternyata sebagian besar tidak yakin), maka lalu azab Tuhan datang dan menghancurkan disaat Daabbah diberdayakan berkata. (QS. An Naml 82).

Keberadaan rasul yang selalu berada ditengah-tengahmu sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran 101, Al Hujurat 7, ternyata oleh ummat Islam sudah tidak diyakini benarnya. Sehingga Al-Haq min Rabbika, maunya diganti Al-Haqqu itu harus dari golonganku, dari pendapatku, dari bisaku, dari pinterku, dari kelompokku, dari siasatku, dari kebijakan-kebijakanku, dari kekuasaanku, dari harga diri dan kehormatanku, dan seterusnya………….

PERSIAPAN MEMPEROLEH ILMU SYATHTHARIYAH

Setelah nyata-nyata mempunyai niat yang kuat dan hati yang madep mantep, lalu mandi sesuci (sebab akan disentuhkan dengan DiriNya Zat Yang Maha Suci). Kemudian berpuasa, minimal 3 (tiga) hari. Dimana pada hari terakhir berpuasa, baru akan mendapat ijin memperoleh ilmunya.

Dan yang harus dipersiapkan lagi adalah dilatih memahami muqaddimahnya ilmu Syaththariyah. Yaitu dhikr 7 (tujuh) macam, yang harus dilatihkan oleh yang ditugasi melatih.

Setelah selesai diisi ilmu, berjaga (tidak tidur sehari semalam). Yaitu sejak mulai diisi hingga besuknya.

Kemudian membayar kifarat menurut kemampuan masing-masing.

Besar kecilnya kifarat, sebagai ukuran, seharga dengan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan matinya seseorang. Sebab ilmu Syaththariyah adalah ilmunya pati.

BAI’AT

Untuk memperoleh ilmu Syaththariyah yang akan diisikan kedalam rasa hati, harus melewati tatacara bai’at, dan dalam keadaan suci.

Bai’at tersebut memenuhi firman Allah dalam QS. Al Fath 10, bahwa sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada kamu (Nabi Muhammad Saw dan para penerus atau wakil-wakilnya Nabi Muhammad Saw yang berhak dan sah melanjuti  tugas kerasulannya), itu sebenarnya bai’at (langsung dengan) Allah Sendiri.

Hanya saja karena Allah tidak ngejawantah, maka Allah berkehendak membuat wakil DiriNya yakni hamba yang dikehendakiNya untuk semacam menyambung lidah.

Karena itu guru (yang dalam warga Syaththariyah disebut Wasithah), sama sekali tidak akan berani ngaku atau merasa menjadi guru. Hal demikian sama saja berani terjungkal dilembah murtad yang terbesar. Sama dengan berani ngembari Tuhannya.

Apa yang dia jalankan semata-mata karena sak derma nglakoni, menjalankan perintah gurunya sebagai lakon dan pitukon dirinya untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya sehingga selamat bertemu denganNya.

Di dalam upacara baiat ini juga disumpah dan dijanji. Antara lain, sama sekali tidak boleh melakukan dosa-dosa besar dan dosa kecil yang terus menerus. Harus dengan sabar dan tawakkal dalam menyembah kepadaNya hingga dapat seyakinnya selamat bertemu denganNya saat mati yang pasti menemuiNya. Untuk itu, maka harus memenuhi perintah Nabi Muhammad  Saw yang menjadi madlulnya hadis: “muutu qabla antamuutu”. Karena telah memperoleh ilmunya pati, maka jadikanlah untuk belajar mati sebelum mati yang sebenarnya. Supaya matinya seperti matinya para kekasih Ilahi, khusnul-khatimah. Dan janji berikutnya adalah tentang bagaimana belajar mati itu, yaitu harus melaksanakan perintahnya guru yang menunjuki ilmu itu. Yakni mengumpulkan syareat dan hakekat.

Syareat adalah perintah guru yang dapat dilihat mata kepala serta dikerjakan anggotanya badan, seperti kewajiban shalat, salat-salat sunat, puasa, zakat, berakhlak mulia, rela berlaku guyub rukun (bersama-sama dalam ibadahnya dan saling bertolongan di dalam kemelaratannya), tetapi juga rela berpisah di dalam kedurhakaannya.

Dan hakekat adalah, jangan sampai hati ini tidak mengingat-ingat DiriNya Ilahi Zat Yang Al-Ghaib (yang diperoleh dari pemberian guru dan yang telah diisikan ke dalam rasa hati), ketika melaksanakan kewajiban syareat.

Tangan Allah di atas tangan mereka (=sekuasa kuasa hamba yang berada di atas permukaan bumi dan dibawah langit (sejagad raya ini), masih Kuasa Allah, maka barang siapa yang melanggar janjinya, maka akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya kanugrahan yang besar.”. (QS. Al Fath: 10).

BERGURU KEPADA WASITHAH

Pada kalangan ahli Syaththariyah, Wasithah ini adalah “gegantinya Rasulullah”.

Pada bahasa hadisnya nabi, disebut dengan al-mahdi. Sebagaimana sabdanya: “Kamu semua wajib mengikuti sunnahku dan juga wajib mengikuti sunnahnya para wakilku yang almahdiyin ar-rasyidin”.

Kebetulan sekali beliau-beliau ini adalah dari kalangan ahlul-baitnya Nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana penjelasan para guru Wasithah bahwa yang dimaksud ahlul-baitnya Nabi Muhammad Saw bukan mesti harus turun kulit daging. Akan tetapi mereka yang “ahlul-kurub”. Mereka yang ahli prihatin.

Prihatin itu bukan susah. Tetapi mereka yang dengan secara sungguh-sungguh selalu berjihadunnafsi supaya darah yang mengalir dalam tubuhnya sebagaimana darah yang mengalir dalam tubuhnya Nabi Muhammad Saw, yang aliran darah dalam tubuhnya selalu mendorong semangat hidupnya watak supaya dapat mulus dalam mengikuti jejak para malaikatul-muqorrobin. Yakni mempunyai kepatuhan dan ketaatan secara utuh untuk berlaku sujud (=kal-mayyiti baina yadi al-ghasili = bagaikan mayit yang sepenuhnya pasrah bongkokan kepada yang berhak dan sah mensucikan).

Hal demikian dilakukan semata-mata demi mempersiapkan diri supaya ditarik fadhal dan rahmatnya dijadikan hamba yang muqorrobun. Hamba yang didekatkan kepada DiriNya oleh-Nya jua.

Pada kalangan ahlul-bait telah ada ketetapan untuk mempersiapkan diri seperti itu. Yakni:

لَـنْ يَـصِلَ اَحَدٌ اِلَى مَرْتَـبَـةِ الْـمُقَرَّ بِـيْنَ اِلاَّ بـِإِتْـبَاعِ الـنَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صلعم  قَوْلاً وَفِعْلاً, عِلْمًـا وَعَمَلاً, ظَاهِـرًا    وَبَا طِنًا أَوَّلاً  ثُـمَّ بِمُرَ قَبَـةِ وَحْدَةِ الْوُجُودِ ثَانِيًا.

Artinya: “Seseorang sama sekali tidak akan dapat mencapai derajat muqorrobun kecuali apabila seseorang itu itba` sepenuhnya kepada Nabi Muhammad Saw (dan atau kepada para wakilnya yang hak dan sah setelah beliau telah tiada). Yang harus diikuti secara total itu adalah: ucapannya dan perbuatannya. Ilmunya dan amalnya. Lahir dan batinnya, yang pertama. Lalu diikuti dengan rasa hati yang senantiasa ngijen-nginjen (mengintai-intai) Satu-satuNya Zat Yang Wajib WujudNya,  yang kedua”.

Dan bagi yang telah memperoleh ilmu secara benar, yang diintai-intai adalah isinya Hu.

Sekaligus memenuhi petunjuk Allah dalam QS. Ali Imran 31: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah juga akan mencintai kamu serta mengampuni dosa-dosa kamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Firman Allah yang menyebut: Ikutilah aku, dengan sendirinya juga mengikuti para wakilnya yang  hak dan sah yang terus gilir gumanti dalam rantai silsilah yang tidak pernah putus sama sekali hingga kini dan sampai kiyamat nanti.

Hal diatas juga telah dengan jelas diungkapkan oleh sabda Nabi dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Al Hakim dan Adz Dzahabi:

قال رسول اللــه : اَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَاَنْـتَ (ياَ عَلِى) بَابُهَا. وَلَنْ تُؤْتَى الْـمَدِيْـنَةَ اِلاَّ مِنْ بَابِهَا وَكَذَبَ مَنْ زَعَمَ اَنَّـهُ يُحِبُّنِى وَيَـبْغَضَكَ لاَِنَّكَ مِنِّى وَاَنَا مِنْكَ لَحْمُكَ لَحْمِى وَدَمُكَ دَمِى وَرُوحُكَ رُوحِى وَسَرِرَتُكَ سَرِيرِى وَعَلاَ نِـيَّـتِكَ عَلَى نِيَّـتِى سَعِدَ مَنْ اَطَاعَكَ وَشَقِىَ مَنْ عَصَاكَ وَرَبِحَ مَنْ تَوَلاَّكَ وَخَسِرَ مَنْ عَادَاكَ وَفَازَ مَنْ لَزِمَكَ وَهَلَكَ مَنْ فَارَقَكَ, مِثْلُكَ وَمِثْلُ الْأَئِمَّةِ مِنْ وَلَدِكَ بَعْدِى مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّقَ عَنْهَا غَرِقَ وَمِثْلُكُمْ مِثْلُ النُّجُومِ كُلَّ مَا غَابَ نَجْمٌ طَلَعَ نَجْمٌ اِلَى يَوْمِ الْقِـيَامَةِ.

Bersabda Rasuluillah Saw: “Aku adalah kotanya ilmu dan kamu Ya Ali adalah pintunya. Dan janganlah masuk kota kecuali dengan lewat pintunya. Berdustalah orang yang mengatakan cinta kepadaku tetapi membenci kamu, karena kamu adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari kamu. Dagingmu adalah dagingku, darahmu adalah darahku, rohmu adalah rohku, rahasiamu adalah rahasiaku, penjelasanmu adalah penjelasanku. Berbahagialah orang yang patuh kepadamu dan celakalah orang yang menolakmu. Beruntunglah orang yang mencintaimu dan merugilah orang yang memusuhimu. Sejahteralah orang yang mengikutimu dan binasalah orang yang berpaling darimu.

Kamu dan para Imam dari anak keturunanmu sesudahku ibarat perahu Nabi Nuh; siapa yang naik diatasnya selamat,  dan siapa yang menolak (tidak naik) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”.

Kullu maa ghaaba najmun thala’a najmun ila yaumil-kiyaamah”. Setiap kali bintang itu tenggelam maka terbit lagi bintang hingga sampai kiyamat.

Kalimat terbit menggunakan fiil madhi (thala’a). Maksudnya antara bintang sebelum dan sesudahnya (antara guru sebelumnya dan yang dikehendaki Ilahi sebagai penerus tugas dan fungsinya) itu tidak hanya kenal. Tidak hanya sebagaimana hubungan guru dan muridnya akan tetapi atas kehendak dan ijinNya digulawentah sedemikian rupa sehingga sekiranya ditinggal mati telah benar-benar siap menerima pelimpahan. Begitulah sejak Nabi Muhammad Saw yang mempersiapkan Sayidina Ali bin Abu Thalib Ra. Kemudian melimpahkan wewenang kepadanya sebagai wakil yang meneruskan tugas dan fungsi kerasulannya.

Firman Allah yang berkaitan dengan perihal di atas adalah sebagaimana dalam QS. Al Maidah ayat 67: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanahNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang tidak percaya (terhadap adanya penerusan tugas dan fungsi kerasulan  ini)”.

Begitulah maka rantai silsilah itu berjalan terus. Sayidina Ali kepada Sayidina Hassan Asy Syahid. Kepada Syeh Zainal Abidin. Kepada Syeh Imam Muhammad Baqir. Kepada Ruhaniat Imam Ja’far Shadiq. Kepada Ruhaniat Sulthan Arifin Ibnu Yazid Al Busthami. Kepada Syeh Muhammad Maghrib. Kepada Syeh Arabi al Asyiqi. Kepada Qutb Maulana Rumi Ath Thusi. Kepada Qutb Abu Hassan Al Hirqoon. Kepada Syeh Hud Qoliyyu Mawaran Nahar. Kepada Syeh Muhammad ‘Asyiq. Kepada Syeh Muhammad ‘Arif. Kepada Syeh Abdullah Syathor. Kepada Syeh Hidayatullah Saramaat. Kepada Syeh Al Haj Al Hudhuri. Kepada Sayid Muhammad Ghauts Ibnu Sayid Hataruddin. Kepada Sayid Wajhuddin bangsa Malwi. Kepada Sayid Sifatullah Ibnu Sayid Ruhullah. Kepada Sayid Ibnu Mawaahib Abdullah Ahmad Ibnu Ali bangsa Abbas. Kepada Syeh Muhammad Ibnu Muhammad di Madinah. Kepada Syeh Abdurrauf Ibnu Ali bangsa Hamzah Fansuri. Kepada Syeh Abdul Muhyi di Safarwadi Tasikmalaya. Kepada Kyai Mas Bagus (Kyai Abdullah) di Safarwadi. Kepada Kyai Mas Bagus Nida’ (Kyai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi. Kepada Kyai Muhammad Sulaiman (Pangeran Atas Angin I) di Begelen Jawa Tengah. Kepada Kyai Mas Bagus Nur Iman (Pangeran Atas Angin II) di Begelen. Kepada Kyai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Pangeran Atas Angin III) di Begelen. Sebelum wakilnya yang hak dan sah secara istiqomah domisilinya, tugas guru Wasithah ini dititipkan kepada Kyai Bagus Ahmadi di Kalangbret Tulungagung. Dan setelah yang berhak benar-benar istiqomah domisilinya, lalu segera diserahkan kepada yang berhak. Yaitu Raden Margono di Kincang Maospati. Kemudian kepada Kyai Ageng Sepet Aking di Maospati. Kepada Kyai Ageng Rendeng di Maospati. Kepada Kyai Ageng ‘Aliman di Pacitan. Kepada Kyai Ageng Ahmadiya di Pacitan. Kepada Kyai Haji Abdurrahman Tegalreja Magetan. Dan sebelum yang berhak mewakili istiqomah domisilinya dititipkan kepada anak muridnya yaitu Raden Ngabehi Wignyowinoto Palang Kayo Caruban. Setelah yang berhak mewakili istiqamah domisilinya lalu segera diserahkan kepada mBah Nyai Ageng Hardjo Besari. Kemudian kepada mBah Kyai Hassan Ulama’ di Takeran Magetan. Kepada mBah Kyai Hajji Imam Muttaqin di Takeran Magetan. Kepada Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin di Takeran. Kepada mBah Kyai Mohammad Kusnun Malibari di Tanjunganom Nganjuk. Dan kini kepada penulis sendiri yang semata-mata sakderma nglakoni. Sebab apabila tidak dilaksanakan perintahnya guru yang seperti itu, maka yang diazab paling dahsyat oleh Tuhan adalah penulis sendiri.

MUKADDIMAHNYA ILMU SYATHTHARIYAH

Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa termasuk persiapan untuk mendapat ijin dari guru yang hak dan sah menunjuki Ilmu Syaththariyah adalah dilatih mukaddimahnya ilmu yang diperagakan  pada jagading pribadi.

Mukaddimah ini adalah sebagai “plataran” atau “tangga” untuk masuk kedalam Ilmu Syaththariyah. Banyaknya ada 7 (tujuh) macam dhikr, disesuaikan dengan jumlahnya nafsu manusia yang juga ada 7 (tujuh) macam. Sebab, “mlebu maring Allah” atau bercita-cita supaya dapat selamat pulang kembali bertemu dengan DiriNya Ilahi harus dengan mengendarai nafsu.

Mukaddimah tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Thawaf.

Dilakukan pada jagading pribadi. Caranya, memutar kepala, mulai dari bahu kiri. Alat penunjuknya adalah dagu (simbol PenaNya Allah Swt dengan tintanya: Nur Muhammad). Dengan dagu tersebut lalu untuk menggaris dada (mulai dari bahu kiri) menuju ke bahu kanan, berputar pada pusat (udel bhs. Jawanya), membentuk Lam Alif, dengan mengucap kalimah : Laailaaha, dengan menahan nafas.

Setelah sampai pada bahu yang kanan lalu menarik nafas, baru mengucapkan kalimah itsbat: Illallah yang dipukulkan (oleh dagu) tersebut ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu yang kiri.

Perlu diketahui bahwa dhikr itsbat tersebut adalah yang nomer dua.

Perlu diketahui pula bahwa bahu yang kanan, tempat menarik nafas ketika hendak mengucap kalimah nafi Illallah, adalah simbolnya “maqam firok”. Simbul pisahnya yang hak dengan yang batal. Simbul nafinya zat sifat dan af’alnya hamba untuk supaya dapat membuktikan bahwa Satu-satuNya Yang Wujud dan Yang Ada adalah yang  diitsbatkan (yang ditetapkan) dalam hati. Yaitu DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib yang hanya dapat diketahui dari guru Wasithah yang berhak dan sah menunjuki.

Perlu dipahami pula bahwa mukaddimah yang nomer satu dan nomer dua di atas, di dalamnya ada maksud. Ada kandungan maknanya.

Bahu kiri (tempat mulai thawaf) dan bahu kanan (sebagai simbol maqam firok), adalah simbol hamba yang mempunyai keberanian dengan tekad yang mantap, meski betapapun beratnya resiko yang harus ditanggung guna dapat memenuhi amanah Ilahi.

Jadi sebagai simbol keberanian memikul amanah dari Allah Swt. Yaitu: “Wa’bud Rabbaka  hatta ya’tiyakal yaqin“, yang mengandung makna supaya menyembah Tuhan Yang AsmaNya Allah dengan kesungguhan berjihadunnafsi supaya dapat lulus dalam mengikuti watak dan jejak para malaikatul-muqorrobin, rela sepenuh hati sujud (= memberlakukan diri bagai mayit yang patuh dan taat dihadapan yang berhak dan sah mensucikan), hingga akan ditarik fadhal dan rahmatNya dapat seyakinnya merasakan hadirnya yang disembah itu. Yaitu selamat dan bahagia merasakan betapa nikmatnya mati karena dapat selamat bertemu dengan DiriNya Ilahi.

Karena itu ketika menjajah jagad (menjalani kehidupan dunia sebatas umur masing-masing sebagai ujian dan cobaan ini) supaya dapat lulus harus berani menahan nafas. Ngempet ambegan. Lambang untuk dapat mencapai sesuatu yang amat sangat penting. Agar dapat menjadi hambaNya Ratu Adil karena dapat dimengertikan bagaimana caranya mengadili dirinya sendiri supaya hidupnya tidak ditipu dayakan nafsu. Apalagi hingga sampai diperintah dan dijajah. Lalu menjadi hamba yang berjiwa hurriyah tammah. Menjadi hamba yang rasa jiwanya merdeka sejati. Menjadi hamba cahayaNya Ilahi di muka bumi. Dijadikan olehNya dapat mengaktualisasikan fitrahnya jati diri.

Karena itulah maka ketika melakukan dhikr itsbat (Illallah), dagu dipukulkan kearah hatisanubari supaya markas besarnya nafsu lawwamah ini tidak berfungsi.

Setelah melakukan dhikr thawaf sebagaimana di atas tiga kali, dilanjutkan dengan dhikr nafi itsbat (Laailaaha illallah) sebanyak mungkin dengan menghidupkan cipta angan-angannya bahwa semua hal tentang dunia dan apa saja termasuk wujud jiwa raganya, nafi. Tidak ada. Dibarengi dengan hati mengintai-intai DiriNya Ilahi (IsiNya Hu). Dan apabila ternyata masih selalu merasakan ada terhadap apa saja (dan ternyata pula memang demikian yang terjadi), maka segera saja menyadari atas salah dan dosanya sendiri. Masih banyaknya lakon dan pitukon yang belum dijalani. Masih banyak sekali sembrananya dan masih sangat kurang kesungguhannya dalam berjihadunnafsi. Dengan demikian jiwa taubatan nasuhanya terus menghidupi diri. Itulah sebabnya mengapa warga ahli Syaththariyah ini apabila melakukan dhikr nafi itsbat (=Laailaaha illallah), suara yang dikeraskan adalah juga suara nafinya. Yakni ucapan Laailaahanya. Sebab begitu mengucap:il (yang lengkapnya illallah), suara seperti dimasukkan kedalam yang EmpuNya Asma Allah, yaitu IsiNya Hu.

Dhikr nomer tiga pada mukaddimahnya ilmu Syaththariyah ini adalah dhikr itsbat faqod. Yaitu: Illallah, Illallah, Illallah. Dipukulkan ke dalam hatinurani dengan alat pemukul dagu. Bermaksud mempertegas, bahwa hanya Diri-Nyalah  (IsiNya Hu) Zat Yang Wujud dan Yang Ada. Sehingga hati yang menjadi markas besarnya nafsu lawwamah ini benar-benar sirep. Benar-benar lerep. Tidak akan mengganggu perjalanan dan cita-cita hatinurani, roh dan rasa dalam tujuan mendekat sehingga sampai ma’rifat kepadaNya.

Nomer empat dhikr Ismun Zat. Yaitu: Allah, Allah, Allah. Arah yang dipukul oleh dagu tepat pada tengah-tengah dada. Mengarah pada roh yang keberadaannya di dalam hatinurani. Supaya benar-benar disadari dan kepahami bahwa roh yang menandai  adanya hidup dan kehidupan dengan keluar masuknya nafas dalam dada lalu karena itu wujud jiwaraga mempunyai daya dan kekuatan, ini semua adalah Min Ruuhihi. Daya dan KekuatanNya Allah Swt. Sama sekali bukan daya dan kekuatannya nafsu yang terbiasa telah diaku oleh wataknya nafsu. Sebab bila yang demikian diterus-teruskan, sama saja dengan telah berani menjadi hamba yang ngembari Tuhannya. Dengan sendirinya, segala tingkah laku dan perbuatan lahirnya dan batinnya berada di dalam kemusyrikan. Selalu berada dalam perbuatan dosa terbesar yang sama sekali tidak ada ampunnya di hadapan Tuhan.

Nomer lima dhikr Taroqi. Yaitu: Allah – Hu, Allah -Hu.

Ucapan Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam baitul makmur (markasnya berpikir). Maksudnya supaya markas besarnya berpikir ini selalu dicahayai oleh Cahaya Ilahi, sehingga potensinya pikir akan benar-benar dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah dunia bagi membuktikan hablum minannasnya. Bagi mengelola garapan dunia yang oleh Allah dicipta tidak sia-sia dan tidak batal ini, namun karena markasnya berpikir selalu dipadangi oleh CahayaNya, sama sekali tidak akan ditujukan untuk mengumpulkan harta benda dunia. Sama sekali tidak untuk bersenang-senang. Sama sekali tidak untuk ngumbar hawa nafsu dan sahwat. Untuk jor-joran. Berbangga-bangga dan bermegah-megah dengan kehidupan dunia. Tetapi semata-mata demi untuk Subhaanaka. Demi untuk mensucikan Zat Yang Maha Suci. Karena itu maka, hasil kerja kerasnya, semata-mata dijadikan sebagai pancatan yang kokoh guna mensucikan diri supaya dapat selamat dan bahagia bertemu lagi dengan Zat Yang Maha Suci.

Nomer enam dhikr Tanazul. Yaitu: Hu-Allah, Hu-Allah.

Hu diambil dari baitul-makmur (otak), dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Sebab akherat itu pintu masuknya ada di dalam dada. Attaqwa hahuna (3X) sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, yang dituding beliau adalah dadanya. Sehingga akan senantiasa berkesadaran tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi, bahwa hidup dan kehidupan dunia dengan segala kewajiban hamba yang dilakukannya adalah merupakan proses nyata terhadap kandungan makna: Inna Lillaahi wa inna ilahi raaji’uuna.

Nomer tujuh dhikr Isim Ghaib. Yaitu: Hu, Hu, Hu,  dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan. Yang diarah tepat tengah-tengah dada menuju ke arah kedalamannya rasa yang telah diisi dengan dhikr (ingatnya hatinurani pada Al-Ghaib = IsiNya Hu).

Dhikr Hu ini asalnya dari Hak wau di dhammah. Yaitu dhamir huwa. Dhamir yang maknanya adalah: “sesuatu yang tersimpan di dalam hati tentang Ada dan Wujud DiriNya Zat Al-Ghaib Yang Allah AsmaNya”. Dan ini adalah makna kandungan   firman Allah dalam surat Al Ikhlas: Qul Huwa Allahu Ahad.

Mukaddimahnya Ilmu Syaththariyah (dhikr tujuh macam) di atas adalah sebagaimana maksud yang dikandung pada firman Allah di QS. Al Mukminun ayat 17:

وَلَقَدْ خَلَقْـنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآ ئِـقَ وَ مَـا كُــنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِيْنَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan  Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”.

Maka perlu pula diketahui bahwa hal di atas adalah penjelasan adanya: “arraasikhuuna fil Ilmi” (orang-orang yang mendalam ilmunya) tentang keberadaan Ada dan Wujud DiriNya, Zat Yang Wajib WujudNya, Al-Ghaib, dekat sekali dalam rasa hati, Allah AsmaNya, supaya ungkapan firmanNya perihal Ulul Albaab tidak hanya dibibir saja. Dan supaya tidak terperosok kepada mereka yang karena condong pada kesesatan lalu menjadikan ayat-ayat yang mutasyabihat itu untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya (berdasar watak akunya yang ciri khasnya abaa wastakbara). Adalah kandungan makna firmanNya dalam QS. Ali Imran ayat 7).

TENTANG TUJUH MACAM NAFSU

Sebagaimana pada penjelasan mukaddimahnya ilmu Syaththariyah bahwa adanya 7 macam dhikr dalam mukaddimah tsb. Disesuaikan dengan jumlah nafsu manusia yang juga ada 7 macam.

Pada firman Allah QS. Al Hijr 43-44, bahwa jahannam sebagai tempat yang telah diancamkan  kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.

Kemudian dari yang kuterima dari petunjuk guru, baik ini hasil kajian dari beberapa kitab tasawuf seperti Futuhatul Uluhiyah, Ma’na sirr fi bayani ma’rifah Billah, Majnunullah dan lain-lain (utamanya dari petunjuk dan penjelasan guruku), tujuh pintu jahannam itu tidak lain adalah tujuh macam nafsu manusia itu sendiri yang wataknya memang ada kerja sama dangan syaitan.

Syaitan ini adalah semua pengaruh yang mengajak diri manusia supaya tidak melakukan jihadunnafsi guna memberlakukan diri bagai watak malaikatNya Allah dalam berbuat sujud (=kal mayyiti baina yadil ghasili) dihadapan wakilNya Allah di bumi  (Yakni: Guru  Wasithah  yang hak dan sah); yang datangnya pengaruh itu dari luar dirinya.

Sedang nafsu adalah pengaruh yang datang dari dalam diri sendiri yang menyebabkan diri sama sekali tidak melakukan jihadunnafsi guna berbuat bagai malaikatNya Allah berlaku sujud (=kal mayyiti baina yadil ghasili) dihadapan wakilNya Allah di bumi = yakni Guru Wasithah yang hak dan sah sebagai pelanjut tugas dan fungsi Rasulullah yang silsilahnya tidak pernah putus sejak dari Nabi Muhammad Saw lewat Sayyidina Ali bin Abu Thalib hingga kini dan sampai kiyamat nanti.

Wajib diketahui bahwa tujuh macam nafsu yang masing-masing mempunyai tentara, buat nafsu amarah dan lawwamah, jelas, tentaranya kasar dan ingkar. Sedang yang mulhimah, muthmainnah, radhiyah, mardhiyah dan kamilah, tentaranya nafsu tersebut mulai baik-baik dan bahkan luhur serta mulia. Namun apabila tetap saja di aku (tidak mau bersandar kepada Guru Wasithah), namanya tetap saja nafsu, yang perbuatan nafsu ini  selalu dan senantiasa yajri ilassuu’i. Senantiasa mengajak kepada yang buruk dan salah.

Yang buruk dan yang salah adalah kehendak yang tidak sejalan (tidak cocok) dengan kehendak Tuhan. Padahal kehendak Allah, untuk dapat kembali selamat bertemu denganNya harus berbuat kal mayyiti baina yadil ghasili (patuh dan tunduk kepada Wasilatahu = Guru Wasithah).

Karena itu maka sifatnya nafsu ini sama sekali tidak mengerti kepada Tuhannya. Tidak mengerti bahwa Tuhan Zat Yang Al-Ghaib ini sangat dekat sekali. Mudah dan indah diingat-ingat dan dihayati keberadaan Ada dan WujudNya apabila dengan benar ditanyakan (digurukan) kepada yang ahli tentang DiriNya (Ahladzdzikri).

Maka dzatnya nafsu adalah yamna`u minallah. Membantah kepada Tuhannya. Karena abaa wastakbara yang memang menjadi ciri watak akunya.

Itulah sebabnya Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah : 54

فَا قْـتُـلُوْا اَنْفُـسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَبَا رِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ اِنَّـهُ هُوَ الـتَّـوَّابُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu,  maka Allah akan menerima taubatmu“.

Maksudnya, yang dibunuh adalah watak akunya nafsu, supaya si nafsu menjadi patuh dan tunduk ditunggangi oleh cita-citanya hatinurani, roh dan rasa mendekat kepadaNya dengan jalan kalmayyiti baina yadi al ghasili dihadapan gurunya. Sehingga mempunyai watak seperti watak para malaikat memenuhi perintahNya berlaku sujud (patuh dan tunduk) kepada wakilNya. Yakni para utusanNya yang bersambung silsilahnya hingga  sampai kini hingga kiyamat nanti.

Adapun tujuh macam nafsu beserta tentaranya adalah sebagai berikut:

1.   Nafsu Amarah. Letaknya di dada agak sebelah kiri. Tentaranya senang berlebihan, royal, angah-angah, hura-hura, jor-joran, serakah, dengki, dendam, iri, membenci, bodoh tidak tahu kewajiban, sombong, tinggi hati, senang nuruti sahwat, suka marah-marah dan akhirnya gelap tidak mengetahui Tuhannya.

2.   Nafsu Lawwamah. Letaknya ada di dalam hati sanubari di bawah susu yang kiri kira-kira dua jari. Tentaranya: enggan, acuh, senang memuji diri, pamer, senang mencari aibnya orang lain, senang menganiaya, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.

3.   Nafsu Mulhimah. Tempatnya kira-kira dua jari ke arah susu yang kanan dari tengah dada. Tentaranya: suka memberi, sederhana, menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, merendahkan diri, taubat, sabar dan tahan menghadapi kesulitan serta siap menanggung betapa beratnya melaksakan kewajiban.

4.   Nafsu Muthmainnah. Tempatnya dalam rasa kira-kira dua jari ke arah susu kiri dari tengah-tengah dada. Tentaranya: senang sedekah, tawakkal, senang ibadah, senang bersyukur kepada Tuhan, ridha kepada hukum ketentuan Allah dan takut kepada Allah.

5.   Nafsu Radhiyah. Tempatnya dalam rasa, dalam hati nurani dan di seluruh jasad. Tentaranya:  pribadi yang mulia, zuhud, lkhlas, wira`i, riyadhah, menepati janji.

6.   Nafsu Mardhiyah. Tempatnya di alam yang samar, mengarah kira-kira dua jari ketengah dada. Tentaranya: bagusnya budi pekerti, bersih dari segala dosa makhluk, rela menghilangkan kegelapannya makhluk, senang mengajak dan memberi pepadang kepada rohnya makhluk.

7.   Nafsu Kamilah. Tempatnya di alam nyamaring nyamar. Mengarah di kedalaman dada yang paling dalam. Tentaranya: ilmu-yakin, ainul-yakin dan haqqul-yakin.

Sebagaimana yang diterangkan di muka, bahwa meski nafsu mulhimah (nomer 3) sampai dengan nafsu kamilah tentaranya bagus-bagus, luhur dan mulia, namun apabila tetap diaku, artinya tidak karena untuk memenuhi perintah Guru Wasithah serta tidak bersandar kepadanya dalam mengamalkannya, tetap saja nafsu. Karena telah tegas bahwa : LA BIWUSHULI ILAIHI ILLA BI WAASITHATIN. Tidak akan dapat sampai dengan selamat bertemu Tuhan Dzat Yang Al-Ghaib Yang Allah AsmaNya apabila tidak dengan Wasithah.

Karena itu bagi seseorang yang kuat dalam cita-citanya untuk mendekat kepadaNya sehingga selamat bertemu denganNya harus mengetahui adanya pedoman: “Iqbalunnasi `alal muriidina qobla kamali tsammun qaathilun”. Artinya rasa puasnya orang yang berkehendak bertemu Tuhan terhadap temuan yang belum sempurna (lalu menjadikan berani meninggalkan Wasithah), ini adalah racun yang membunuh. Mengakibatkan tidak akan selamat bertemu Tuhannya.

IV.           CARA ATAU JALAN BAGI MURID (ORANG YANG BERKEHENDAK BERTEMU TUHAN) HINGGA SELAMAT DAN BAHAGIA DAPAT SAMPAI KEPADA-NYA

Setelah secara benar memperoleh ilmu Syaththariyah dari ijinnya Guru Wasithah yang berhak dan sah menunjuki, diharapkan lalu menjadi murid. Yaitu menjadi orang yang berkehendak bertemu Tuhan. Caranya harus dengan selalu dapat mengalahkan nafsunya supaya dapat mengikut jejak para Malaikatul-Muqorrobin. Yaitu sujud (= bermakna kal mayyiti baina yadi alghasili = memberlakukan diri patuh dan tunduk kepada yang berhak dan sah mensucikan, yaitu Wasithah).

Adapun jalan yang harus ditempuh supaya dapat selamat dan bahagia bertemu denganNya, harus dengan sungguh-sungguh melatih dan mendidik diri sendiri bagaimana agar setiap masuknya nafas ke dalam dada dibarengi dengan dhikr. Dibarengi dengan ingatnya hati kepada isiNya Hu.

Sebab, nafas itu apabila masuk dan tidak keluar lagi, namanya mati.

Kemudian jalan pemrosesan diri sebagai lakon dan pitukon mendekat kepadaNya sehingga sampai, ada 3 (tiga) macam.

Yang pertama yaitu senang melakukan bersama dengan sesama saudara setujuan dan secita-cita, melaksanakan amal perbuatan yang mudah dikerjakan oleh gerak dan tingkah lakunya jasad. Seperti memperbanyak salat, memperbanyak berpuasa, memperbanyak membaca Al Quran serta gerakan-gerakan lain  yang besar faedahnya bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya yang istilah populernya, mempunyai kepedulian sosial. Sebagaimana yang banyak disabdakan oleh hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, termasuk perbuatan yang kebanyakan orang menganggap sepele, yaitu menyingkirkan duri dari jalan yang biasa dilewati orang.

Yang kedua senang melakukan bersama-sama dengan sesama saudara setujuan dan secita-cita untuk bersungguh-sungguh di dalam mujahadahnya. Mujahadah yang harus disertai dengan:

1.             Bagusnya budi pekerti (bitahsinil akhlaq).

Akhlaq yang bagus ini terbentuk dari seseorang yang ilmunya manfaat. Yaitu seseorang yang dengan ilmunya itu menjadikan ia selalu mengetahui terhadap aibnya diri. Selalu mengetahui terhadap aibnya mencintai (til-kumantilnya hati) kepada dunia. Serta mengetahui terhadap bencananya amal baik, yaitu watak takabur, sum’ah, ujub dan ria. Dengan demikian akan dijadikan Allah hamba yang dipandaikan mengadili dirinya sendiri.

Sadar bahwa ternyata aibnya diri selalu menyertai, perbuatan salah dan dosa selalu terbawa, maka akan segera diikuti dengan perbuatan-perbutaan baik.

Itulah sebabnya maka seseorang yang bagus pekertinya, ia akan hidup tidak akan mementingkan diri sendiri. Akan dengan rela hati meringankan beban orang lain yang membutuhkan. Suka menolong atas derita sesama.

2.             Disertai dengan sucinya jiwa-raga (tazkiyatunnafsi).

Adalah hamba Allah yang memiliki semangat etos kerja agar yang dimakan adalah makanan yang halal. Yang disandang adalah sandang (pakaian) yang halal. Yang ditempati adalah tempat tinggal yang halal.

Adalah memenuhi wasiat guru kepada segenap muridnya, bahwa katanya: “Urip ing ndonya iki mosok angel, sauger gelem ukril ya gempil. Sing angel iku sejatine, yen ora mekoleh pitulunganE Gusti Allah, yaiku olehe tansah gelem merangi nafsune dewe supaya patuh lan tunduk didadekake tunggangane atinurani, roh lan rasa bali maring Allah hingga tumeka”.

3.             Disertai dengan beningnya hati  (tashfiyatul-qalbi).

Hati yang bening adalah hati yang dilatih dan dididik untuk supaya tidak digunakan munculnya cipta angen-angen dan gagasan (hiyal-wahmi) yang terjadinya karena mengikut kehendaknya watak bangsa manusia. Oleh karena itu bagaimana agar supaya hati ini terlatih hanya untuk mengingat-ingat hal-hal  yang diridhai oleh Tuhan.

4.             Disertai dengan senang bersama-sama sesama saudaranya melakukan hal-hal bagi syiarnya agama Allah. Seperti membangun sumber-sumber pendidikan bagi penyiapan generasi yang ‘arifun billah yang didukung oleh pendaya gunaan sarana dan prasarana terhadap kesiapan sumber dayanya cita-cita Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.

Yang ketiga yaitu senang bersama-sama sesama saudara setujuan dan secita-cita untuk secara bersama pula membuktikan rasa cintanya kepada Allah supaya menjadi Asy-Syaththoor. Yakni hamba yang ditarik fadhal dan rahmatNya telah dapat mengeluarkan dari dalam hatinya semua hal tentang dunia. Hingga yang tetap dalam hatinya hanyalah DiriNya Tuhan Zat Yang Al-Ghaib dan Wajib WujudNya, Allah AsmaNya. Ini adalah satu-satunya jalan yang tetap bagi selamatnya mati dan sekaligus memenuhi wasiat Nabi Muhammad Saw: “Muutu qabla antamuutu.  Dan supaya dapat lulus untuk mencapainya, harus memenuhi beberapa dasar sebagai berikut:

Pertama Dasar Taubat.

Yaitu hamba Allah yang selalu menuduh kepada dirinya sendiri bahwa dirinyalah orang yang paling banyak sendiri dosa-dosanya, paling banyak sendiri salah dan kurangnya, apes, hina, nista, tidak bisa apa-apa dan tidak punya apa-apa, merasa jelek sendiri meskipun dibanding dengan kere di bawah jembatan. Sadar sebagai hamba yang disebutkan oleh firman Allah: “Yaa ayyuhannaasu antumul-fuqaraa”. Hamba yang faqir. Karena itu rasa hatinya selalu berharap untuk dapat selalu dekat dengan Yang Tidak Punya Apes, Langgeng, Sempurna dan Maha Kuasa.

Jadi rasa hati sebagaimana dasar taubat tersebut bukan berarti mengarah pada rasa rendah diri. Tetapi tawadhu’ yaitu andap asor. Wira’i sekaligus menjaga akhlaqul-karimah.

Ini adalah hamba yang karena manfaat ilmunya, telah mulai bisa membalik watak.

Watak manusia yang apabila mendapat koreksi bahkan celaan, biasanya kecewa, marah dan tidak terima, dia justru bersyukur. Diterima sebagai datangnya peringatan dari Tuhannya untuk mawas diri dan koreksi diri. Bersyukur dan menyadari terhadap masih banyaknya kesembronoan dirinya. Salahnya dan gemampangnya.

Kemudian watak manusia yang apabila dipuji. lalu senang dan bangga. Justru bagi dia diterima dengan rasa takut sekiranya sampai berani ngembari Tuhannya. Sebab segala puja dan puji hanyalah bagi DiriNya Ilahi.

Manakala demikian halnya, maka keguyub-rukunan akan terbentuk dengan sendirinya karena satu dengan yang lainnya saling kasih mengasihi. Saling sayang menyayangi. Terbentuklah kokohnya rasa kesatuan dan persatuan sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw yang memberikan isarah:                “Sesungguhnya diantara hamba Allah terdapat manusia yang bukan Nabi dan bukan pula syahid, pada hari kiyamat mereka disisi Allah lebih hebat dari tempat para Nabi dan para Syuhada”. Para sahabat lalu bertanya: “Wahai Rasul beritakanlah kepada kami siapa mereka ini?”.

Jawab Rasul:          “Mereka itu adalah  orang-orang yang saling kasih mengasihi dengan Rauhillah dikalangan mereka, sedangkan diantara mereka tidak terdapat tali kekerabatan dan tidak juga ada hubungan uang dan harta. Demi Allah mereka adalah cahaya dan sesungguhnya benar-benar diatas cahaya. Mereka semua tidak takut ketika kebanyakan manusia merasa takut dan mereka semua tidak gundah dan resah ketika kebanyakan manusia gundah dan resah”.

Kedua Dasar Zuhud.

Yaitu “Tapa ing sak tengahing praja”.

Terhadap praja, yakni lingkungannya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya mempunyai kepedulian besar untuk memajukan. Menjadi lahan tambahnya lakon dan pitukon dalam memproses diri untuk mendekat kepada Allah. Tetapi rasa hatinya “tapa “. Bahwa yang diingat-ingat dan dihayati adalah Diri-Nya Tuhan yang sangat dicintai untuk dikumantili. Sehingga apabila dirinya dimampukan Allah untuk memajukan masyarakatnya, bangsa dan negaranya dengan mewujudkan bangunan yang bermanfaat dan berguna, maka yang disyukuri bukanlah ujudnya bangunan yang dia ikut di dalamnya. Tetapi yang disyukuri adalah Diri Tuhannya yang telah menjadikan hatinya “mau” membangun. Dengan begitu akan terhindar dari bencananya amal baik, yakni takabur, ria, sum’ah dan ujub.

Ketiga Dasar Qanaah.

Dalam bahasa Jawanya “Narima ing pandum”.

Tetapi maksud qanaah yang sebenarnya bukan hanya demikian. Yakni seseorang yang karena kuatnya tekad dalam membuktikan niatnya  mendekatkan diri kepada Allah sehingga sampai dengan selamat bertemu dengan-Nya, maka ia akan dengan sungguh-sungguh berusaha mengurangi, syukur dapat menghilangkan dari dalam dirinya watak dan kehendak bangsa hewan.

Hewan yang wataknya rakus, menangnya sendiri, mementingkan  kelompoknya, tidak punya akal budi, di samping itu tujuan hidupnya hanyalah mengejar nikmatnya makan dan nikmatnya sahwat belaka. Sedang hal seperti itu adalah halangan terbesar bagi pendekatan diri kepada Allah. Karena itu wajib diketahui bahwa seseorang yang atas ijin Allah memperoleh ilmu secara hak dan sah dari guru (Wasithah), telah dijanji untuk sama sekali tidak melakukan dosa besar yang orang Jawa menyebutnya dengan malima.

Keempat Dasar Tawakkal ‘ala Allah.

Yaitu “kumandel maring Allah”. Kuatnya rasa hati yang merasakan betapa dekatnya Dia Dzat Al-Ghaib Yang Wajib Wujud-Nya karena itu sangat mudah dan nikmat diingat-ingat dan dihayati, maka segala gerak-gerik dan perbuatan lahir batinnya selalu “nggandul” kepada Diri-Nya. Rasa dalam hati pasrah dan sumeleh (nggletak) kepada-Nya. Seseorang yang tawakkal ‘ala Allah akan menjadikan dirinya  tidak akan mengangkat sesuatu beban angkatan apabila diukur dirinya tidak mampu mengangkatnya. Dengan begitu hatinya akan selalu dapat istiqamah.

Kelima Dasar  Uzlah.

Yaitu “Nyingkrih ana ing sak tengah-tengahing kalangan”. Menyendiri di tengah-tengahnya kalangan. Di kalangan masing-masing ia akan berusaha keras untuk maju dan profesional dalam menyiapkan diri sebagai sumber daya manusia yang dapat sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk majunya kehidupan masyarakat, bangsa dan negaranya, namun tekadnya menyendiri. Tidak sebagaimana kebanyakan manusia di muka bumi ini. Tekadnya sama sekali tidak akan untuk bersenang-senang. Untuk pamer dan jor-joran. Berbangga-bangga dengan harta, kedudukan dan kehormatan serta  gengsinya harga diri. Apalagi hingga mengumbar hawa nafsu dan sahwat. Tekadnya menyendiri demi untuk dapat memenuhi lakon dan pitukon guna mempercepat laju perjalanan hati nurani, roh dan rasanya mendekat kepada Tuhannya hingga sampai dengan selamat dan bahagia bertemu dengan-Nya.

Perlu diketahui bahwa penjelasan sebagaimana pada bagian IV ini adalah kesungguhan hamba yang ditarik oleh fadhal dan rahmatNya memenuhi amanatNya sebagai yang dimaksud oleh firmanNya QS. Al Maidah 35.

يـاَ يُّهَــا الَّـذِيْنَ امَنُوا اتَّـقُوا اللّــهَ وَابْـتَغُوْا اِلَيْهِ الْوَسِـيْلَةَ وَجَا هِدَوْا فِيْ سَبِيْلـِه لَـعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan cari untuk dapat selamat sampai kepadaNya itu al Wasiilata dan berjihadlah dijalanNya supaya kamu memperoleh kemenangan”.

Yang diperintah oleh Allah dalam firman di atas adalah hambaNya yang beriman.

Hamba yang ma’rifatun wa tashdiqun. Hamba yang dalam hatinya ada sesuatu yang selalu mencahaya. Dan sesuatu itu adalah tentang Ada dan Wujud DiriNya Yang Al-Ghaib yang memang nyata sekali ada dalam rasa hati. Lalu membenarkan. Membenarkan bahwa yang dicahayakan dalam hatinya itu (isiNya Hu) adalah Diri TuhanNya. Tuhan Yang AsmaNya Allah. Innani Ana Allah. (QS. Thaha 14).

Dan membenarkan  bahwa yang memberi petunjuk secara hak dan sah itu adalah guru Wasithah yang berfungsi sebagai gegantinya Rasulullah, yang apabila semua petunjuk dan perintahnya dipenuhi dengan percaya sepenuh hati, buah dan manfaatnya serta sampainya kepada Allah, sama persis dengan seandainya langsung diperintah oleh Nabi Muhammad Saw sendiri.

Itulah hati yang oleh Allah diboyong dari dzulumat kepada nur.

لَوْلاَ اَنَّ الشَّـيَا طِيْنَ يَحُوْمُوْ نَ عَلى قُلُوْبِ بَنِ آدَمَ لَـنَظَرُوْ اِلى مَلَكُوْتِ السَّـمَآءِ

Jikalau tidaklah syaitan-syaitan itu mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka dapat memandang  ke alam malakutissamaa`”.

Iman sebagaimana penjelasan di atas adalah keimanan hati yang digambarkan dapat memandang alam malakut yang tinggi. Dan hanya terjadi karena ditarik oleh fadhal dan rahmaNya Allah Swt. Sebab sekiranya tidak ditarik oleh fadhal dan rahmatNya yang mesti kamu semua pasti mengikut jalan syaitan, kecuali sedikit. (QS. An Nisa` 83).

Dan taqwanya kepada Allah adalah karena bergeloranya rasa iman dalam dadanya itu lalu “mujtahidun fii ‘ibadatihi bishidqin wa ikhlashin”. Yaitu bersungguh-sungguh dalam ibadahnya itu dengan benar dan ikhlas.

Kemudian masih diperintahkan lagi (oleh Allah): dan cari untuk dapat sampai kepadaNya itu al Wasiilata serta diperintahkan berjihad dijalannya agar memperoleh keberuntungan /kemenangan.

Al Wasiilata yang dapat menjadikannya selamat bertemu Tuhannya, tidak lain adalah taat melaksanakan semua dawuh guru Wasithah, meskipun pada kenyataannya sangat tergantung pada tingkat dan kemampuan masing-masing.

Dan supaya benar-benar beruntung, yakni dapat merasakan betapa indah dan bahagianya kembali bertemu dengan Tuhannya lagi, harus dapat memenangkan peperangan. Yaitu kesungguhannya dalam mengalahkan nafsunya supaya dapat selalu patuh dan tunduk dijadikan kendaraannya hatinurani, roh dan rasa mendekat hingga sampai kepadaNya.

Sebab si nafsu yang tidak lain adalah wujudnya jiwaraga, terhadap semua dawuh guru (terhadap semua petunjuk dan perintahnya guru yang hak dan sah ini), sama sekali tidak mau peduli. Membantah, dengan watak akunya yang disokong sepenuhnya oleh watak makhluk  yang berani ablasa kepadaNya, yakni abaa watakbara.

Guru Wasithah sebagaimana yang banyak diungkap dalam tulisan ini, disebut hak dan sah menunjuki ilmu tentang mengenal Diri Ilahi Zat Yang Al-Ghaib. Memberi petunjuk adanya jalan lurus untuk dapat selamat sampai denganNya, ada tanda-tandanya.

Tanda yang pertama terangkum dalam rantai silsilah yang secara gilir gumanti sama sekali tidak pernah terputus dari Nabi Muhammad Saw lewat Sayyidina Ali bin Abu Thalib Ra, hingga kini dan sampai kiyamat nanti. Dan fahuwa wahidun. Hanya satu saja, meskipun dimungkinkan bahwa pada periode tertentu mempunyai beberapa wakil yang dipercaya membantu tugasnya. Seperti yang terjadi pada jamannya para wali di tanah Jawa yang juga membai’at ilmu Syaththariyah kepada beberapa orang yang dikehendaki karena dipercaya oleh gurunya (yang pada jaman ini Guru Wasithah masih berdomisili di tanah Gujarat dan kemungkinan juga masih berada di tanah Persi).

Demikian halnya pada jaman Nyai Ageng Hardjo Besari. Karena perempuan, atas kehendak Allah beliau mengangkat 8 (delapan) orang wakil, yang kesemuanya laki-laki. Termasuk suaminya sendiri.

Tanda berikutnya, (semata-mata atas ijin Allah dan kehendakNya), kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub, yang dilaksanakan setiap habis tengah malam hingga sampai waktu subuh. Di awali sejak dari Maghrib.

Yaitu reruba (mengajak) kepada para wali yang ditugasi menjaga kutub-kutubnya jagad. Diajak bersama-sama memohon kepada Allah Swt.

Mengapa disebut kuat. Sebab, mujahadah yang satu ini, seandainya tidak atas ijin Allah dan kehendakNya, yang memusuhi adalah semua wadyabalanya iblis. Yaitu lelembut sak lumahing bumi sak kurepnya  langit.

Mengapa mereka memusuhi? Sebab mereka ini (iblis dan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari lelembut sejagad ini), sama sekali tidak senang apabila tidak semua hamba yang namanya manusia ini matinya tidak ikut mereka. Masuk ke alam sesatnya. Sebagaimana sesumbar mereka yang diabadikan Allah dalam QS. Al Hijr bahwa karena telah diputus sesat, maka sesumbar akan membentukkan pandangan baik bagi manusia, yang bentukan pandangan baiknya itu dengan sendirinya tidak sejalan dengan kehendak Allah, hingga seluruh manusia di bumi akan dengan mudah disesatkan olehnya. Kecuali hamba Allah yang mukhlis.

Tanda yang ketiga, guru Wasithah yang hak dan sah ini (atas ijin dan kehendakNya) dipusakai 4 (empat) martabat.

Martabat Mursyidun

Ialah yang memperoleh pelimpahan wewenang dan ijin untuk menunjukkan ilmu tentang Al-GhaibNya Zat yang Allah AsmaNya serta jalan lurusNya supaya dapat selamat sampai kepadaNya dari guru yang sebelumnya yang silsilahnya berantai tidak pernah putus gilir gumantinya sampai kepada Sayyidina Ali bin Abu Thalib Ra dari KN Muhammad Saw.

Dan memberi petunjuk atas berbagai tingkat temuan si murid (yang berkehendak bertemu Tuhannya) agar apa yang menjadi  temuannya itu tidak menjadikan hambatan dan begalan terhadap tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai.

Martabat Murbiyyun

Yakni tidak jemu-jemunya ngitik-ngitik (mendidik dan membimbing si murid supaya mempunyai kesabaran (mempunyai ketahanan mental yang tahan ujian dalam memberlakukan jihadunnafsi terhadap dirinya sendiri). Mengingat bahwa memproses diri untuk berjalan mendekat kepada-Nya adalah semua hal yang tidak disukai oleh nafsu.

Ini adalah perjalanan yang rumpil sekali. Banyak pengorbanannya. Besar cobanya.

Ini adalah proses suci yang dicapai. Luhur yang digayuh dan sampurna wusanane.

Martabat Nashihun

Yakni memberi nasehat. Dan isi nasehatnya sama sekali tidak akan bertentangan dengan firman-firman Allah dalam Al Quran dan tidak akan bertentangan dengan hadis-hadis Nabi. Sebab, keduanya adalah merupakan saksi nyata kebenaran Al-HaqNya (kebenaran kelangsungan tugas dan fungsi kerasulannya Nabi Muhammad Saw).

Karena itu apabila segala nasehatnya ditaati, buah dan manfaat yang diterima serta sampainya dengan selamat bertemu denganNya, sama persis seperti seandainya langsung dipimpin oleh KN Muhammad sendiri).

Martabat Kamilun

Yakni sempurna dan menyempurnakan. Sebab hakekat Guru ini, Dia Sendiri. Tuhan sendiri. Maka dari itu jasad yang kebetulan ditugasi dan disebut dengan ahladzdzikri, ahli mengingat-ingatNya dengan hatinurani, roh dan rasa yang selalu menghayati DiriNya sehingga dengan seyakinnya telah mengenal Dia Zat Yang Al-Ghaib dan Allah nama-Nya, sama sekali tidak akan berani ngaku dan merasa menjadi guru. Takutnya luar biasa seandainya sampai muncul watak berani mengembariNya. Sebab ia sendiri yang diwujudkan jasad sebagai manusia biasa, juga mati-matian bagaimana seharusnya mengamalkan apa saja (petunjuk dan perintah) dari guru yang menugasi dirinya itu.

Dan menyempurnakan. Maksudnya bagi murid yang taat sepenuh hati kepadanya, iapun juga akan sempurna. Selamat dan bahagia bertemu dengan Zat Yang Maha Sempurna.

V.            LAIN DARI PADA YANG LAIN

Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang lain dari pada yang lain, meskipun apa yang telah diungkap sejak bab pertama hingga bab empat, telah banyak pula ditemukan penjelasan-penjelasan yang ternyata juga lain dari pada yang lain. Maksudnya tidak sebagaimana  yang telah secara  luas diketahui oleh sebagian besar umat Islam.

Lain dari pada yang lain itu antara lain sebagaimana yang dijelaskan oleh guru  kami dari ungkapan kitab Fathurrahman fi bayani ma’rifat billah terhadap pernyataan: Wa’lam anna ‘Ilmattauhidi mathluubun liqauli Ta’ala: “Fa’lam annahu laailaaha illa Ana. Wahuwa mustalzimun liintifaaisysyirki”.

Dan ketahuilah bahwa ilmu tauhid itu harus dicari. Yang dicari adalah yang berkewajiban menunjuki. Tidak maktubun dan tidak maqruun. Tidak ada pada bacaan dan juga tidak ada pada tulisan. Sebab ilmu Tauhid ini adalah ilmu yang ada di dalam rasa. Rasa yang menjadi dasar manusia ini di dalamnya ada fitrahnya jati-diri yang asal mula tempatnya adalah DiriNya Zat Yang Al-Ghaib, Wajib WujudNya, Allah AsmaNya. Karena itu memang sebenarnya sangat dekat sekali. Sehingga ketika telah menerima ilmu tauhid ini secara benar dari yang berkewajiban memberi, maka rasa hati akan dapat dilatih dan dididik untuk dapat selalu mengingat-ingat dan menghayati Satu-satuNya Zat Yang Al-Ghaib ini dalam segala tingkah laku dan perbuatan lahir dan batinnya. Sebab selain DiriNya Zat Yang Wajib WujudNya ini, adalah nafi (=kandungan makna kalimah nafi: laailaaha). Zat Yang Mutlak WujudNya  hanyalah: Ana. Yakni AKU  yang sangat dekat sekali dalam rasa hati. Ilmu Tauhid ini dijeguri agar terhindar dari dosa syirik yang tidak ada ampun di hadapanNya.

Itulah sebabnya maka, mengapa Sayyidina Ali bin Abu Thalib Ra  mengutarakan bahwa: “Kullu syai’in bila Huwa baathilun”. Bahwa segala sesuatu perbuatan dan tingkah laku manusia terhadap kerja apa saja, apabila tanpa Huwa, tidak dibarengi dengan hati ingat pada IsiNya Hu, batal. Sebab tingkah laku dan perbuatan yang demikian, namanya karena diperintah nafsu. Tidak karena katut siliring Qudratullah.

Lain dari pada yang lain berikutnya adalah tentang sunnah yang dalam sebuah hadisnya, Nabi Muhammad Saw menegaskan untuk wajib diikuti. Demikian pula sunnah para wakilnya yang al-mahdiyyin al-raasyidin.

Bagi warga Syaththariyah, yang disebut wakil atau penggantinya Nabi Muhammad Rasulullah bukanlah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, yang menurut kami itu adalah khalifah dalam hal pengelolaan ummat Islam dari segi pemerintahan. Tetapi khalifah yang dimaksud adalah wakil atau pengganti sebagai ikutan dalam hal Al-Haqqu min Rabbika. Baik tentang ilmu yang menunjukkan keberadaan DiriNya Yang Al-Ghaib yang harus dikenali dan bahkan dijadikan tujuan hidup untuk didekati hingga bertemu, maupun tentang sunnahnya, yang sama sekali bukan dari hasil ketetapan musyawarah. Bukan pilihan manusia, tetapi dari Tuhan sendiri.

Sunnah yang asli maknanya: jalan, adalah jalan lurusNya. Yaitu shirathal-mustaqim. Pada Kitab Makna Sirr fi Bayani Ma’rifat Billah, inilah jalan yang ditempuh oleh semua NabiNya Allah, para utusanNya dan juga para wali (kekasihNya). Yakni jalan yang lahirnya adalah pelaksanaan tertibnya amal-amal syareat dibarengi dengan hakekat, yaitu batin (=rasa hati) yang mapan dalam mengingat-ingat dan menghayati Diri-Nya Ilahi (IsiNya Hu).

Lain dari pada yang lain berikutnya adalah pengertian syareat dalam kalangan warga Syaththariyah. Bahwa yang dikatakan syareat kaitannya dengan shirathal-mustaqim diatas adalah semua dawuh guru yang dapat dilihat mata kepala, diucapkan lesan dan dikerjakan dengan anggotanya badan.

Demikian juga dengan pengertian wahyu. Bahwa berdasar petunjuk Allah dengan firmanNya dalam QS. 21 ayat 7 dan 25, wahyu tersebut berlanjut meski jasad Nabi Muhammad telah tiada ditengah-tengah kita. Sebab tugas dan fungsi kerasulannya sama sekali tidak ikut mati. Tugas dan fungsi kerasulannya yang menerima wahyu untuk menunjukkan perihal Ada dan Wujud DiriNya Yang Al-Ghaib itu supaya dengan itu hamba Allah ini dapat membuktikan kandungan makna Laailaaha illa Ana, sebagaimana yang telah cukup panjang dijelaskan dimuka, tidak ikut mati. Jelas sekali kandungan firmanNya dalam QS. 21 ayat 7 dan 25:

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada ahladhdhikri jika kamu tidak mengetahui”.(QS. 21:7)

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Annahu laailaaha illa Ana, fa’buduuni. (QS. 21: 25).

Jadi, sekali lagi, perlu dijelaskan, bahwa perjuangan, pengorbanan, pengabdian dalam memenuhi kewajiban syareat yang bagi warga Syaththariyah dikenal dengan pelaksanaan lakon dan pitukon dan yang harus dilaksanakan dengan penampilan akhlaq yang mulia, semua itu semata-mata demi untuk memproses penafian. Yakni untuk menafikan zat sifat dan af’al dirinya (wujudnya jiwa raga) maupun untuk menafikan akon-akon dunia serta jagad seisinya, membuktikan kandungan makna kalimah nafi: Laailaaha. Hingga apabila telah sesuai lakon pitukonnya, diampuni Tuhannya, lalu ditarik fadhal dan rahmatNya, akan benar-benar dijadikan hamba yang dapat menyaksikan keberadaan Ada dan Wujud Diri TuhanNya yang selalu diupayakan agar dapat selalu ditetapkan/diitsbatkan dalam hati. Ini adalah kandungan makna kalimah itsbat: Illallah. Namun demikian, perlu dipahami bahwa hal sebagimana di atas tidak bisa dikejar dan diburu. Tidak bisa dengan keburu nafsu. Maka, sekali lagi, sekali-kali jangan meninggalkan petunjuknya guru.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman bahwa Laailaaha illallah itu adalah benteng-Ku. Siapa yang masuk dalam benteng-Ku, akan selamat dari semua azabKu.

Maksud hadis qudsi di atas adalah kalimat laailaaha illallah yang dijeguri dengan dasar ilmu dari guru yang hak dan sah itu. Dan sekiranya tidak, ya akan hanya ngawang diangan-angan kosong.

Termasuk lain dari pada yang lain adalah penjelasan tentang rukun iman, rukun Islam dan ihsan yang menyatu di dalam Sibghatallah. Menyatu dalam rasa jiwa yang nyelup di dalam samodranya ‘arifun billah. Karena imannya kepada Allah dengan Allah, maka imannya kepada para MalaikatNya Allah adalah dengan mengikut jejak para Malaikat yang dengan rela sujud = kal mayyiti baina yadi al-ghasili. = bagai mayit yang taat sepenuhnya kepada yang mensucikannya. Yakni kepada wakilNya Allah di bumi. Wakil yang dipilih sendiri olehNya guna mewakili DiriNya karena Dia tak akan menampakkan Diri di muka bumi. Wakil yang secara persis mengenali Muwakkil guna membimbing manusia pulang kembali menemui-Nya. Para wakil Allah yang demikian ini adalah para Nabi dan para Rasul serta para penggantinya. Yaitu Guru Wasithah.

Beriman kepada Kitabullah. Kitabullah adalah KalamNya. Ini adalah Cahaya DiriNya. Cahaya yang dengan EmpuNya Cahaya (ZatNya) bagaikan sifat dan mausuf. Bagaikan kertas dan putihnya. Selalu menyatu menjadi satu. Itulah sebabnya ada firman Allah yang menyatakan: “Layamassuhu illa al-muthahharuun”. Tidak akan dapat menyentuhnya kecuali yang disucikan olehNya.

Dan bagi yang dijadikan dapat menyentuhnya, Kitabullah ini akan dapat menjadi obor yang madangi akal budi dan hatinuraninya hingga menjadi terang dan gamblang jalan yang harus ditempuhnya dalam hidup dan kehidupan ini bagi tercapainya tujuan dan cita-cita pulang kembali dengan selamat menemui Tuhannya.

Beriman kepada para RasulNya. Yang oleh KalamNya diberitakan bahwa selalu berada ditengah-tengah ummatnya. (QS. Ali Imran 101, Al Hujurat 7). Keberadaannya adalah menjadi saksi atas kamu semua (umat yang dibimbingnya kearah jalan menuju kepadaNya). “Wayakuna arrasuulu ‘alaikum syahiida”. (QS.2:143). Menggunakan kalimat dalam fiil mudhare` (wayakuuna). Menunjuk pada keadaan yang sedang berjalan dan yang akan datang terhadap keberadaan rasul supaya menjadi saksi bagi ummatnya.

Beriman kepada hari akhir.

Ungkapan kata yang diawali dengan ber, seperti bersepatu, bersepeda, berpakaian, berenang, bergelora, bertopi, memberi petunjuk  melekatnya sesuatu pada pelakunya.

Begitu halnya dengan kata beriman kepada hari akhir.

Hari akhir adalah tempat pulang kembalinya hamba kepada asalnya. Fii maq’adi shidqin ‘inda Malikin muqtadirin. Pulang kembali ditempat yang benar (lalu merasakan betapa bahagianya, betapa bergembiranya, selama-lamanya) disisi Raja Yang Berkuasa. Dan Raja Diraja itu adalah Diri Tuhan Yang Allah AsmaNya. Oleh karena itu, apabila secara benar telah mengenali DiriNya Zat Yang Al-Ghaib ini, lalu selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati, maka mereka inilah yang tergolong: wabil aakhiratihum yuqinuuna. Kehidupan akherat yang telah dapat dihayati dalam rasa hati sejak sekarang ini.

Sebab, betapa orang itu mati sangat ditentukan bagaimana dia sekarang ketika masih berada di dunia. Betapa dia di hari kemudian, sangat ditentukan bagaimana ketika dia mati.

Kemudian berimannya pada nasib baik dan buruk yang ditentukan olehNya. Karena hal tersebut Yang Membuat Dia, maka yang penting bagaimana supaya secara yakin tahu dan kenal pada Sang Pembuat nasib baik dan buruk ini. Beres kan. Sebab Dia adalah segala-galanya.

Bagi hamba yang rasa hatinya selalu lengket dengan DiriNya, apapun yang ditemui dalam hidup dan kehidupan ini adalah sebagai ujian dan cobaan. Karena itu meski seandainya dilanda cobaan yang seberat apapun, rasa nikmat mengingat-ingat Diri Tuhannya justru makin bernyala. Bahkan dianggapnya sebagai hari-raya baginya. Karena sadarnya sepenuh hati ternyata memang benar bahwa hamba ini apes, hina dan tidak bisa apa-apa. Tidak punya apa-apa dan tidak tahu apa-apa. Lalu menjadikannya bangkit untuk selalu deple-deple kepada Yang Maha Segala-galaNya. Sebab, betapa makna kandungan sabar dan tawakkal itu telah menyatu dalam dirinya.

Sedang sekiranya memperoleh nasib baik dengan hidup dan kehidupan dunia, hamba demikian tetap memandang bahwa hal yang dialami adalah juga ujian dan cobaan. Hingga karenanya justru malah takut sekiranya menjadikannya ingkar. Karena itu bangkitlah rasa syukurnya atas pemberian Tuhannya itu hingga dapat berbuat banyak bagi lakon dan pitukon guna mencapai tujuan hidupnya mendekat kepada Tuhannya sehingga selamat dan bahagia bertemu lagi dengan-Nya.

Kemudian rukun Islam yang juga menyatu dengan rukun iman di dalam Sibghatallah. Menyatu di dalam hatinurani, roh dan rasa yang berada di dalam samodranya ‘arifun billah.

Asyhadu anlaailaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah. Adalah makna/arti dalam ungkapan kata.

Bersaksi, sebagaimana dimuka telah diberikan penjelasan seperti kata-kata saya bersepatu, saya berkopyah, saya berpakaian, saya bergelora, saya bersepeda, adalah sesuatu yang lekat dengan pelaku.

Demikian halnya dengan ucapan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Laailaaha illallah. Kesaksian yang melekat dihati karena terbukanya mata hati dengan ilmu tentang mengenal DiriNya Ilahi. Bahwa apa saja selain DiriNya Zat Yang Wajib WujudNya, laailaaha, semuanya nafi. Tidak ada. Diberadakan (sementara saja) di dunia maksud Allah memang sengaja diuji. Maunya Allah, agar dapat lulus hingga dapat hidup mulia disisiNya. Sebab KemuliaanNya itu maunya Allah, tidak akan dimonopoli. Diratakan kepada hambaNya yang kebetulan adalah manusia. Tetapi karena Tuhan bukan makhluk, cara memuliakannya tidak seperti DiriNya. Tanpa ujian dan tanpa cobaan.

Karena itu betapa sebenarnya Allah Swt sangat kuat sekali kemauanNya Menonjolkan Keberadaan DiriNya  sebagai Zat Yang Segala-galanya dalam semua ayat-ayat pada firmanNya supaya hambaNya dapat tertarik untuk mengenali keberadaan DiriNya. Dan karena Dia ternyata Al-Ghaib, tidak akan pernah ngejawantah di bumi milikNya, saking belas kasihNya Dia lalu membentuk utusan supaya keberadaan DiriNya Yang Al-Ghaib itu selalu dapat ditetapkan (diitsbatkan = makna kalimah itsbat: Illallah) dalam hatinya si hamba dalam segala tingkah laku dan perbuatan lahir batinnya.

Itulah sebabnya ada syahadat yang kedua. Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Bagaimana menyatakan bersaksi sedang hidup kita  tidak menangi sugengnya Kanjeng Nabi Muhammad. Apa maunya terus menerus bersaksi palsu?

Hakekat Nabi Muhammad Saw adalah Cahaya TerpujiNya  Zat Yang Wajib WujudNya. Yaitu Nur Muhammad. Yang ini tidaklah ikut mati. Sebab bila menganggap mati, sama saja dengan menganggap bahwa Tuhan juga mati. Na’udzubillah min dzaalik! Yang wafat hanyalah jasadnya saja. Dan supaya dapat bersaksi atas keberadaanNya itulah maka Nabi Muhammad Saw telah menetapkan bahwa ada pengganti-pengganti beliau yang atas ijin dan kehendak Allah Swt ditugasi supaya melanjuti tugas dan fungsi kerasulannya Nabi Muhammad Saw.

Dan perlu diketahui bahwa wakil dan muwakkil itu sama.

Apabila rukun Islam yang pertama di atas terpenuhi, maka kewajiban shalatnya juga akan benar-benar menjadi tempat hamba mencahaya. Mencahaya dengan dhikr dalam dadanya. Mencahaya, karena hatinurani, roh dan rasanya dengan yakinnya mengingat-ingat dan menghayati Ada dan WujudNya Zat Al-Ghaib yang sangat dekat sekali dalam rasa hati. Sehingga maksud sabda Nabi bahwa shalat adalah “mi’rajul-mukminin”, dapat terhayati. Sehingga firman Allah bahwa shalat adalah tanha ‘anil fahsya`i wal munkar, akan diwujudkan Tuhan.

Sehingga shalat sebagai tiangnya agama akan benar-benar dapat meniadakan/menafikan hijab terbesar dan terhebat yang bila sekiranya tidak dengan Daya dan Kekuatan Ilahi sama sekali tidak mungkin tercapai.

Hijab terbesar dan terhebat itu adalah wujudnya jiwaraga. Wujud jiwaraga yang menjadi markas besarnya hawa nafsu dan sahwat. Wujud jiwaraga yang adalah hakekatnya dunia. Wujud jiwaraga yang mestinya sebagai kendaraannya hatinurani, roh dan rasa, namun ternyata justru sebaliknya. Malah dia yang nunggangi, memperalat, memerintah dan menjajah rasa hati.

Padahal wujud (jenggelegnya jiwaraga) ini adalah barang pinjaman. Pinjaman yang terkumpul dari tanah, air, angin dan api. Maka harus dikembalikan supaya selamanya tidak menjadi hijab terbesar dan terhebat, bahkan terdahsyat. Alat mengembalikan satu-satunya hanyalah dengan shalat dengan rasa hati yang dapat merasakan nikmatnya dan indahnya mengingat-ingat dan menghayati DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib ini (=IsiNya Hu). Dan apabila tidak begitu, justru malah sahun. Dan apabila sahun justru malah diancam dengan fawailun.

Zakat yang menjadi rukun Islam ke tiga juga akan benar-benar menjadikan proses pensucian diri supaya hatinuraninya, roh dan rasanya selalu terjaga dan terpelihara dalam bersentuhan dengan DiriNya Zat Yang Maha Suci.

Kemudian kewajiban melaksanakan shiam di bulan Ramadhan, merupakan gambaran nyata terhadap proses supaya hidupnya menjadi mulia disisiNya. Yaitu muttaqin. Menjadi hamba yang bersunguh-sungguh dalam ibadahnya (dalam melaksanakan dawuh Guru) dengan benar dan ikhlas. Ikhlas adalah bersih. Bersih dari syirik lahir dan syirik batin. Terjadi karena semua amal ibadahnya tidak ada yang diaku. Sebab akunya telah sirna (tenggelam) kedalam Yang Maha Aku. Ibadahnya kaannaka taraahu. Seolah-olah dapat melihatNya. Yaitulah ibadah yang hatinurani, roh dan rasanya dijaga untuk dapat dibarengi dengan mengingat-ingat dan menghayati Diri Ilahi Yang Al-Ghaib dan dekat sekali (IsiNya Hu).

Maka disebut pula dengan bulan suci. Bulan pensucian diri agar hakekat diri yang asal mula tempatnya dari DiriNya Zat Yang Maha Suci, kembali lagi kepadaNya. Kembali pada fitrah yang asalnya dari Yang Maha Fitrah.

Siang hari menahan dahaga, menahan lapar, menahan nafsu sahwat, menahan diri tidak berbuat maksiat dan segala macam hal yang merusakkannya (sebagai taubatnya jasad), di malam hari memperbanyak shalat (termasuk qiyamul-lail), membaca Al Quran, rajin bersedekah, rela mengeluarkan harta titipan Allah bagi yang berhak menerima, berzakat, zakat fitrah, ada juga malam lailatul-qadar, malam Allah memuliakan hambaNya menjadi kekasihNya, sehingga hamba yang dicintai olehNya ini akan menjadikan rasa hatinya dapat merasakan betapa indahnya dan betapa nikmatnya merasakan DiriNya Zat Yang Al-Ghaib ini, meskipun ia tetap sebagaimana layaknya manusia biasa.

Kemudian berhajji bagi yang dimampukan olehNya adalah panggilan Allah untuk membuktikan ‘arifun billah. Sebab al Hajju ‘arafatu. Prakteknya harus wukuf di padang ‘arafah.

Makna wukuf, berhenti. Yang harus dihentikan adalah semua hal yang menjadikan hijabnya mata hati hingga tidak akan dapat menyaksikan DiriNya Ilahi.

Karena itulah maka semua rukunnya haji merupakan simbol-simbol guna mencapai keadaan di atas. Simbol-simbol itu misalnya seperti disunatkan oleh Nabi mencium Hajar aswad.

Pencium dengan alat hidung adalah satu-satunya panca indera manusia yang tidak bisa ditipu dan paling jujur. Instrumennya rasa yang satu ini (hidung), oleh Sunan Kalijaga disebut dengan “kayu gung susuhing angin”. Zat Yang Al-Hayyu al-Qayyum, Maha Agung yang harus dapat diingat-ingat bersama-sama dengan setiap masuknya nafas ke dalam dada. Sebab bila nafas yang keluar masuk ini tidak diisi dengan dhikr, layaknya seperti keluar masuknya nafas hewan. Kosong dari butiran iman yang besarnya semrica jinumput, namun apabila digelar ngemplok jagad (pasemonnya Nur Muhammad).

Dan apabila begitu halnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa: “akan datang atas manusia suatu zaman dimana pada zaman itu seseorang dinyatakan: alangkah pandainya, alangkah bijaksananya, alangkah kuatnya, padahal dalam hatinya tidak ada sedikitpun butiran imannya”.

Karena itulah hidung sebagai tempat keluar masuknya nafas yang dengan ada isinya, disimbulkan sebagai “gunung Tursina”.

Lalu mengapa Nabi Muhammad Saw mensunatkan mencium hajar aswad?

Hajar aswad adalah simbul mudghah. Segumpal daging dalam jasad manusia. Apabila segumpal daging itu shaluha, bagus, maka menjadi baiklah seluruh jasad manusia. Dan apabila segumpal daging ini jelek (fasad), maka menjadi jeleklah seluruh jasad manusia. (al hadits).

Segumpal daging ini setelah terkena hawa dunia, benar-benar persis sebagaimana wujudnya yang nyata-nyata hajar aswad. Batu yang keras dan hitam. Dalam jasad, benar-benar menjadi kalbun jasmaniyun zulmaniyyun. Menjadi hati yang watak dan keinginannya bagaimana agar jasadnya kajen keringan dan mukti wibawa hidup di dunia. Maka lalu zalim, termakan betapa kuatnya pengaruh hawa dunia. Hawa dunia yang 99 persen lebih sepertinya memang dikuasai syaitan. Sebab yang disebut syaitan itu adalah semua pengaruh dan ajakan yang datang dari luarnya diri yang pengaruh dan ajakan itu sama sekali tidak sekehendak dengan Tuhan. Jadi ya banyak sekali. Bisa dari isteri, dari anak, dari saudara, teman sekerja, dari pekerjaan, dari bacaan, dari apa yang didengar dan dilihat mata kepala, dari harta, wanita, dan banyak lagi. Jadi kalau ada ungkapan para luhur bahwa dunia ini penuh dengan setan doyan sambal, tidak ada salahnya.

Sedang bila ajakan yang mempengaruhi manusia menjadikan hidupnya tidak sejalan dengan kehendak Allah, datang dari dalam dirinya sendiri, ini namanya nafsu. Karena itu maka antara syaitan dan nafsu ada kerja sama yang kental.

Lalu mengapa Nabi Muhammad Saw mencium hajar aswad?

Sebab dibalik batu yang keras itu (dibalik hijab yang hebat dan bahkan dahsyat) dan hitam pekat, gelap dan zalim ketika terkena hawa dunia, dibalik itu ada kandungan  makna asli dan murni, sebelum terkena hawa dunia. Sebelum dibungkus oleh jenggelegnya jiwaraga.

Asli dan murninya itu adalah inti manusia, yaitu fitrahnya diri, yang ketika hendak diproses Allah menjalani ujian dan cobaan dunia lewat kandungannya sang ibu, ketika dimintai kesaksian oleh Allah: Alastu birabbikum, jawabnya sama. Yaitu: “Qaaluu balaa stahidnaa”.

Fitrah diri yang kini menjadi inti manusia, diletakkan dalam rasa, dibungkus oleh arwah, diletakkan dalam hatinurani, dibungkus wujudnya jasad, ketika dimintai kesaksian oleh Tuhannya: ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Jawabnya adalah: “Benar, wahai Tuhanku, kami semua menjadi saksi”. Maksudnya secara yakin menyaksikan (weruh = melihat dengan seyakinnya) atas keberadaan Diri Tuhan yang di alam dunia ini Dia sama sekali takkan pernah menampakkan Diri, karena itu Al-Ghaib, Satu-satuNya Zat Yang Wajib WujudNya tetapi gaib dan di dunia ini Dia mengenalkan DiriNya dengan Asma Allah dan juga Asma-Asma lain yang terangkum dalam Asmaul-husna.

Itulah keadaan asli dan murninya fitrah manusia.

Oleh karena itu dengan tegasnya, agar manusia ketika dalam ujian dunia ini dapat lulus guna tujuan pulang kembali kepadaNya, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Carilah ilmu sejak dari ayunan hingga keliang lahad”.

Ilmu sejak dari ayunan berarti masih dalam keadaan bayi yang baru lahir. Yaitu ilmu untuk mengenali fitrahnya diri yang asal tempatnya dari DiriNya Zat Yang Maha Fitrah. Itulah sebabnya mengapa ada ungkapan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”. Dan ilmu untuk masuk ke liang lahad adalah ilmu yang menunjukkan pintunya mati supaya dapat selamat bertemu dengan DiriNya Tuhan lagi. Sabda Nabi di atas bermakna perintah, yaitu: carilah! Maksudnya yang dicari ini adalah yang berhak dan sah menunjuki sebagaimana yang telah panjang lebar dijelaskan pada bab-bab terdahulu.

Sebab ilmu seperti itu memang tidak ada pada tulisan dan juga tidak ada pada bacaan. Bacaan dan juga tulisan yang ada, bermanfaat untuk menggiring.

Pelaksanaan thawaf dengan mengelilingi Ka’bah 7 kali, juga ada makna di dalamnya.

Pojok pertama yang ada Hajar Aswadnya adalah simbol asal mula tempat fitrahnya manusia. Fitrah diri manusia yang terhadap Keberadaan Diri Tuhannya menyaksikan Ada dan Wujud Diri Tuhannya, dan juga telah sedia memikul amanahNya meskipun kesediaannya memikul amanahNya ini ternyata tidak dipuji bahkan malah mendapat vonis: Innahu kaana zaluuman jahuula, karena memang sangat bodohnya hingga karena itu sama sekali tidak tahu bahwa akan diproses menjadi bentuk baru (berjiwaraga), lewat kandungan ibu terus diuji dengan hidup dan kehidupan dunia.

Pojok Ka’bah yang kedua adalah simbol alam kandungannya ibu. Di alam ini, ketika calon manusia telah berumur 120 hari berupa segumpal daging, lalu dimasukkan kedalamnya ruhNya dan ditetapkan sekali betapa rezkinya, umurnya, matinya, amalnya serta nasib baik dan buruknya.

Dalam sebuah hadisnya Nabi Muhammad Saw menjelaskan. Maksud penjelasan ini agar manusia menyadari al-fakirnya diri. Menyadari sebagai hamba yang apes, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa. Dengan begitu diharapkan bangkit kesadarannya untuk mengenal dan mengetahui keberadaan DiriNya Zat Yang Maha Segala-galaNya sebagai tempat bergantung. Tempat berlindung. Tempat pasrah bongkokan. Satu-satuNya yang dicintai. Dijadikan tujuan hidup. Didekati hingga selamat bertemu kembali. Karena itu harus selalu dapat diingat-ingat dan dihayati Keberadaan DiriNya yang sebenarnya memang amat sangat dekat sekali dalam rasa hati ini.

Penjelasan dalam hadis Nabi Muhammad Saw tersebut adalah: meskipun salah seorang kamu telah mengamalkan amal perbuatan ahli surga sehingga antara surga dan kamu, saking dekatnya, tidak ada satu hasta. Tetapi tulisan telah menetapkan bahwa kamu adalah ahli neraka, lalu mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka masuklah kamu kedalamnya.

Begitu juga sebaliknya. Meskipun salah seorang diantara kamu telah mengamalkan amal perbuatan ahli neraka sehingga antara kamu dan neraka tidak ada satu hasta, saking dekatnya, tetapi tulisan telah menetapkan bahwa kamu adalah ahli surga, lalu mengamalkan amal perbuatan ahli surga, maka masuklah kamu kedalamnya.

Apabila benar-benar kesadaran dibuka olehNya, siapa hamba Tuhan yang ditempat ujian dunia ini berani memelihara watak abaa wastakbara? Berani berkata: ana khairun minhu? Berani melampaui batas? Berani memandang dirinya serba cukup? Mestinya tidak ada. Menjadi ada dan bahkan sebagian besar, karena memang iblis dengan seluruh balatentaranya sama sekali tidak ingin adanya hamba Allah yang hidupnya di dunia ini mengikut watak dan jejak para malaikatul-muqorrobin.

Pojok ketiganya Ka’bah adalah simbol alam dunia. Bagi yang dikehendaki mengikut jejak para Malaikatul-muqorrobin yang rela sujud kepada wakilNya Allah = jihadunnafsinya hingga patuh dan tunduk bagai mayit yang pasrah seutuhnya kepada yang berhak mensucikannya, ditempat ujian dunia ini tidak berhenti, terus jalan melewati pojok keempatnya Ka’bah sebagai simbol alam kubur, dan karena selamat matinya, maka bangkitlah suka citanya merasakan betapa indah dan bahagianya kembali bertemu dengan Diri Tuhannya lagi.

Tawaf dengan mengelilingi Ka’bah tujuh kali ini adalah lambang adanya firman Allah dalam QS. Al Mukminun 17: Dan sesungguhnya  Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami.

Juga lambang dari pada muqaddimahnya Ilmu Ma’rifat Billah (ilmu Syaththariyah). Yaitu dhikr 7 (tujuh) macam yang disesuaikan dengan nafsu manusia yang juga ada 7 macam. Sebab untuk dapat selamat kembali bertemu Tuhan, harus menunggangi nafsu yang tujuh macam itu.

Kain ihram tanpa jahitan adalah simbol sama-sama. Simbol kemerdekaan, kedamaian. Simbol tiadanya perbedaan. Simbol rasa jiwa yang hurriyah tammah. Rasa jiwa yang merdeka sejati dan sempurna karena hanya merasakan DiriNya Tuhan dalam rasa hatinya. Simbol hidupnya manusia  yang tidak dijajah oleh nafsunya sendiri. Simbol dari pada hamba yang segala tingkah laku dan perbuatan lahir dan batinnya semata-mata karena katut siliring Qudratullah, karena dijadikan olehNya hamba yang mencahayakan DiriNya.

Tahalul dengan simbol motong rambut. Rambut adalah lambang mahkota. Maka harus dipotong. Adalah simbol untuk meniadakan watak akunya nafsu yang mahkotanya adalah abaa wastakbara. Ana khairun minhu. Layatgha dan anraahustaghna.

Mengambil tujuh buah kerikil di malam hari untuk alat melempar jumrah. Adalah simbol hamba yang bangun habis tengah malam, beristighfar, mohon ampunan kepadaNya. Dan bila dikabulkan olehNya, diberitahu oleh Tuhannya bahwa penyebab orang tergelincir dari jalan lurus yang licin ini karena kesandung kerikil, yang biasanya dianggap sepele.

Kerikil-kerikil ini adalah lambang wataknya nafsu yang maunya ngaku terhadap semua amal baiknya hingga menjadikannya lupa pada belas kasih Tuhan yang membuat dirinya mempunyai hati  “mau” beramal baik itu.

Karena itu dibuang. Dilempar ke sumur tempat melempar jumrah. Simbol melempar setan supaya setan (yaitu ajakan dari luar dirinya yang menyebabkan hidup dan kehidupannya tidak sejalan dengan kehendak Tuhan), tidak mempan lagi.

Lalu mengapa melemparkannya mesti kedalam sumur. Dan harus dapat masuk semua.

Sumur adalah simbolnya sumber ilmu. Ilmu untuk dapat masuk ke dalam samodranya ‘arifun billah. Dilempar kesini supaya tenggelam. Sirna. Fana. Nafi.

Yakni agar wataknya nafsu yang maunya selalu ngaku, sirna tenggelam kedalam DiriNya Sang Maha Aku.

Akhirnya,

termasuk lain daripada yang lain adalah kegiatan-kegiatan melaksanakan ibadah sehari-hari yang sekaligus termasuk dalam bagian mujahadah. Karena itu akan hanya diberikan kepada mereka yang telah benar-benar berniat untuk masuk kedalam ilmu ini.

Lain daripada yang lain itu antara lain adalah dalam hal memperbanyak shalat. Disamping memperbanyak shalat-shalat sunnat, shalat habis tengah malam, didalam shalat wajib lima kali  masih ditambah dengan adanya shalat qadha. Waktu subuh dan waktu asar, shalat qadhanya dilakukan sebelum shalat wajib.

Setiap shalat wajib memakai kunut nazilah. Do’a mohon dihindarkan dari berbagai bendu dan bencana. Telah dilaksanakan sejak tahun 1948. Sejak Guru Wasithah masih berada pada Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin. Gurunya guru kami.

Hal tersebut dilakukan sebagai sedia payung sebelum hujan. Sebab menurut apa yang beliau terima dari Sang Pangemong jagad (Allah Swt), dunia ini akan menghadapi bencana yang hebatnya luar biasa. Sahdan, kira-kira seperti yang dialami oleh umatnya Nabi Nuh. Akan terjadi pengkristalan. Wolak waliking jaman. Kambange watu item singleme gabus.

Karena itu aurad yang dibaca setiap habis shalat wajib, disamping sebagai lakon bagi diri masing-masing untuk mendekat kepadaNya hingga sampai, juga memuat maksud sebagaimana di atas.

Sehabis shalat wajib, wiridan (telah ditentukan), ada sujud syukurnya. Yaitu mensyukuri bahwa dirinya termasuk hamba yang digerakkan hatinya oleh Allah “mau berniat” untuk memohon petunjuk Ilmu Syaththariyah dan dimaukan olehNya melaksanakan dawuhnya Guru. Yang juga disyukuri dalam sujud syukur ini adalah bahwa dirinya oleh Allah telah dihindarkan dari berbagai  bencana dan marabahaya baik lahin maupun batin, dan seterusnya (yang dapat diperoleh apabila telah secara pasti berniat masuk ilmu ini).

Khusus mengenai Mujahadah Puji Wali Kutub sebagaimana yang telah kami utarakan pada bagian terdahulu, dilaksanakan sehabis tengah malam, dimulai dengan istighfar dan salawat, lalu shalat-shalat sunat tasbih, shalat sunat hajat, shalat taqarruban ilallah (16 rekaat 8 salaman), lalu Puji Wali Kutub, jamaah dibagi menjadi 6 bagian, menghadap ke barat, ke selatan, ke timur, ke utara, ke atas dan ke bawah, yang masing-masing bagian ucapan pujinya tidak sama (ada yang memimpin), diakhiri dengan do’a, lalu shalat sunat witir, kemudian masuk waktu subuh.

Mujahadah ini kegiatannya dimulai sejak waktu maghrib, berjamaah. Lalu membaca wiridan (istighfar dan salawat). Kemudian salat qadha Maghrib. Diteruskan dengan shalat sunat awwabin 6 rekaat tiga salaman. Shalat sunat litsubutil-iman, dua rekaat satu salam. Lalu diteruskan dengan dhikr fidak.

Masuk waktu Isyak, berjamaah shalat Isyak. Lalu membaca wiridan. Shalat qadha Isyak. Diteruskan dengan shalat taubatan ilallah 6 rekaat 3 salaman. Setiap akan berdiri shalat taubatan ilallah ini, didahului dengan membaca Asmaul-Husna (yang telah ditentukan). Sujud syukur. Diteruskan dengan pengajian.

Mujahadah Puji Wali Kutub ini dilakukan setiap malam Jum’at (di pusat) dan pada setiap malam Minggu apabila kami keliling ke cabang-cabang.

Secara rutin dilakukan sejak tahun 1948, khususnya pada setiap malam Jum’at. Dalam wasiatnya (yang dikeluarkan oleh gurunya guru kami, yaitu Bapak Kyai Imam Mursyid Muttaqin), Mujahadah Puji Wali Kutub ini supaya terus dilakukan, diwanti-wanti jangan sampai jenuh, jangan dihentikan, sebelum apa yang menjadi cita-cita  beliau terwujud menjadi kenyataan.

Jadi Mujahadah Puji Wali Kutub ini disamping (yang pasti) sebagai lakon untuk mempercepat prosesnya hatinurani, roh dan rasa untuk dapat selamat sampai kepadaNya, juga bermaksud  untuk mengantisipasi sewaktu-waktu datangnya perubahan besar-besaran atas wolak waliking jaman, hingga tercapainya cita-cita yang antara lainnya adalah terwujudnya di bumi Nusantara ini Negara yang merdeka sejati, hingga akan dapat memayu hayuning jagad.

Maksud Negara yang merdeka sejati, pada lahirnya bebas dari segala macam bentuk penjajahannya bangsa lain. Dan pada batinnya, yang mimpin dan yang dipimpin, gerak dan tingkah laku lahir dan batinnya sama sekali tidak karena diperintah oleh nafsunya, tetapi semata-mata karena “Katut Siliring Qudratullah”.

Demikianlah, bagian yag terakhir ini kami beri sebutan lain daripada yang lain. Semoga sejalan dengan maksud sabda Nabi Muhammad Saw:

بَدَأَ الاِْسْـلاَمَ غَرِيْـبًـا وَسَيَـعُوْ دُ غَرِيْـبًـا كَم بَدَأَ فَطُـوْ بى لِلْغُرَبَاءِ

Pada awal mula datangnya, Islam itu asing (lain daripada yang lain, merupakan suatu kejutan) dan akan datang kembali juga menjadi kejutan, persis seperti pada awal mula datangnya; berbahagialah orang-orang ghuraba` itu”.

PENUTUP

Pada bagian penutup ini akan dijelaskan 2 hal penting yang kelewatan.

Yang pertama tentang Sa’i. Yaitu berjalan cepat atau lari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Ini adalah simbul kerja keras. Kerja keras bukan untuk tujuan menumpuk harta kekayaan. Bukan untuk bersenang-senang. Bukan untuk ngumbar hawa nafsu dan sahwat, tetapi bekerja keras (termasuk kerja keras mengelola garapan dunia dengan sebaik-baiknya) demi Subhanaaka. Demi untuk memproses pensucian diri supaya rasa hatinya senantiasa bersentuhan dengan DiriNya Zat Yang Maha  Suci, hingga dapat terpenuhi maksud menaiki dua buah bukit (Shafa dan Marwah), yaitu fid dunya hasanah wafil akhiroti hasanah.

Hingga supaya hidupnya di dunia ini menjadi baik (baik berdasar pandangan Allah), demikian pula hidupnya di akherat juga baik berdasar pandangan Allah.

Hidup baik berdasar pandangan Allah adalah hidup hamba yang dalam menyembah kepadaNya benar-benar dapat merasakan betapa indahnya dapat seolah-olah melihatNya. Bagi yang telah memiliki ilmu dari ijin guru yang hak dan sah, prakteknya, bagaimana agar hati ini selalu dapat mengingat-ingat dan menghayati IsiNya Hu itu.

Dan oleh karena hidupnya di dunia terlatih dan terdidik demikian, maka, ketika merasakan mati yang hanya sekali saja ditemui, wajahnya (rasa hatinya) akan berseri-seri karena saking bahagianya merasakan nikmatnya melihat TuhanNya. (Kandungan makna QS. AL Qiyamah 22-23). Hingga di akheratpun akan merasakan betapa girang dan senangnya hidup kekal di sisi Tuhan Yang Berkuasa. Fii maq’adi shidqin ‘inda Malikin Muqtadirin.

Itulah sebabnya maka Allah menyebut dalam firmanNya bahwa orang yang mati di jalanNya itu tidaklah mati. Sebab dia adalah hamba yang dapat selamat kembali kepadaNya. Bukankah Tuhan Yang Al-Ghaib ini, Allah AsmaNya, tidak akan pernah mati. Dia adalah Zat yang Hidup Kekal.

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّـــهِ أَمْوَاتًا  بَلْ اَحْيآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ (169).  فَرِحِيْنَ بِمَا اتهُمُ اللّــهُ مِنْ فَضْلِه وَيَسْـتَبْشِرُوْنَ بِا لَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُّوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ اَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ (170)

Janganlah kamu mengira bahwa orang yang mati di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu  hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”. (QS. Ali Imran 169-170).

Maka, Sa’i yang mengambil hikmah dari peristiwa Siti Hajar (isteri Nabi Ibrahim) yang lari-lari

hendak mencari sumber air buat puteranya (Nabi Ismail) yang masih bayi (masih dalam keadaan fitrah), diabadikan oleh Allah masuk dalam rukun Haji, mesti ada maksudnya. Yaitu maksud bersegera untuk mencari hingga menemukan sumber air. Air adalah lambang Ilmu. Ilmu tentang fitrah diri yang kini menjadi “inti” manusia yang berada di dalam rasa hati, bagaimana supaya bertemu lagi dengan tempat asalnya. Tempat asalnya adalah Diri Ilahi Yang AL-Ghaib. Karena itu sangat dekat sekali. Dan inilah yang diperintahkan oleh Allah supaya ditanyakan kepada ahlinya. Sebab, sekiranya tidak berdasar sabda Nabi Muhammad, sesuatu yang tidak ditanyakan kepada ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

Kemudian hal kedua yang terlewatkan adalah tentang maksud dan kandungan niat minta petunjuk ilmu Syaththariyah; biasanya, dalam bahasa Arab diungkapkan “Nawaitu an adkhula lidukhuli thariqishshalihin fardhan lillaahi Ta’ala”. Yang diterjemahkan: “Saya berniat untuk untuk mohon petunjuk ilmunya guru yang sholeh fardu karena Allah Ta’ala”.

Diterjemahkan sebagaimana di atas karena ada maksudnya dan ada tujuannya.

Maksud dan tujuan tersebut adalah, bagaimana agar para pengamal ilmu ini akan dapat menjadi orang yang benar-benar bermujahadah (memerangi hawa nafsunya sendiri) hingga membentuk diri menjadi orang yang sabar dan tawakkal supaya dapat mencapai tingkat dan martabat rasa.

Yaitu relanya hati untuk melaksanakan lakon dan pitukon untuk tujuan mendekat kepadaNya (berjuang, berkorban dan berbakti dalam memenuhi taatnya kepada Guru) dengan ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Sehingga saking ikhlasnya karena Allah, dengan Allah, dijalan Allah, untuk Allah, pastilah dia “tidak merasa” bahwa dirinya berkorban dan berbakti.

Perlu diketahui bahwa yang demikian itulah perjalanan hidup hamba-hamba Allah yang sholeh. Perjalanan hidup hamba yang dicintai olehNya. Amin.


Responses

  1. Jazakumullah ahsanal jaza’

  2. mohon izin kopi ya, makasih. kebetulan Saya sedang pelajari tarekat syattari ini, jika ada bagi lagi bahan lainnya ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: