Oleh: Worksite Pelita Hati | April 25, 2011

KONSEP INSAN KAMIL DALAM KAJIAN PELITA HATI

Oleh Miftah, S.Ag **
(Anggota Pengkajian Pelita Hati)

A.     Urgensi Tauhid dalam kajian Pelita Hati

Pembelajaran tauhid dalam pengkajian Pelita Hati merupakan materi awal dan mendasar sifatnya. Hal ini dirancang sebagai fondasi dari materi-materi selanjutnya yang sarat muatan filosofis dengan sentuhan zauq (rasa).

Inti tauhid terangkum dalam kalimah  لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ . Lafaz لاَ    berfungsi   نَافِيَةٌ لِلْجِنْسِ (meniadakan jenis). Dalam kajian sufistik kalimah tauhid   لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ diinterpretasikan dalam tiga tahapan. Pertama  لاَمَوْجُوْدَ اِلاَّ اللهُ artinya tiada yang maujud kecuali Allah. Dalam tahap ini salik menyadari bahwa alam fenomenal yang serba ganda dan terbatas ini juga termasuk dirinya adalah tajalli dari Zat wājib al-wujūd. Jadi wujud alam ini bersifat idafi (bersandar) kepada wujud mutlak. Alquran surat Fātir: 41 menjelaskan

اِ نَّ اللهَ يُمْسِكُ السَّموتِ وَالاَرْضَ اَنْ تَزُوْلاَ وَلَئِنْ زَالَتَا اِنْ اَمْسَكَهًُمَا مِنْ اَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ قلى اِنَّهُ كاَنَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

Artinya:

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fātir: 41).[1]

Kedua لاَمَعْبُوْدَ اِلاَّ اللهُ  artinya tiada yang disembah kecuali Allah. Dalam tahap ini hamba meyakini bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk dan berposisi sama dengan manusia, bahkan manusia secara potensial dan aktual bisa meningkatkan kualitas dirinya menjadi insan kamil. Yang berhak disembah adalah Allah, wujud hakiki dan realitas mutlak. Berhala primitif seperti patung, keris, akik, dan pohon angker tidak layak disembah karena benda-benda itu menjadi sarana setan untuk menyesatkan manusia. Begitu pula berhala modern seperti jabatan, popularitas, harta benda, keakuan dan prestise juga tidak layak disembah dan didewa-dewakan karena semua itu adalah hiasan yang sementara dan bersifat semu. Ungkapan Jawa mengatakan bondo pungkasane lungo pangkat pungkasane minggat. لاَ pada kalimat tauhid  لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ juga berarti “penolakan” untuk menepis pamrih-pamrih ibadah seperti barakah, rejeki lancar, surga dan sebagainya. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Sufyan as-Sauri berkata kepada Rabi’ah al-Adawiyah: “setiap keyakinan mempunyai syarat, dan setiap keimanan mempunyai realitas. Bagaimanakah realitas keimananmu?” Maka jawab Rabi’ah al-Adawiyah, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka-Nya, dan bukan karena cinta surga-Nya, sepertinya ini aku hanya pekerja kasar yang bekerja karena upah saja. Tapi aku menyembahnya karena aku cinta dan rindu kepada-Nya.[2] Ketiga لاَمَقْصُوْدَ اِلاَّاللهُ  artinya tiada  obsesi kecuali Allah. Dalam tahap ini salik memandang bahwa apa yang ia lakukan semuanya مِنَ الله (berasal dari Allah),    فِى اللهِ(dalam realitas Allah) dan   اِلىَ اللهِ(bermuara kepada Allah) karena Dia-lah yang baqā’ (kekal) dan selain-Nya adalah bersifat fanā’ (rusak). Alquran surat ar-Rahmān: 26 – 27 menjelaskan

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦)  وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ (٢٧)

Artinya:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Qs. ar-Rahmān: 26 – 27).[3]

Muhammad Nafis al-Banjari mengemukakan empat peringkat tauhid, yaitu: tauhīd al-af’āl (tauhid perbuatan-perbuatan), tauhīd as-sifāt (tauhid sifat-sifat), tauhīd al-asmā’ (tauhid nama-nama) dan tauhīd az-zāt (tauhid zat). Pada peringkat tauhid perbuatan-perbuatan hamba memandang segala gerak dan diam bersumber dari Allah. Lalu pada peringkat tauhid sifat-sifat dan nama-nama, hamba syuhūd (menyaksikan) dengan mata hatinya bahwa penglihatan, pendengaran, qudrah, ilmu dan hidupnya bukanlah hakiki, tetapi yang hakiki adalah penglihatan, pendengaran, qudrah, ilmu dan hidup Tuhan. Dan terakhir, pada peringkat tauhid zat, hamba syuhūd bahwa yang benar-benar ada hanyalah Allah swt.[4]

Sifat-sifat wajib Allah yang dua puluh terbagi empat bagian, yaitu nafsiyah, salbiyah, ma’āni dan ma’nawiyah. Sifat nafsiyah ialah sifat yang berhubungan dengan Zat Allah, yaitu sifat wujud. Sifat salbiyah ialah sifat yang menolak dan meniadakan sebaliknya, dengan kata lain memustakhilkan adanya sifat yang berlawanan dengan sifat tersebut. Sifat salbiyah ada lima sifat yaitu qidam, baqā’, mukhālafah li al-hawādisi, qiyamuhu binafsihi dan wahdāniyah. Sifat ma’āni ialah sifat makna, yaitu memastikan yang disifati itu bersifat dengan sifat tersebut. Jumlah sifat ma’âni ada tujuh, yaitu qudrah, irādah, ilmu, hayāt, samā’, basar dan kalām. Sifat ma’nawiyah ialah sifat yang bergandengan dengan sifat ma’āni. Sifat ma’nawiyah ada tujuh yaitu qādiran, murīdan, ‘āliman, hayyan, samī’an, basīran dan mutakalliman.[5]

Kajian Pelita Hati mengikuti konsep Abu Hasan al-Asy’ari (873 – 935) yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya. Al-Asy’ari berpandangan bahwa sifat tidak serupa dengan zat, tetapi tidak juga terpisah darinya. Sebagaimana halnya sifat yang tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu. Oleh karena itu tidak via media. Tuhan adalah eksistensi yang amat didamba, yang memiliki sifat-Nya bagi eksistensi-Nya, yang esensi dan eksistensi-Nya identik. Ajarannya adalah sebagai berikut: (1) tahapan esensi datang pertama kali, baru kemudian muncul sifat-sifatnya; (2) esensi mengada dengan sendirinya, dan sifat tergantung kepada esensi (seperti lilin dengan sifatnya yang lunak); (3) esensi bersifat tunggal, dan sifat bersifat ragam; (4) esensi memiliki kesadaran            diri, dan sifat tidak memiliki satu pun; (5) esensi selalu tersembunyi, sedang sifat kadangkala tersembunyi kadangkala mewujud; (6) sifat-sifat pasti selalu dalam kedudukannya yang wajar; (7) perwujudan sifat yang satu pasti akan bertentangan atau menekan perwujudan yang lain.[6]

Pembelajaran tauhid berguna untuk menanamkan akidah sehingga salik memiliki keyakinan yang jazm (kokoh) karena dalam kehidupan ini keimanan seseorang harus diuji untuk membuktikan kehandalannya. Alquran surat al-Ankabūt: 2 menjelaskan

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوْا اَمَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُوْنَ

Artinya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)           mengatakan: “Kami telah beriman, “sedang mereka tidak diuji lagi.”                 (Qs. al-Ankabūt: 2).[7]

Ujian keimanan bisa berupa fisik seperti sakit, krisis moneter, bencana alam dan kematian orang yang dicintai atau bersifat kejiwaan seperti munculnya karomah yang sering melenakan dan menghambat perjalanan spiritual.

Pemahaman materi tauhid akan mengantarkan salik untuk mengenal Allah. Pengenalan berarti “mengerti” sehingga tidak perlu bertanya lagi dengan kata tanya bagaimana, kapan dan di mana karena Dia tidak terjangkau oleh ruang, waktu dan fenomena. Ketika salik mengalami mukāsyafah (penyingkapan tirai) sehingga melihat realitas gaib ia pun tidak meragukan lagi tentang Dia karena telah memahami sifat salbiyah.

Materi aqaid 50 dibahas tuntas dalam pengkajian Pelita Hati. Satu sifat dikupas sampai memakan waktu 3 – 6 kali pertemuan diselingi arahan dan praktek zikir. Pendekatannya adalah melalui “kitab basah” (dari hati ke hati) meskipun tidak meninggalkan literatur tekstual, di antaranya Ihya’ ulumudin karya al-Ghazali, Tambih al-Gafilin karya Abu al-Lais as-Samarqandi, Nur az-Zalam karya Muhammad Nawawi asy-Syafi’i, Kifayah al-Atqiya’ wa Minhaj al-Asfiya’ karya Abu Bakar al-Makky dan lain-lain. Pembahasan aqaid 50 pada kalangan santri sudah tidak asing lagi, bahkan banyak orang yang hafal di luar kepala karena doktrin sunni mewajibkan mukallaf untuk mengetahui secara rinci dan meyakini aqaid tersebut. Ahmad Marzuki al-Makky menyatakan dalam bait Aqidah al-Awam

وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَهْ #  مِنْ وَاجِبٍ ِللهِ عِشْرِيْنَ صِفَهْ

Sesudah itu ketahuilah akan kewajiban mengetahui sifat wajib Allah yang dua puluh.[8]

Kajian dalam Pelita Hati sebenarnya ilmiah, wajar dan tekstual. Kecurigaan sebagian orang akan eksistensinya hanya disebabkan karena ketidaktahuan, sesuai dengan ungkapan speaking is easy, komentar itu mudah, apalagi salah komentar.

B.      Pembelajaran Martabat Tujuh

Materi martabat tujuh diberikan setelah aqaid 50 selesai. Martabat tujuh dalam pengkajian Pelita Hati merupakan cara pintas untuk mencapai makrifatullah. Dengan memahami materi tersebut jamaah diharapkan untuk bisa menyadari sangkan paraning dumadi atau proses terbitnya alam fenomenal termasuk manusia dari ketersembunyiannya untuk selanjutnya dapat meniti kembali tahapan-tahapan berikutnya sehingga sampai kepada asalnya kembali. Manusia di dunia ini hanya sebentar, ungkapan Jawa mengatakan mung kanggo mampir ngombe. Apabila ia bisa menemukan jalan kembali ke asalnya tentu ia mencapai bahagia, tetapi bila tertutup pandangan mata hatinya oleh kepulan debu dunia niscaya ia akan bingung karena tersesat dan semakin lama pula untuk bisa mencapai rumah sejati dan kampung abadinya.

Ajaran martabat tujuh dalam kalangan sufi merupakan materi yang diperselisihkan. Ada pihak yang memperbolehkan, ada pula yang melarang untuk mempelajarinya. Pihak yang memperbolehkan beralasan bahwa meskipun martabat tujuh termasuk kajian tasawuf falsafi yang ajaran-ajarannya bercampur dengan sejumlah ajaran-ajaran filsafat di luar Islam, seperti dari Yunani, Persia, India dan agama Nasrani akan tetapi orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang, karena para tokohnya walaupun mempunyai latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beraneka ragam, sejalan dengan ekspansi Islam pada waktu itu, tetap berusaha menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, terutama bila dikaitkan dengan kedudukan mereka sebagai umat Islam. Pihak yang melarang beralasan bahwa nuansa falsafi ajaran martabat tujuh dengan objek bahasan yang melingkupinya seperti teori qutb, hakikat Muhammad, kesatuan wujud dan tanāsukh al-arwāh (reinkarnasi) adalah bertentangan dengan akidah Islam. Pihak yang memperbolehkan terdiri dari sufi yang juga filosof dan pihak yang melarang adalah kalangan fuqaha (para ahli fiqh).[9] Pengkajian Pelita Hati mengajarkan martabat tujuh karena materi itu juga disampaikan oleh guru-guru sebelumnya.

Dalam ajaran martabat tujuh disebutkan bahwa hanya ada satu zat, yaitu Zat Tuhan dan ada tiga tahapan batini dari tanazzulat, yaitu ahadiyah, wahdah dan wāhidiyah. Batas antara ahadiyah dan wāhidiyah disebut wahdah atau batas antara masa lalu dan masa mendatang. Wahdah adalah fajar diri di dalam diri, adapun wāhidiyah adalah fajar diri di dalam potensialitasnya. Wahdah merupakan realitas Muhammad dan dunia adalah manifestasi realitas tersebut.

‘Ālam al-arwāh (alam ruh universal) terbentuk dari asma kiyani ‘Aql kul yaitu wujud eksistensi pengetahuan Tuhan. Dalam bahasa syara’ ia disebut al-Qalam al-a’la (pena yang diagungkan). Seluruh jiwa-jiwa pribadi berisi ini dan semuanya merupakan penjelmaan dari satu jiwa yang disebut rūh a’zam (jiwa yang agung).[10]

‘Ālam misāl adalah pembatas antara dunia jiwa dan dunia penyebab. Misāl disebut dunia pemikiran verdical (pemikiran tanpa melalui aktivitas otak). Apa yang telah terjadi di dunia ini, pertama kali akan memperoleh bentuknya di sana. Dalam ‘ālam misāl, yang spiritual dimaterikan seperti kalam Allah yang bi lā harf wa lā saut (tanpa huruf dan suara) tetapi bisa dilihat sebagai lambang-lambang berupa huruf-huruf atau suara-suara yang bagi penerimanya (para nabi) dapat dipahami dengan jelas dan terang sehingga tidak ada keraguan apapun. Sebaliknya yang materi di-spiritual-kan atau dibersihkan dari debu-debu dunia dan ini bisa dicapai ketika manusia berhasil melakukan pembersihan diri (tazkiyah an-nafs).[11]

‘Ālam ajsām adalah alam fisik atau jasmani karena terdiri dari jasad dan tubuh, baik yang organik maupun inorganik, disebut pula alam elemental, karena terdiri dari berbagai unsur (elemen) seperti tanah, air, udara dan api.

Kata insān dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya uns, yang artinya cinta. Sedang yang lain memandangnya berasal dari nās, yang artinya pelupa, karena manusia hidup di dunia dimulai dari terlupa dan berakhir dengan terlupa. Yang lain lagi berkata bahwa asalnya adalah ‘ain san, “seperti mata”. Manusia adalah mata, dengan mana Tuhan menurunkan sifat dan asma-Nya secara terbatas. Insan kamil karenanya merupakan cermin yang memantulkan sifat dan asma Tuhan. Gulshan-i-Raz berkata

Adam ayina alam aks wa insan

Chu chasm-i-aks dar way shakhs pinhan

Tu chasm-i-ask-i-wa wa nur-i-did ast

Bi dida dida-i-ra dida did ast

Cermin, bukanlah sesuatu

dunia cerminan

dan manusia

adalah pantulan mata

Pribadi tak tampak

Engkau adalah mata nan memantulkan

Ia adalah sinar mata

Dengannya,

Mata-Nya memandang

Mata-Nya sendiri

Insan kamil adalah seseorang yang telah melaksanakan suluk (perjalanan pencarian) menuju Tuhan (sair fillah) dan mencapai titik hakikat Muhammad, sebuah titik yang berjarak dua busur, atau bahkan lebih dekat lagi.[12] Alquran surat an-Najm: 8 – 9 menjelaskan

ثُمَّ دَ نَا فَتَدَلَّى  (٨)  فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنَى  (٩)

Artinya:

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (Qs. An-Najm: 8 – 9)[13]

Dunia fisikal adalah perwujudan nama az-Zāhir. Sebagaimana dunia jiwa dan dunia misāl bersatu di dalam manusia, maka jasad alam semesta (dalam ukuran mini) juga ada di dalam tubuh manusia, yaitu:

1.      Kursi (tempat duduk), primum mobile, tengkorak

2.      Lingkungan kristal (cakrawala yang tak berbintang) adalah selaput di dalam tengkorak)

3.      Rasi bintang (cakrawala dari bintang-bintang tertentu)

a.      Kepala – domba (Aries)

b.      Leher – banteng (Taurus)

c.       Tangan – kembar (Gemini)

d.      Puting payudara – cancer

e.      Dada – singa (Leo)

f.        Hati – telinga biji-bijian (Virgo)

g.      Pusat (pusar) – timbangan (Libra)

h.      Bagian pribadi (khusus) – Scorpio

i.        Paha – busur (Sagitarius)

j.        Pinggul – domba jantan (Capricorn)

k.       Betis – kendi (Aquarius)

l.        Telapak kaki – ikan (Pisces)

4.      Saturnus – limpa kecil

5.      Jupiter – hati (liver)

6.      Mars – ginjal

7.      Matahari – paru-paru

8.      Venus – lambung

9.      Merkuri – otak

10.  Lingkaran api – empedu

11.  Lingkaran air – lendir

12.  Lingkaran udara – darah

13.  Lingkaran bumi – empedu hitam

14.  Mineral – gigi

15.  Sayuran – rambut dan kuku

16.  Binatang – nasfu

17.  Malaikat – Khatrah yang baik (afeksi dari pikiran)

18.  Jin – pikiran curiga

19.  Manusia – pikiran

20.  Manusia sempurna – perpaduan dari semua di atas

Di dalam tubuh manusia juga dinyatakan terkandung 360 jenis tulang yang melukiskan gunung-gunung, 360 arteri dan nadi yang melukiskan sungai dan arus. Perut adalah samudra yang dipenuhi binatang melata (reptile). Rambut di kulit adalah pepohonan, daging adalah pemakan daging (carnivora), burung-burung melukiskan spiritualitas. Wajah adalah daerah berpenghuni dan punggung adalah daerah kosong. Masa kanak-kanak adalah musim semi, masa muda adalah musim panas, usia tua adalah musim dingin dan usia pikun adalah musim gugur. Sehat dan makmur melukiskan surga dan kemiskinan adalah neraka. Lidah melukiskan Jibril, hidung adalah Israfil, tubuh adalah Mikail dan telinga adalah Izrail.[14]

Insan yaitu manusia dari keabadian di dalam pengetahuan asli dari Tuhan dan ia ada di sana, walau kini juga sebagaimana nanti (al-āna kamā kāna). Ia akan ada disana selamanya; bagi pengetahuan Tuhan yang abadi dan sebuah ruang kosong di dalamnya tak pernah terpikirkan, yang menjadi kasus apabila ia menghilang darinya.[15]

Kematian semata hanya menghilangkan sifat dari isim az-Zāhir, menuju isim al-Bātin. Tidur dan lupa merupakan kebalikan dari tahap permulaan dari ahadiyah, yang dalam tahap itu zat akan terserap pada dirinya. Tuhan, yang salah satu nama-Nya adalah al-Gani (Yang Maha Kaya, Yang Merdeka), menciptakan manusia melalui kehendak-Nya. Kehendak yang sama juga muncul pada putus asa, takut dan sedih. Oleh sebab itu, Tuhan amat kuat dan manusia amat lemah. Yang satu memiliki sifat Maha Meliputi segala dan lainnya merupakan kekosongan.[16]

C.      Lima Tiang Islam

Agama Islam ditegakkan dengan lima tiang utama yang disebut arkān al-Islām (rukun-rukun Islam), yaitu syahadatain, salat, puasa Ramadhan, zakat dan haji.

1.      Syahadatain

Syahadatain terdiri dari dua macam kesaksian. Pertama, syahadat tauhid, yaitu kesaksian tentang keesaan Tuhan dan kedua syahadat rasul yakni kesaksian tentang kerasulan Muhammad saw. Kedua, kesaksian tersebut senantiasa diucapkan dalam bentuk singular (asyhadu, aku bersaksi) karena menekankan pada pilihan dan tanggung jawab individual. Syahadatain mempunyai dua fungsi utama: sebagai pengakuan iman dan sebagai pembeda antara muslim dan bukan muslim.[17]

Dalam pengkajian Pelita Hati ditegaskan bahwa untuk bisa bersyahadat dengan benar seseorang harus terlebih dahulu memahami aqaid 50. Untuk bisa memberikan kesaksian tentu harus mengenal dulu dan pengenalan yang sempurna adalah dengan mengetahui af’āl, sifat, asma dan zat dari yang akan diketahui. Iman bukan sekedar ucapan di lisan, tetapi juga keyakinan dalam hati dan pembuktian melalui perbuatan.

2.      Salat

Tujuan nyata dan yang tampak dari salat adalah menjadikan diri yang bersangkutan agar lebih dekat dengan kebaikan. Tujuan yang batini dari salat adalah perjalanan seorang mukmin menuju ke atas (yang dimaksudkan adalah mendekat kepada Allah). Apabila seseorang memulai salatnya biasanya dimulai dengan mengucapkan

اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِىْ فَطَرَالسَّمَوَتِ وَالاََرْضِ حَنِيْفًامُّسْلِمًا وَّمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dan aku sesungguhnya bukan termasuk mereka yang menyekutukan Allah.

 

Pernyataan “aku hadapkan wajahku kepada Tuhan” menunjukkan titik tuju dari peribadatan. Syariat (tiada sesuatu yang pantas disembah melainkan Tuhan) terangkum dalam “yang telah menciptakan langit dan bumi.” Tujuan yang hendak dicapai adalah Tuhan. Sikap seperti ini disebut hanīfan. Kemudian ia berkata: “Kami bukanlah orang-orang musyrik”, artinya ia melihat bahwa hanya Tuhan saja yang ada dan bukan yang selain-Nya.[18]

Gerak tubuh dalam melaksanakan salat, dapat diibaratkan seperti peristiwa yang terjadi di hari pengadilan. Sosok tubuh mendatar ibarat binatang hina dina yang tengah menghadap tuannya. Ruku’ dan sujud menunjukkan kerendahan dengan menanggalkan semua cita rona keduniawian dan kedirian (individualitas), serta diciumnya debu di pintu Sang Maha Pencipta. Debu-debu tersebut diharapkannya dapat membilas segala dosa. Ketika si hamba duduk, maka ia harus menyatakan upeti apa yang tengah dibawanya. Maka ia kemudian berkata:

“Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebaikan hanyalah bagimu ya Allah, salam, rahmat, dan berkah-Nya semoga selalu untukmu wahai Nabi. Semoga salam selalu tetap bagi kami, seluruh hamba-hamba Allah yang saleh. Bahwa sesungguhnya tiada yang wajib disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Inilah gema pujian, yang seluruh ciptaan bersatu dengan orang yang melaksanakan salat dalam memuji kebesaran Tuhan.[19]

3.      Puasa Ramadan

Secara harfiah saum (puasa) adalah menjaga diri agar tetap dekat. Di dalam puasa manusia memperlihatkan kualitas malaikat yang tidak makan, minum dan menikah. Puasa wajib dilakukan di bulan Ramadan atau hari-hari lain (ayyām ukhar) karena ada uzur seperti sakit atau bagi musafir.

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًاوَاحْتِسَبًاغُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  (رواه ابو هريرة)

Artinya:

Dari Nabi saw., ia bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap rida Allah maka diampuni apa yang telah lewat dari dosanya.” (Hr. Abu Hurairah).[20]

4.      Zakat

Zakat menurut bahasa adalah tumbuh, berkah dan kebaikan yang banyak. Menurut hukum syara’ zakat adalah bagian harta tertentu yang diberikan kepada golongan tertentu dengan beberapa syarat.[21] Tuhan membagi-bagikan harta milik-Nya, sehingga abdi-Nya juga berkewajiban untuk membagi-bagikan harta yang dimilikinya sebagai cara untuk meniru apa yang telah dilakukan oleh-Nya. Dalam kenyataannya, zakat memang merupakan perwujudan dari salah satu sifat-Nya.[22]

5.      Haji

Secara harfiah haji berarti “tujuan”. Menurut hukum syara’ haji adalah menuju Bait untuk melakukan perbuatan-perbuatan.[23] Bentuk ibadah haji merupakan cara untuk tetap dapat menghayati metode ibadah dari Nabi Ibrahim. Di dalam berjalan mengelilingi ka’bah adalah manifestasi penelusuran asal usul sejati manusia. Jiwa yang terbungkus oleh adonan lempung akan terus naik menuju titik tertinggi. Mencium hajar aswad berarti membangkitkan kembali janji manusia kepada yang Maha Pencipta yang telah menciptakannya di hari perjanjian yaitu ketika masih di alam arwah berupa janji untuk tetap bertauhid kepada Tuhan. Mineral dari hajar aswad memiliki tiruannya di alam misāl. Sehingga suatu ka’bah rohaniah bertengger di balik ka’bah yang lahiriah. Wujud luhur ini disebut Bait al-Ma’mur yang ada di surga keempat.[24]

D.     Perjalanan Menuju Tuhan

Pada anak tangga tanazzulāt (penurunan realitas dari yang tertinggi ke yang terendah) manusia menempat posisi paling bawah. Tetapi ia menghimpun aspek-aspek spiritual dan fisikal dari seluruh realitas. Oleh karena itu manusia disebut miniatur jagad raya. Potensi manusia untuk menjadi insan kamil hendaknya terus dikembangkan, sehingga ia bisa memahami peta perjalanannya menuju Tuhan. Bagi para sufi Tuhan adalah Alfa dan Omega, asal dan tempat kembali segala realitas. Alquran surat al-Hadīd: 3 menjelaskan

هُوَ الاَوَّلُ وَالاَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ج وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

Artinya:

Dialah yang awal dan yang akhir yang zhahir dan yang bathin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.” (Qs. al-Hadīd: 3)[25]

Perjalanan menuju Tuhan harus melalui pintu kematian, karena manusia hakikatnya mati dan Dia yang maha hidup. Dalam kehidupan di dunia, banyak orang yang memikirkan kehidupan dan amat sedikt untuk memikirkan kematian. Mungkin karena membicarakan mati selalu tidak mengenakkan perasaan, bagaimana harus berpisah dan meninggalkan apa yang dicintainya, anak istri dan kekayaan, apalagi kalau hidupnya enak, rasanya ia ingin hidup abadi. Akan tetapi bagi orang yang hidupnya amat susah, seringkali terjerumus dalam rasa putus asa, sehingga mati dianggapnya sebagai jalan terakhir untuk melepaskan dan mengakhiri suatu penderitaan. Bagi iman yang cerdas datangnya kematian tidak pernah merisaukannya, karena melalui kematian ia akan naik kelas yang lebih tinggi. Kematian adalah terminal menuju Tuhan, dan ia sudah belajar menghadapinya berkali-kali dalam kehidupan kesehariannya di dunia melalui fenomena kematian-kematian kecil yang mulai menggerogoti satuan-satuan anggota tubuhnya, sejak mulai rontoknya rambut, tanggalnya gigi, berkurangnya penglihatan dan pendengaran, yang dapat menumbuhkan wawasan tajam batinnya untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.[26] Sebelum jasad mati seorang sufi biasanya sudah mematikan dirinya. Itu adalah maut aswad (kematian hitam) dengan mematikan rasa ketika disakiti orang lain, maut ahmar (kematian merah) dengan menentang keinginan jasmaniah, maut akhdar (kematian hijau) dengan hidup bersahaja dan maut abyad (kematian putih) dengan perut lapar untuk menyalakan sinar pengetahuan di dalam hati. Kematian jasmani adalah kematian tubuh, dimana ego (nafs natiqah) memperindah dirinya menuju alam misāl. Jalal ad-Din Rumi menyatakan

Pikiran tersembunyi di sini

namun dampaknya tetap nampak

dengan pikiran ini

sosok akan terbentuk di sana.[27]

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berjangka panjang dan jauh, ibarat perjalanan jauh memerlukan terminal-terminal baik untuk istirahat, membersihkan diri atau mengisi dan membawa bekal untuk perjalanan berikutnya. Dalam konteks sebuah perjalanan yang jauh, maka hari kiamat, kebangkitan, pengadilan, hukuman dan balasan baik surga ataupun neraka adalah bagian dari kehidupan akhirat itu sendiri.[28]

Pada hakikatnya kehidupan akhirat adalah perjalanan panjang menuju Tuhan, bukan perjalanan menuju surga atau menghindari neraka. Oleh karena itu ada seorang sufi yang di dua tangannya, yang satu membawa segenggam kayu bakar dan yang satunya lagi membawa sekendi air, ketika ditanya mengapa, ia mengatakan apinya untuk membakar surga dan airnya untuk memadamkan neraka, karena keduanya telah menyesatkan manusia dari kembali kepada Tuhan.[29]

Perjalanan panjang menuju Allah dalam kehidupan akhirat dilakukan manusia pada tahapan nafs, dan nafs pada hakikatnya adalah transendental, dari nafs yang terbatas menuju nafs yang tak terbatas. Memang pertemuan dua nafs tersebut sering terjadi dan berlangsung penuh kreatifitas, sebagai bagian dari pertemuan antara yang mewakili dan yang diwakili, yaitu diri manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, dan dengan datangnya kematian, maka tugasnya di muka bumi telah berakhir, sehingga nafs terbatas ingin menuju kepada nafs yang tak terbatas, menyerahkan kembali tugasnya secara formal.[30] Dia adalah sumber, dasar dan syarat bagi segala apapun di dunia ini. Demikian juga Dia adalah tempat kembali, ke mana segala yang ada tak terkecuali manusia pada akhirnya akan kembali.[31] Alquran surat al-Baqarah: 45 – 46 menjelaskan

وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِوَالصَّلوَةِ قلى وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلاَّعَلَى الْخَاشِعِيْنَ (٤٥) اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُلَقُوْا رَبِّهِمْ وَِاِنَّهُمْ اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (٤٦)

Artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah: 45 – 46).[32]

Alam yang telah terhampar luas dalam bentuk fisikal setelah sebelumnya mengalami transmutasi (peralihan wujud) tentu tidak akan berhenti final sampai di sini, tetapi akan terus bergerak dan mengalir menuju asalnya. Jalal ad-Din Rumi mengatakan bahwa evolusi alam ini tidak pernah terjadi kecuali melalui daya yang luar biasa yang bisa menggerakkan seluruh alam semesta. Daya tersebut adalah cinta, yaitu cinta alam pada Tuhan. Cintalah yang menyebabkan atom-atom berpadu atau berpisah. Cinta juga yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan tumbuh dan berkembang, yang menyebabkan hewan-hewan bergerak dan berkembang biak. Yang menarik di sini adalah bahwa gerak alam yang didorong oleh cinta Ilahi ini bukanlah gerak acak yang datar, melainkan gerak vertikal, gerak alam yang rendah menuju Tuhan yang paling tinggi. Alam adalah seperti laron-laron yang terbang berputar-putar untuk mencari sumber cahaya yang terang di atasnya. Evolusi terjadi dari tingkat benda yang rendah yaitu unsur-unsur, hingga yang tertinggi, yaitu manusia. “Kita”, kata Rumi, “pernah hidup di alam tumbuh-tumbuhan, kemudian mati. Kita tidak ingat lagi, kecuali ada rasa senang dalam memandang bunga-bunga di musim semi. Lalu kita muncul atau hidup sebagai hewan. Kemudian mati untuk hidup di alam manusia, setelah itu kita akan mati sebagai manusia dan akan muncul di dunia malaikat untuk seterusnya mengarungi alam yang tiada kata dapat melukiskannya.” Perjalanan itu akan diteruskan hingga pertemuan dengan Tuhan tercapai.[33]

Insan kamil adalah manusia yang telah menyadari asal usulnya. Ia tidak akan berhenti sampai di sini, tetapi terus melangkah menuju asal muasalnya, karena keberadaannya adalah manifestasi dari sifat-sifat dan nama Zat yang menjadi Realitas Mutlak. Sifat dan nama tentu akan kembali kepada pemiliknya yang dengan itu ia dapat dikenali. Dalam pagelaran wayang kulit diceritakan, meskipun Arjuna tubuhnya kecil tetapi bisa mengalahkan musuh-musuhnya karena digerakkan oleh dalang. Walaupun Arjuna sakti tetapi tidak dapat melihat dalangnya. Bila pertunjukan telah usai semua wayang masuk kotak, yang tinggal hanya sang dalang. Pagelaran wayang adalah gambaran kehidupan dunia yang penuh intrik, masalah dan gara-gara (pergulatan baik dan buruk), wayang yang diam dan geraknya dikendalikan oleh dalang melambangkan manusia. Sang dalang sebagai sutradara melambangkan Tuhan. Ia adalah inspirator, pengatur permainan dan penentu akhir cerita. Masuk kotak artinya kembali ke asalnya. Wayang dikeluarkan dari kotak dan akan kembali ke dalamnya. Demikian pula manusia berasal dari ilmu Tuhan di dalam diri-Nya, melalui evolusi menampak dalam homo sapiens yang hakikatnya spiritual tetapi dengan pengalaman fisikal. Ia bertipikal cengeng, mudah menangis dan selalu berkeluh kesah meskipun bergelimang harta, karena ia begitu jauh terlempar dari asalnya. Tangisnya bagai seruling yang terenggut dari pohon induknya, begitu kata Rumi. Tangisnya baru berhenti apabila ia menemukan kembali jalan menuju asalnya melalui suluk menembus alam fenomenal (martabat insān dan ajsām), alam imaginal (martabat misāl) dan alam spiritual (martabat arwāh, wāhidiyah, wahdah dan ahadiyah). Hal itu diibaratkan bagaikan anak kecil yang terjauh dari ibunya, ia menangis meraung-raung. Namun, begitu melihat ibu datang, ia riang bukan main. Alquran surat al-Balad: 6 menjelaskan

يَأَيُّهَا الاِنْسَانُ اِنَّك َكاَدِحٌ اِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَقِيْهِ

Artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Qs. al-Balad: 6)[34]

1.      Materi Dasar Kajian

Materi Dasar Pelita Hati mencakup kajian tauhid, zikir, suluk dan martabat tujuh. Setelah memahami dan mengamalkan materi pembelajaran, jamaah diharapkan bisa memahami jati diri sebagai langkah awal untuk mengenal Tuhan. Alquran surat az-Żāriyāt: 20 – 21 menjelaskan.

وَفِى اْلاَرْضِ اَيَتٌ لِلْمُوْقِنِيْنَ (20) وَفِىْ اَنْفُسِكُمْ قلى اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ (21)

Artinya:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (Qs. az-Żāriyāt: 20 – 21).[35]

a.      Kajian Tauhid

Tauhid adalah pernyataan iman seseorang kepada Tuhan yang tunggal, yang dinyatakannya dalam dataran lisan, pikiran, kalbu dan tindakannya, serta menyatu dalam berbagai aspek kehidupannya; baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan maupun agama.[36]

Kajian tauhid dalam Pelita Hati mengikuti akidah sunni menurut rumusan Abu Hasan al-Asy’arie. Kaum sunni meyakini bahwa Tuhan itu ada dan mempunyai sifat-sifat, yang pada garis besarnya dapat digolongkan kepada tiga sifat yaitu: jamal (keindahan), jalal (kebesaran) dan kamal (kesempurnaan). Setiap muslim yang balig dan berakal sehat, wajib mengetahui secara terperinci mengenai sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah, juga mengetahui sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi rasul. Sifat wajib bagi Allah ada 20 sifat, mustahil 20 sifat dan jaiz 1 sifat. Sifat wajib bagi rasul 4 sifat, mustahil 4 sifat dan jaiz 1 sifat. Karena seluruh sifat tersebut berjumlah 50, maka dalam kalangan santri disebut Aqa’id seket (rumusan keyakinan yang lima puluh).

Adapun rincian dari aqa’id 50 dapat diketahui dengan tabel di bawah ini.[37]

TABEL IV
SIFAT-SIFAT ALLAH

No

Wajib

Arti

Mustahil

Arti

1

Wujud Ada Adam Tidak ada

2

Qidam Dahulu Hudus Baru

3

Baqa’ Kekal Fana’ Musnah

4

Mukhalafah  li al-hawadisi Berbeda dengan yang baru Mumasalah li al-hawadisi Menyerupai dengan yang baru

5

Qiyamuhu bi nafsihi Berdiri sendiri Ikhtiyaj li gairih Berhajat kepada yang lain

6

Wahdaniyat Esa Ta’addud Berbilang

7

Qudrah Kuasa Ajz Lemah

8

Iradah Berkehendak Karahiyah Terpaksa

9

Ilmu Mengetahui Jahl Bodoh

10

Hayat Hidup Maut Mati

11

Sama’ Mendengar Shamam Tuli

12

Bashar Melihat ‘ama Buta

13

Kalam Berfirman Bukm Bisu

14

Qadiran Yang maha kuasa A’jizan Yang lemah

15

Muridan Yang maha berkehendak Mukrahan Yang terpaksa

16

Aliman Yang maha mengetahui Jahilan Yang bodoh

17

Hayan Yang maha hidup Mautan Yang mati

18

Sami’an Yang maha mendengar Asmam Yang tuli

19

Basiran Yang maha melihat A’maa Yang buta

20

Mutakalliman Yang maha berfirman Abkam Yang bisu

Sifat Jaiz Allah

فِعْلُ كُلِّ شَيْئٍ اَوْتَرْكُهُ

Mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya

TABEL V

SIFAT-SIFAT RASUL

No

Wajib

Arti

Mustahil

Arti

1

2

3

4

Shiddiq

Amanah

Tabligh

Fathanah

Benar

Dipercaya

Menyampaikan

Cerdas

Kidzb

Khianat

Kitman

Baladah

Dusta

Curang

Menyembunyikan

Dungu

Sifat Jaiz  Rasul

E.      وُقُوْعُ الاَعْرَاضِ الْبَشَرِيَّةِ الَّتِى لاَتُؤَدِّى اِلَى نَقْصٍ فِى مَرَاتِبِهِمِ الْعَلِيَّةِ

Melakukan tindakan kemanusiaan yang tidak mendatangkan cacat pada martabatnya yang tinggi

b.      Zikir

Zikir artinya mengingat (recollection). Adapun yang dimaksud di sini adalah mengingat Allah, Tuhan pencipta alam. Biasanya zikir dihubungkan dengan menyebut-nyebut nama Allah. Tetapi dalam artinya yang lebih umum, tindakan atau perbuatan apapun yang bisa mengingatkan kita kepada sang pencipta adalah zikir.[38]

Fungsi zikir dalam pengkajian Pelita Hati adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilā Allah). Apabila zikir yang dijalani benar-benar khusyuk, maka akan mencapai fanâ’ yaitu perasaan akan hilangnya segala obsesi selain Allah berupa berhala-berhala diri seperti keakuan, kekayaan, kedudukan, wanita dan lain-lain.

Zikir juga berfungsi sebagai terapi jiwa, karena manusia setiap saat terobsesi dengan kesenangan-kesenangan dunia sehingga jauh dari Allah. Belenggu nafsu dunia inilah yang sebenarnya telah menjadi sumber kerancuan mental berupa kegelisahan, stres, darah tinggi bahkan stroke. Alquran surat ar-Ra’d: 28 menjelaskan.

اَلَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ قلى اَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’d: 28).[39]

Zikir yang diajarkan dalam pengkajian Pelita Hati Kebagusan Pulo mencakup zikir nafi isbat, zikir ism zat, zikir isyārah dan zikir zauq (rasa).[40]

Zikir nafi isbat adalah zikir dengan menggunakan kalimah thayyibah لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ. Dalam zikir tersebut salik menafikan (meniadakan) kecenderungan, hasrat dan obsesi terhadap apa saja selain Allah berupa materi, kedudukan, prestise dan sebagainya disambung dengan mengisbatkan (menetapkan) Allah ke dalam hati disertai semangat menghentak.

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ فَأِنَّهَا تَهْدِمُ الذُّنُوْبَ هَدْمًا قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ فَأِنْ قَالَهَا فِى حَيَاتِهِ قَالَ هِيَ اَهْدَمُ وَاَهْدَمُ

Artinya: “Dari Nabi Saw, ia berkata: “Ajarkanlah orang-orang yang menjemput maut dari kamu dengan lâ ilâha illa Allah, sesungguhnya itu bisa meruntuhkan dosa-dosa dengan hebat. Para sahabat bertanya: “Bagaimana jika ia mengucapkannya ketika masih hidup?” Beliau menjawab: “itu lebih meruntuhkan dosa”.[41]

Zikir ism zat adalah zikir dengan menggunakan lafaz الله yang merupakan nama khusus untuk Zat Wajib al-Wujud (Wujud Mutlak). Setelah lisan lelah dan kelu mengucap lafaz maka gemanya tetap menghentak dalam hati. Walau mulut terdiam hati tetap berzikir tanpa kenal lelah. Karena dilanda rindu kepada Allah jadilah salik pecinta Allah, dan Allah tidak pernah menolak cinta hamba-Nya, Alquran surat al-Māidah: 54 menjelaskan.

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ قلى

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir…”(Qs. al-Māidah: 53).[42]

Zikir isyārah adalah zikir dengan mengucapkan hū yang berasal dari damīr هُوَ  yang diwaqafkan. Hū diucapkan dalam hati disertai tarikan nafas dan keluarnya nafas, diiringi dengan ucapan Allah. Hū merupakan taraqqi (naik) menuju Zat dengan keyakinan terjadinya “perjumpaan” ketika “tanazzul” (turun), Dia terasma dengan Allah disertai hembusan nafas. Ketika rentang nafas semakin dekat sampai seakan-akan tidak bernafas, maka sulit dibedakan antara “bayang” dan “yang punya bayang”, salikpun fanā’ dalam baqā’-Nya.

Zikir zauq (rasa) adalah berzikir dengan sepenuh hati dan rasa. Zikir rasa adalah kondisi puncak setelah salik mendaki melewati zikir lisan dan zikir qalb (hati). Berzikir hendaknya dirasakan karena “tanda adanya ruh adalah adanya rasa”. Karena ruh sudah mengenal Tuhan, maka dengan zikir rasa kitapun akan sampai kepada Tuhan. Alquran surat al-A’rāf: 172 menjelaskan.

وَاِذْاَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى اَدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَ هُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيَمَةِ اِنَّاكُنَّاعَنْ هَذاَغَافِلِيْنَ

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami), Kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini” (Keesaan Tuhan) (Qs. al-A’rāf: 172).[43]

c.       Suluk

Suluk adalah penempuhan jalan spiritual dengan tata laku dan disiplin diri yang ketat.[44] Pelaku suluk disebut salik. Dalam pengkajian Pelita Hati Kebagusan Pulo komponen suluk mencakup tahārah, kiblat, salat dāim, musyāhadah dan murāqabah.

Tahārah adalah bersuci baik lahir maupun batin. Suci lahir artinya suci dari hadats dan najis sebagaimana yang telah dibahas dalam kitab-kitab fikih. Suci batin adalah sucinya hati dari dosa-dosa batin seperti dengki, ‘ujb, dan syirik khafi. Niat bersuci batin adalah “yang disucikan Adam, yang menyucikan Muhammad, yang menerima Allah Yang Maha Suci.” Adam adalah jasad, Muhammad adalah ruh, Allah adalah nama Wujud Mutlak. Alquran surat al-Baqarah: 222 menjelaskan.

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Qs. al-Baqarah: 222).[45]

Kiblat adalah segala sesuatu yang dijadikan hadapan.[46] Karena diri kita terdiri dari tiga diri yaitu diri yang terdiri (jasad), diri yang terperi (ruh) dan diri yang sebenarnya diri (sirr), maka kita juga punya tiga kiblat. Kiblat jasad adalah ka’bah, kiblat ruh adalah rasa yang meliputi seluruh jasad dan kiblat sirr adalah titik pusat (dua jari di belakang pusar). Alquran surat al-Hadīd: 4 menjelaskan.

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ قلى وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya:

“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Hadīd: 4).[47]

Salat secara bahasa adalah “doa”. Menurut syara’ salat adalah sebutan dari segala ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbirah al-ihrām dan diakhiri dengan salam sesuai syarat-syarat tertentu.[48]

Salat dipandang dari intensitas waktunya terbagi dua macam, yaitu salat mauqut dan salat dāim. Salat mauqut adalah salat yang sudah ditentukan waktunya yaitu salat 5 waktu. Alquran surat an-Nisā’: 103 menjelaskan.

اِنَّ الصَّلَوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا

Artinya:

“…sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Qs. an-Nisā’: 103).[49]

Salat dāim adalah salat tanpa henti tanpa terikat aturan formal, kapan dan di mana saja karena salat dāim adalah nama lain dari zikir. Zikir hendaklah sering dilakukan, apalagi jika setiap saat berzikir, tentu salat yang didirikan benar-benar dāim (kontinyu). Adapun zikir yang dilaksanakan idealnya adalah zikir khafy dalam hati. Alquran surat Tāhā: 14 menjelaskan.

اِنَّنِيْ اَنَا اللهُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنَا فَاعْبُدْنِيْ وَاَقِمِ الصَّلَوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (Qs. Tāhā:14).[50]

Musyahadah adalah mendapat kilasan tanpa perantaraan objek. Artinya telah mampu menjauhkan objek dari pandangan dan kemudian mendapatkan kilasan (iluminasi).[51] Musyahadah adalah menyaksikan, yaitu mata hati kita melihat Allah, sedangkan ruh dari hati kita mengenal Allah. Tetapi melihat dengan mata hati bukan seperti melihat dengan mata kepala dengan batasan ruang dan waktu, dimensi, ukuran, arah, penjuru, gerak dan diam. Untuk dapat melihat Allah harus Di-lihat Allah dalam kondisi hamba fanā’. Dalam kefanaan hamba, mata hamba akan sirna, jasad dan keterbatasan hamba akan sirna, yang ada hanya Allah satu-satunya. Dan itulah yang disebut dengan wihdah asy-syuhūd atau kesatuan dalam penyaksian. Untuk mendekat kepada Allah minimal harus bertobat, bertaqwa, ikhlas, jujur dan thuma’ninah.[52]

Murāqabah secara harfiah artinya terawasi, atau bergantung dengan kepala di bawah. Ini diperlukan untuk membersihkan khatarat (segala sesuatu yang muncul di dalam pikiran manusia) dari kegandaan. Artinya untuk menjadikan mata jasmani dan mata hati (oculus cordis) menyatu dan sama. Apabila hal ini dilakukan sudah tidak diperlukan lagi untuk menutup mata jasmani. Apabila tidak atau belum, maka yang bersangkutan harus melakukannya, sehingga ia mampu melihat gambaran universal tentang Tuhan di dalam hatinya.[53] Menurut Al-Ghazali murāqabah adalah mengintai sasaran dan memfokuskan perhatian kepadanya. Murāqabah merupakan aktivitas hati dengan selalu menjaganya untuk mengintai, tenggelam dan fokus pada sasaran dengan kesadaran bahwa Allah mengetahui segala rahasia, mengintai amal hamba-Nya dan menguasai apa saja yang dilakukan hamba. Ada dua tingkatan murāqabah, pertama murāqabah al-muqarrabīn yaitu mengintai yang haq dengan keagungan dan keluhuran-Nya dan tidak melirik selain-Nya. Kedua murāqabah al-wara’īn yaitu mengintai yang haq dengan mata hati disertai keyakinan, tetapi aktivitas tetap dilakukan tanpa melalaikan pengintaiannya.[54]

d.      Martabat Tujuh

Martabat tujuh adalah peringkat-peringkat tajalli alam semesta termasuk manusia sebagai penampakan lahir Wujud Mutlak melalui tujuh tanazzul (penurunan).[55] Martabat tujuh dicetuskan oleh Muhammad ibn Fadl-i ‘L-lāh al-Burhānpuri (w. 1030 H/1620 M) di Gujarat India sebagai sistematisasi dari konsep insan kamil Ibn Arabi dan al-Jili dengan beberapa modifikasi. Konsep martabat tujuh di Indonesia dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani (w. 1630 M), Nuruddin ar-Raniri (w. 1658 M), Abdul Ra’uf as-Sinkili (w. 1693 M), Muhammad Yusuf al-Makasari (w. 1699 M), Abd as-Shamad al-Palimbani (w. 1785 M), Muhammad Nafis al-Banjari (w. 1735 M), Dawud al-Fatani (w. 1847 M) dan lain-lain.[56]

Tujuh martabat yang ada dalam teori martabat tujuh itu ialah: ahadiyah, wahdah (realitas Muhammad), wāhidiyah, ‘ālam al-arwāh (alam ruh universal), ‘ālam misāl (alam ruh individual), ‘ālam ajsām (alam jasmani), dan insān (manusia).[57] Martabat-martabat tanazzul belum menjadikan seseorang sebagai insan kamil, maka untuk mencapai peringkat demikian orang harus mengenal dan menghadap Tuhan secara benar dan sempurna. Hamzah Fansuri menyebutkan empat tahap perjalanan menuju Ilahi. Pertama perjalanan melalui ‘ālam nāsūt (alam manusia) yang identik dengan pengalaman amal lahiriah formal dan syariat. Kedua perjalanan melalui ‘ālam malakūt yaitu upaya ruhaniah dalam menuju Allah atau tarekat. Ketiga perjalanan melalui ‘ālam jabarūt yaitu pengenalan terhadap Tuhan secara sempurna atau hakikat. Keempat perjalanan melalui ‘ālam lāhūt yaitu pengenalan terhadap Tuhan secara langsung (makrifat) dan bahkan sirna (fanā’) dalam ketuhanan.[58]


[1] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahnya…, h. 702.

[2] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi at-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Bandung: Balai Pustaka, 1997, h. 86.

[3] Departemen Agama RI, op.cit., h. 886.

[4] Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, Jakarta: Paramadina, 1997, h. 196.

[5] Rs. Abdul Aziz, Konsepsi Ahlussunah wal-Jamaah, Pekalongan: Bahagia, 1990, h. 32.

[6] Khan Sahib Khaja Khan, Tasawuf Apa dan Bagaimana, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, h. 24.

[7] Departemen Agama RI, op.cit., h. 628.

[8] Ahmad Marzuki al-Makky, Aqidah al-Awam, Semarang: Toha Putra, tt, h. 6.

[9] Abu al-Wafa’ al-Ghanimi at-Taftazani, op.cit., h. 188.

[10] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 58.

[11] Mulyadhi Kartanegara, Menyelam Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006, h. 58.

[12] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 74.

[13] Departemen Agama RI, op.cit., h. 871.

[14] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 78.

[15] Ibid., h. 79.

[16] loc.cit.

[17] Djam’annuri, Agama Kita, Yogyakarta: LESFI, 2000, h. 123.

[18] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 117.

[19] Ibid., h. 119.

[20] Abu Abdillah Muhammad al-Bukhari, Sahih Bukhari Juz I, Semarang: Usaha Keluarga, tt, h. 325.

[21] Taqiy ad-Din Abu Bakar ad-Dimasyqy, Kifayah al-Akhyar, Bandung: Ma’arif, tt, h. 172.

[22] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 121.

[23] Taqiy ad-Din Abu Bakar ad-Dimasyqy, op.cit., h. 218.

[24] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 124.

[25] Departemen Agama RI, op.cit., h. 900.

[26] Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 2002, h. 247.

[27] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 101.

[28] Musa Asy’arie, op.cit., h. 264.

[29] loc.cit.

[30] Ibid., h. 266.

[31] Mulyadhi Kartanegara, op.cit., h. 275.

[32] Departemen Agama RI, op.cit., h. 16.

[33] Mulyadhi Kartanegara, op.cit., h. 69.

[34] Departemen Agama RI, op.cit., h. 1040.

[35] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahnya…, h. 859.

[36] Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 2002, h. 182.

[37] Dokumen Resmi Materi Pembelajaran Pengkajian Pelita Hati Kebagusan Pulo, dikutip tanggal 12 Juli 2010.

[38] Mulyadi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006, h. 252.

[39] Departemen Agama RI, op.cit., h. 373.

[40] Dokumen resmi materi pembelajaran pengkajian Pelita Hati Kebagusan Pulo, dikutip tanggal 12 Juli 2010.

[41] Abu al-Lais as-Samarqandi, Tanbih al-Gafilin, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt, h. 150.

[42] Departemen Agama RI, op.cit., h. 169.

[43] Ibid., h. 250.

[44] Dokumen resmi materi pembelajaran pengkajian Pelita Hati Kebagusan Pulo, dikutip tanggal 12 Juli 2010.

[45] Departemen Agama RI, op.cit., h. 54.

[46] Louis Ma’luf, al-Munjid, Beirut: Dar al-Masyriq, 1986, h. 607.

[47] Departemen Agama RI, op.cit., h. 900.

[48] Taqiy ad-Din ad-Dimasyqy, Kifāyah al-Akhyār, Bandung: Ma’arif, tt, h. 82.

[49] Ibid., h. 103.

[50] Ibid., h. 477.

[51] Khan Sahib Khaja Khan, Tasawuf Apa dan Bagaimana, Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 1996, h. 222.

[52] Majalah Sufi, Ed 24, Agustus 2003/Jumadil Akhir 1424, h. 29.

[53] Khan Sahib Khaja Khan, op.cit., h. 221.

[54] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulumudin Juz IV, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt, h. 287.

[55] Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, Jakarta: Paramadina, 1997, h. 187.

[56] Ibid., 182.

[57] Yunasril Ali, loc.cit.

[58] Ibid., h. 186.

** Penulis adalah anggota pengkajian pelita hati, beliau menyelesaikan pendidikan S1 dengan penelitian tentang pengkajian pelita hati

About these ads

Responses

  1. terima ksh atas pembahasan nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: