Meditasi Sufi

Ilustrasi Langkah demi Langkah Mengenai Meditasi Sufi

oleh: as-Sayyid Nurjan Mirahmadi
Alih bahasa: Syekh Soetono

Sasaran dan maksud dari muraqabah/meditasi/rabithah syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh.

Orang harus tahu betul bahwa syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada setiap orang yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi.

Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.

Langkah 1

Bayangkan dirimu berada di hadapan syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.

Sebagai awal, murid dapat memulai praktik muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi.

Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak.

Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.

* Ambillah wudhu dan shalat 2 rakaat (tahiyatul wudhu).
* Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
* Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh
* Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad
* Surat al-Fatiha
* Mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani dengan mengucapkan: �Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq�
* Minimal 200 kali mengulang kalimat dzikir, �Madadul-Haqq, Madadul-Haqq

Langkah 2

Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad pada langkah 1.

Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, dia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; dus dia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama dia masih berada dalam status meditasi itu.

Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran.

Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya.

Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.

Langkah 3

Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar al-Quran, Shalawat atau suara sendu. Ruang gelap.

Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera.

Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran�.

Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau �Syaikh�, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syaikh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syaikh dan dilimpahkan kepadanya.

Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syaikhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan�, �afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

Pikiran Syaikh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syaikh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syaikh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu.

Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syaikh� (Fana fi Shaykh).

Cahaya Syaikh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syaikh bukanlah ciri pribadi Syaikh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syaikhnya, maka Syaikh juga menyerap ilmu dan busana Nabi dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.
Langkah 3a

Posisi duduk: Posisi Teratai (yoga Lotus),

Wudhu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh as. melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syaikhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku.

Dzikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi Masyaikh Naqsybandi, mensyratkan bahwa murid (sang pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya.

Dia harus membaca dzikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (“Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya.

Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (“sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (“kecuali Allah”).

Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang pejalan yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.
Langkah 3b

Posisi Mulut dan Lidah
Menutup matanya,
Menutup mulutnya,
Menekan giginya,
Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.
(Secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).

Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya.

Jadi ketika kamu memulai dengan tanganmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah I melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.

1. Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul�husna Allah.
2. Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.
3. Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).
4. Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.

Langkah 4

Posisi Tangan:
Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar.

Tangan diberi kode dengan kode angka arab, tangan kanan “18”, tangan kiri “81” masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99.

Tangan diberi karakter dengan Asma-ul�husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..

(lebih banyak lagi di depan)…

Bernapas dengan Sadar (“Hosh dar dam”)

Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas”

Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), bahwa “Misi paling penting bagi pejalan dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.'”

Syah Naqsyband berkata, “Thariqat ini dibangun di atas (dengan pondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”

“Dzikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka � bahkan tanpa kehendak � sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka.

Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”

Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul�husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama �dengan suara napas – (ALLAH I).

Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah I.

Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul�husna Allah I yang sempurna.

Allah membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul�husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah adalah sebanyak napas makhluk”.

Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para pejalan. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang pejalan untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah di setiap tempat.

Langkah 5

Bernapas

Menghirup melalui hidung – Dzikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.

Menghembus � melalui hidung – Dzikir= “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu.

“Pejalan yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi;

dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi.

Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”

Untuk mendaki gunung, sang pejalan harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.

Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang pejalan harus membawa gambaran Syaikhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya.

Dalam hatinya Syaikh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya.

Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah mulai menyinari dirinya.

Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’.

Demikianlah Syah Naqsyband berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya.

Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah dan awal dari perjalanan lainnya.”

“Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan.

Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”

Langkah 6

Mengenakan �busana� Syaikh:

3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:
– Memelihara Cintanya (Muhabbat),
– Memelihara Kehadirannya (Hudur),
– Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita.

Kamu tidak boleh makan, minum, shalat, dzikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syaikh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.

Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syaikh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Fana fi Syaikh, Rasulullah, Allah
Penihilan Fana

Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syaikhnya, kemampuan Syaikh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syaikh menikmati kedekatan Nabi. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut �Penyatuan dengan Rasul � (Fana fi Rasul).

Ini adalah pernyataan Nabi, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah, Pandangan yang Indah dari Allah dan Cahaya Gemilang ke dalam hati Nabi.

Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci.

Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

Murid itu menyerap karakter Nabi Suci sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil �Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur�an, �Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!�

Kedekatan ini, dalam sufisme disebut �Penyatuan dengan Allah’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

Langkah 7

Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah swt. Malikul Mulk.

Sumber :http://abuumar.multiply.com/journal/item/181/Langkah-Langkah_Meditasi_Sufi

Responses

  1. Assalamu’alaikum

    maaf saya sufi muda dr aceh, Dialah Allah yang mengajarkan mu melalui perantaraan Qalam,

    sedikit sy saya ketahui untuk diketahui oleh calon sufi dan yang sudah jadi sufi,
    Allah tidak pernah mengajarkan orang-orang yang beriman seperti menghadirkan guru di depan di belakang atau masuknya guru ruh ke dalam jasadnya walaupun itu berupa nur sang guru, kebanyakan dari kaum muda sufi atau yang sedang mempelajari sufi terjebak membayangkan (meditasi) sang guru sehingga guru tersebut masuk kebadan (wahdah wujud), bukan ini yang dimaksud.
    Sebaik-baik pengajar adalah ALLAH itu sendiri yang menuntun Diri orang-orang beriman kepada Allah, Barang siap mengharapkan perjumpaan dengan Allah maka hendaklah ia (DIRI) beriman kepada KU.
    jadi guru sebenarnya guru bukanlah jasad dan daging yang kasar atau roh yang masuk ke badan, tetapi Allah itu sendiri yang mengajarkan kepada seorang sufi jadi tidak menggunakan perantara guru jasad atau guru ruh.
    bahkan sufi juga tidak dibenarkan mengatakan seseorang itu untuk dijadikan GURU, karena GURU itu yang mengajarkan DIRI kepada pengenalan ALLAH yaitu Allah itu sendiri mengenalkan Dirinya yang suci kepada hambanya ” maka katakanlah apabila hamba (DIRI) ku bertanya, bahwasannya aku dekat….. , aku lebih dekat dari urat lehernya….”
    jadi yang dikatakan Guru itu Hanya Allah sendiri yang mengajarkan perataraan Qalam
    yang di katakan Qalam itu yaitu DIRI mu sendiri
    ” Bacalah yang mengajarkan Diri malaui Qalam (jasad kasar dan Ruh).
    Lalu siapa yang menjadi teman mu yang menasehati… yaitu Ulama tapi mereka bukan guru tugas ulama hanya menyampaikan amanah Allah dan Rasul bukan menjadi guru… karena orang-orang yang beriman itu ‘SAMA DIHADAPAN ALLAH’ yaitu saling nasehat menasehati dalam kebenaran.

    lalu pertanyaannya siapakah guru nur yang merasuki jasad?, jawabannya pada dirimu sendiri…
    wallahu ‘alam bissawaf karena Allah itulah yang sebenar-benarnya guru sekalian Alam (rabbul ‘alamin).

    • Wahai AHMAD , seorang yg beribadah haruslah ikhlash, jgnlah membicarakan dengan orang lain, termasuk Anda yg mengatakan Anda adalah seorang sufi, seharusnya jika benar ya, jgnlah kau sebutkan dirimu sebagai sufi. tak ingatkah anda mengapa Iblis terUsit dan terLaknat, kesalahannya hanya satu, yaitu Takabbur, sombong, .
      jadi, saya khawatir, jika Komentar Anda diatas tersebut, menunjukkan Anda sudah Menyombongkan Diri,.. sadarlah, dan Kembalilah keJalan yg Benar..!!.

  2. benar2 bagus!

  3. @Ahmad terimaksih komentarnya, ya sebenarnya dalam melakukan meditasi (tafakur) dalam hal ini ketika sang salik melakukan tafakur dengan cara membayangkan sang guru dengan seolah2 ada di depannya adalah disebut sebagi “robitoh” namun itu adalah sebagai proses pembimbingan antara sang mursid dengan si salik,ada kalanya tharekat2 mengajarkan seperti itu dalam menggapai kefanaan,dalam pandangan hakekat hal itu masih memiliki hijab antara salik dengan Allah, maka dalam pengkajian pelita hati membimbing meditsai/tafakur bukan hal seperti itu yang di ajarkan, namun lebih langsung kepada Allah SWT dengan dzikirnya untuk menggapai ke fanaan tentu dengan teori2 yang telah di ajarkan dan melalui bimbingan sang guru agar si murid jika terjadi sesuatu bisa di tanyakan atau jga di diskusikan,dalam postingan artikel ini hanya untuk sebuah teori dan adab seperti cara2 duduk dan magsud duduk tersebut yang mungkin ketika dalam pengkajian pelita hati kurang di jelaskan..sebernarnya perlu peng editan posting yang lebih khusus yang ada di pengkajian pelita hati namun ini mash dalam pembahasan..terimakasih atas koreksinya, jazakumullah ahsanal jaza..
    @red terimna kasih atas komnetrnya semoga Allah melimpahkan rahmat bagimu

  4. wahai saudara quw,,,apa yg kalian perdebatin……apa yg km ketahui tentang dir kamu?
    mari kita belajar mengenal diri kita dl…
    belajrlah 4hati

  5. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, serta Maha Kuasa akan sesuatu. Demi Kebenaran Allah dan Rasulullah beserta para malaikat yang dilangit dan dibumi,,,siapa yang pernah mengalami dan merasakan pastilah ia mengetahui,,,

  6. Setauku.. ini tidak di ajarkan oleh Muhammad SAW.. apakah ini yang disebut bid’ah????.

    Rasullullah pernah bersab’da. Bahwa kalau ingin selamat, pegang Al-qur’an dan Hadist…. Bukan Meditasi.. tipis karena akan membawa ke syirik..

    Ini kebiasaan Hindu..

  7. Hati-hati dengan perangkap syetan….

    Banyak cara agar ummat akhir zaman ini bisa bergabung dengan syetan di surga.. syetan bisa menyerupai sang guru dalam metasi… dan bahkan bisa kita seolah-olah nyambung dengan allah…. syetan… dan syetan udah bersumpah untuk selalu mencelakakan ummat akhir zaman ini…

    • bukankah Nabi kita mendapat petunjuk dari proses meditasi juga? jd bukan bid’ah karena pernah dilakukan Rasul.

    • Abu Fikri Alghifary : Bagus sekali nama Islam anda tapi sayang anda masih belum memahami apapun. Perdalamlah Islam scara kaffah dan gunakan batin anda sebagai media untuk berinteraksi dalam beribadah kepada Allah Ta’alla. Sehingga komen2 anda bisa lebih baik dan bermutu

  8. @sodaraku abu fikri alghifary, anda menulis komen dengan diawali kalimat :
    “setauku….”
    sadarkah saudaraku? apalagi kalimat tersebut anda akhiri dengan :
    “syetan… dan syetan udah bersumpah untuk selalu mencelakakan ummat akhir zaman ini…”

    semoga anda bisa mencerna komentar sy ini…
    dan segeralah bertaubat!

    wassalam.

  9. @wahai sodaraku abu fikri alghifary sya ucapkan terima kasih udah bersilaturahmi ke pelita hati,saudaraku terimakasih atas komentarnya alangkah lebih indah jika sesuatu yang berbeda jangan langsung disbut sbagai bid’ah,kita berfikir secara jernih,dalam islam ada istilah tafakur dan iktikap dan dalam tata bahasa ada istilah meditasi, namun dua bahasa itu memiliki makna magsud dan tujuan sama. dalam hal ini bentuk meditasi yang dijalankan oleh para sufi meditasi dengan penuh dzikir yaitu dzikir rasa…merasakan hadirnya Allah dalam diri bahwa dzat ajibul wujudlah yang kita tuju,dalam hal ini kita bisa khusu’ menghadapnya,bertawajuh, dan musyahadah kepada ALLAH SWT..
    Coba saudara fikirkan lebih bermafaat yang mana diam dengan banyak fikiran di bandingkan diam tapi berzikir hatinya…
    Contohlah agama lain yang bisa khusu dengan ibadahnya dan lebih tenang, terkadang kita dalam hal sholat belum bisa seperti itu apalagi meng implementasikan fungsi sholat yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar
    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS, Ar-Ra’d : 28)
    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS, Ali Imran : 191)

    Semoga bermanfaat

    @Untuk semua yang komentar saya ucapkan terima kasih udah bersilturahmi ke pelita hati..semoga ukhuwah islamiyah kita terjaga..amin

  10. assalamu’alaikum, numpang comment ingin bersilaturrahmi, semoga kita semua dibukakan pintu ma’rifat, amin. menurut sy, teknik meditasi ini hanya satu dari begitu banyak ihtiar membuka hijab, wallahu ‘alam bahwa ini bid’ah atau bukan, semoga Allah meridhoi praktisinya dan tercapai tujuannya, amin. terkesan oleh comment saudaraku abu fikry alghifari, memang benar syaitan bisa saja memanfaatkan media ini, akan tetapi mari kita berdo’a semoga dengan saratnya teknik ini dengan kalimat tauhid, tiada celah bagi mereka untuk menyesatkan hamba Allah SWT. saya sendiri bukan praktisinya dan belum terpikir untuk mempraktekannya, akan tetapi ikut mendo’akan semoga Allah meridhoi niat dan ikhtiar hamba2Nya untuk mendekat kepada-Nya. wallahu ‘alam. wassalamu’alaikum.

    • @ganda: Terimakasih udah bersilataturahmi di site pelita hati

      • benarkah kebenaran itu hanya milik ALLAH?

  11. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Dengan Niat yang baik ini,Masya Allah, kita diciptakan boleh akal berbeda pendapat, tetapi yang Pasti Hati kita tidak demikian, apa yang ada di depan kita, apa terdapat di belakang kita, begitu juga apa yang ada diatas dan dibawa kita, jauh lebih berharga dibanding apa yang ada dalam diri kita, maaf lahir bathin minal aidhin walfaizin. Amin Amin

  12. assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    saya hamba allah yang tiada luput dari dosa dan salah bahkan saya lebih bodoh dari saudara ,meditasi hanya nama jangan terpaku dengan nama nabi kita dulu bertapa (meditasi ) di gua hira menyebut kalimat haq ( tauhid ) jikalau menyebut selain namanya itu baru mengada ada, tiada bedanya dengan halwat

  13. assalamualaikum……menurut saya bagus,,,tapi saya mau nanya.. bagai mana kalau langkah 6,, tidak harus memakai busana seperti syekh? karena bukankah hati itu bersih itu bukan termasuk harus sama persisdengan busana syekh…?

  14. kalu blh tau pada pelita hati thoriqohnya apa ya?…

  15. SALAFI WAHABI VS SUFI = SAMA2 EDAN!!

  16. ass..
    semoga Allah SWT selalu mencintai kita semua seperti cinta kita pada Allah SWT.. amiiin.
    semoga rahmat dan hidayahnya selalu dilimpahkan pada junjungan kita Rasullullah SAW beserta sahabat dan para walinya serta ibu dan bapak kita semua dan diri kita juga.. amiiin.. tujuan meditasi/taffakur adalah menenangkan jiwa yg belum tenang, karena dengan ketenangan jiwa lah seluruh indra pada diri kita dapat mendapatkan pelajaran yang benar sehingga hatipun dapat merasa dan melihat kebenaran hakiki.. dan perlu kita pahami bahwa taffakur itu dapat membunuh segala sifat yg jahil (hal yg dibenci oleh Allah SWT) seperti membunuh kesombongan diri (sok pintar, sok hebat, atau sok kuat), membunuh sifat kebencian dalam diri (membenci sesama Makhluk Allah).. semoga Allah mencintai kita semua seperti kita semua mencintai NYA dan segala ciptaan NYA..Amiin.

  17. Saudaraku sekalian, Mari masuk jalan Tarekat dg berbaiat kepada sang guru Mursyid yg Kamil Mutakammil,,
    selanjutnya mari bermeditasi..

    • sallamun allaikum…

      kepada yang terhormat, hamba-hamba Tuhan..

      jangan-lah berselisi paham, karena setiap manusia mempunyai ciri masing2 dalam mencari, melihat, mempercayai,

      jngn lah dalam selisih ini syetan yang merusak dan mengadu argumen hamba2 tuhan disini..

      pahamilah dan perdalam arti RASA-dlu baru berselisi..

  18. jgn saling menyalahkan satu sama lain dan membenarkan diri sendiri,karena kebenaran yg sesungguhnya hanya milik Allah semata dan tugas kita yg sesungguhnya hanya bisa meyakini apa yg kita ketahui ilmunya.. biarlah mereka dengan kebenaran mereka,dan kita dengan kebenaran kita sendiri,selama tujuan kita semua adalah sama yaitu menuju satu titik Allah Azza wa Jala jadi lakum dinukum wa liyadin lah..

    “jadilah tiada.. jadilah tiada dan jadilah tiada.. maka baru engkau akan ada,akan ada dan akan ada untuk selamanya..”

  19. jika ingin belajar ilmu ma’ripat, datang saja kesukamara. sebenar2nya ilmu Allah swt,

  20. ya Allah kok sampeyan comen kemana mana….semua itu anugrah ilahi belas kasihan beliau pada manusia yg terdiri daging busuk dan kotoran diperutmu,,,,,,syukuri ada ilmu yg berkah..mau yakin apa tidak juga percaya atau tidak ya terserah yg ngasih ilmu,,,,kita mana bisa mikir kalau gak dipungsiin otak kita sama Allah. sapi juga punya otak thooooo…..yang gak mau ya udah jangan kayak sapi….

  21. Terimaksih pelita hati,memang kita hanya sabatas manusia yang sifatnya hina,lemah, bodoh dst ,mohon kesabaran dari semua kritikan , intinya kita dari ALLOH SWT di uji ke dunia bagaimana kita bisa kembali kepadaNYA ,
    wahai coment ! resapi dengan hati yang paling dalam dan penuh dengan keyakinan dan itulah fungsi manusia di ciptakan paling sempurna ( segi ciptaanNYA )

  22. Di sini tdk dibahas soal’ILMU”,pdhl dg ILMU inilah masalah perdebatan di atas bisa dijawab…..Kl tdk,maka banyak terjadi simpang siur…kembalilah ke ILMU, kembali ke Allah SWT…..

  23. subhanaallah walhamdulillah walailahaillah walllahu akbar

  24. ya benar hanya ALLOH yang MAHA TAU

    • klw coment’nx d’landasi sfat mencari tah’ta bkn pencari tuhan..? jdnx ayu ting-ting alamat palsu..hehehe..

  25. Banyak jalan ber-Makrifat sejati mengenal Nurillahi/Nur Muhammad/Nur Insan….membuktikan QS. An Nuur.35…yang bersemayam pada tiap diri , bersahadat dengan penyaksian sesungguhnya, ada jalan pendek ada jalan yg panjang,,,tapi semua adalah kehendakNYA. siapa yang sungguh-sungguh pasti kan sampai, jangan terjebak ritual yang kadang bisa menyesatkan, Gurujati sebenarnya ada pada pribadi. carilah guru pembimbing yang sudah “Mursyid” artinya guru yang sudah “sampai” dan mampu menghantar muridnya menemuiNYA , selamat berjuang hingga sampai waktu yang dijanjikanNYA pasti kan tiba !!! rahayu!!! salam CAHAYA!!!

  26. ass…! pemuda dari pontianak..! untuk praktek meditasi saya sedikit tidak berkenan ,Sekh (guru) hanya mengantar sampai pada dasar awal perjalanan dan, bakat berkembang sesuai dengan masing2Sulukiah,tentang proses perjalan hanya Allah yang mengetahuinya sang Suluk berhak untuk berpuasa Khakekat,karena apa yang diperlihatkan dalam perjalanan adalah merupakan Rahasia Allah jika dijohirkan ataupun diceritakan maka batallah rahasia Allah dan perjalanan suluk adalah pertanggung jawaban sang pejalan dengan Allah, dan hanya boleh diefaluasi sang Mursyid,dengan bimbingan Bathiniahnya,hati-hati dengan sistim Praktek meditasi (Allah tidak memanggil Manusia berkaum2 Allah memanggil jiwa(Nafs) yang tenang, disuruh mendekat (kembali)dengn perhitungan pertanggungjawaban,perjalanan .

  27. sepengetahuan saya konsep I’tikaf (meditasi)yang dikaji atau digunakan dalam kajian Pelita hati )tidak keluar dari Quran dan Hdist,yang mana sudah terkonsep dan tersusun rapi dari mulai adabiyah sikap duduk sempurna sampai,jikir yang digunakan,sebagaimana yang dicontohkan dan diikuti ummatnya Rasullullah,mohon jika sistim meditasinya dikoreksi kembali,karena untuk yang digunakan Pelita hati menggunakan Konsep Ingatan (akal murni) Rasakan (dalam kehadirannya) dan Yakini ( dalam pengenalannya ) dengan menyadari Kejujuran(terhadap diri sendiri) Ikhlas menerima segala proses perjalanan dan mengesakan Allah diatas segala2nya (lillahi ta’alla) dengan mengenepikan semua lintasan,dimensi yng dilalui,dalam konsep pertanggungjawaban untuk Kembali (mati)

  28. selamat saudaraku, wah aslinya kita kumpul disini karena ada yang ngumpulin, jadi alangkah indahnya kita melihatnya sebagai persamaan.
    bisa karna di kasih bisa, setelah bisa merasa bisa sendiri, padahal bisa adalah pemberian, pemberian adalah amanat dari Pemberi.
    jadi waspadalah dengan bisa.
    jangan diakui tapi…(ente yg tau lah abis semuanya pintar2 sih)

  29. sallamun allaikum.

    hamba-2 yang ingin mengenal Tuhan..
    jngn lah berbantah-bntah… ditakutkan didalam berbntah2 tersebut syetan yng membantu dalam perbantahan itu,

    lebih baik ikuti jalan masing2 kalaupun ada yang ingin mengikuti cara meditasi yang tertulis ini namun harus berdasarkan keyakinan hati , kalaupun tidak mau jangn lah mempersoalkan, karena manusia memiliki cara berbeda untuk berserah diri dan mengenal Tuhan-nya…

    kenali “RASA”, baru hamba2 ini saling berbagi pengetahuan tentang ilmu,

  30. ikuti yang benar dan tinggalkan yang buruk.
    gitu aja kok repot!!!!!!!!!!!!!!!!!
    semuanya ada gurunya,,,
    barang siapa yang tidak mempunyai guru atau mursyid maka baru kita bisa menyimpulkan bahwa gurunya adalah setan.
    coba sekarang saya tanya pada workset pelita hati, tujuan menulis artikel tersebut apa?
    pasti tidak lain adalah untuk menuju kepada ALLAH SWT (MA’RIFAT BILLAH)..
    kalau tujuanya demikian apakah artikel yang ditulis salah????
    atau juga berusaha menyesatkan?????????
    jangan bilang nabi muhammad tidak meditasi, pun jangan gampang bilang bid’ah2.
    teliti dulu sejarah, pahami dulu isinya,,,
    baru,,,setelah mengetahui isinya baru bilang bid’ah…
    nabi muhammad berkholwat di gua hiro itu ngapain???
    dikira main-main????
    beliau riadhoh, rialat dan dan mujahadah,,,seraya memikirkan umtnya,,
    eh,,,,,,,yang difikirkan malah berdebat gak karu-karuan.
    katanya cinta nabi,,,,katanya cinta islam…!!!!!!!
    apa dengan perdebatan ini wujud daripada kecintaan terhadap beliau??????

    kalau memang ada yang salah tolonglah jangan menyakiti satu sama yang lain,,,,,,
    bicara yang sopan dan dimusyawarahkan secara baik-baik.
    jangan malah memperbesar perbedaan,,,,
    saya pernah ditanya sama saudara seiman sekeyakinan, dia bertanya apakah kamu orang NU atua MUHAMMADIYAH?????
    Ya aku jawab aku orang ISLAM, gak ada perbedaanya antara satu dengan yang lain.
    terus ia tanya lagi apakah kamu sholat subuh pake kunut????
    ya aku jawab aku pake kunut.
    terus aku balik tanya kamu sholat subuh tidak?????
    dia menjawab kadang-kadang atau sering bolong-bolong.
    wah….kalau begitu antum koreksi islam antum dulu,,,
    ayolah,,,,jangan berdebat masalah yang seperti ini,,,,
    orang tujuanya baik ko’…….
    caranya kita harus cari guru yang benar-benar nyambung kepada ALLAH dan memang ada warisan dari kanjeng nabi.
    sekian….
    WASSALAM,,,

  31. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    PerkenalkanLah saya Muaz dari Ambon.
    Saya sudah membaca koment baik yang pro maupun yang kontra terhadap konsep meditasi ini. saya juga mencoba melakukan meditasi melalui pengetahuan-pengetahuan yang saya baca di internet. alhamdulillah saya sedikit merasa tenang, namun dalam keadaan tertentu saya merasa takut ketika merasa ada sesuatu yang akan keluar dari diri saya, terus terang saya tak punya pembimbing, saya hanya belajar otodidak. jadi lewat forum ini saya mohon petunjuk bagi saudara-saudaraku yang sudah punya pengaLaman meditasi untuk berbagi dengan saya.
    oh iya satu lagi, ketika meditasi degup jantung saya semakin cepat dan tubuh saya bergetar seiring degup jantung saya, padahaL saya sudah melakukan relaksasi. apa yang harus saya lakukan ..???
    MOHON PENCERAHANNYA . . .

  32. Assalamualaikum, Apapun yang kita dapatkan tentang pelajaran hidup asal berpegang kepada niat mencari ridho Allah semua baik, Tentang siapa pembimbing sejati kita, itu adalah Rasulullah, agungkanlah asmanya agar bisa meraih cintanya, serta untuk menemukan sifat-sifat Allah dalam diri Rasulullah, Wallahu A’lam

  33. Ilahii anta maksudi, waridhoo kamtluubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifataka.

  34. perghh tambah semanagat ni…moga kita diberkahi,,,teruskan aja komentar yg rasanya benar ,,,tapi jgn ,,,,,,,,,,,

  35. SUBHANALLOH, kenapa semua pada berdebat, dan satu sama lain mengaku benar….. salut buat postingan pelita hati, bagi yg tdk setuju jgn langsung menjudge… karena begitu dalam pembahasan ini… seperti dalam bahasa jawa jikalau kita tdk tahu dan saling berdebat, seperti “rebut balung tanpa isi”… semoga semua mendapat berkah dan cahaya-NYA….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: